Loading...

Tuesday, September 21, 2021

Hindari Praktik Predatory Pricing, Regulasi Market Online Diperlukan

Marketplus.co.idTeknologi memiliki beragam platform yang kini bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin asal kita mau bergerak. Internet dan media sosial memiliki potensi untuk menghubungkan banyak otang dengan mudahnya. Banyak sekali yang bisa dilakukan dari media sosial salah satunya dalam dunia bisnis.

Tak hanya mencakup wilayah local tapi perdagangan ini bisa merambah ke negara lain lewat internet. Banyak UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) kini bermunculan dan sukses menembus pasar internasional.

“Salah satu yang penggunaannya tinggi di internet adalah media sosial. Medsos ini penting karena konsumen beraktivitas di sana, mudah berinteraksi dengan konsumen, meningkatkan visibilitas merek, dan wabah word of mouth terluas ya di media sosial ini. Maka kita harus benar-benar cakap,” ujar Nurul Hidayati, S.S.,S.Sos.,MAP, Digital Enterpreneur & Charakter Building at Goshi, dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, Senin (14/6/2021).

Media sosial begitu beragam, menurut Nurul masing-masing bisa menjangkau target market dan konsumen yang berbeda. Hal ini tentu membantu targeting dan retargeting konsumen. Kelebihannya lagi, penggunaan biaya pemasaran juga biaya akomodasi lebih efektif.

Namun sebagai pelaku usaha pun kita harus berhati-hati. Seperti diceritakan Nurul ada sebuah kasus yang terjadi sekitar tahun 2018. Ada perusahaan jilbab yang telah beroperasi selama 2 tahun dengan pekerja mencapai 3 ribu orang dan ongkos gaji pertahunnya sekitar Rp 10 miliar. Merek jilbab tersebut sangat digandrungi saat itu.

Namun artificial intelligent platform digital dari luar negeri menangkap aktivitas jual beli tersebut. Platform tersebut berhasil merekam bentuk, warna dan harga hijab yang dijual pedagang Indonesia. Yang terjadi adalah pihak asing menawarkan produk yang sama dengan harga jauh lebih murah. Akhirnya Permendag Nomor. 50 Tahun 2020 dikeluarkan. Bukan untuk melarang barang impor, tapi mempersilahkan impor barang online dengan mengikuti cara impor seperti penjualan secara offline agar tidak terjadi praktik predatory pricing.

“Dengan adanya kasus tersebut, pemerintah membuat regulasi agar bisa melindungi UMKM. Karena UMKM kita masih bisa provide kenapa harus import. Sementara kalau pasar kuliner, Indonesia kaya. Mau dijiplak seperti apa juga pihak luar pasti akan kesulitan meniru cita rasa khas Indonesia. Jadi tetap kreatif, orisinil dan cintai produk Indonesia itu juga penting,” jelasnya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital ini merupakan gagasan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama Siberkreasi.  Pembicara lain dalam webinar di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Senin (14/6/2021) ialah Ayrton Eduardo Aryaprabawa, S.S (Founder & Director Crevolutionz)

Rinda Astuti,SE (Exporter at PT Saundra Bintang Agrindo), Ir. Galih Wasis Wicaksono, S.Kom.,M.Cs (Dosen Sekretaris Program Studi Univ. Muhammadiyah Malang), dan Key Opinion Leader, Feri Agusyadi.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada tahun 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *