Loading...

Tuesday, September 21, 2021

Budaya Digital di Indonesia Masih Rendah

Marketplus.co.idKemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di era digital terus berkembang dan banyak mendapatkan perhatian dari publik khususnya masyarakat modern. Hampir seluruh aktivitas masyarakat saat ini banyak bergantung pada kemajuan teknologi yang menghadirkan berbagai kemudahan dalam mengakses informasi secara cepat dan luas.

Maka tidak dipungkiri jika internet dan new media menjadi bagian terpenting dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu media yang sering menjadi wadah atau tempat favorite bagi masyarakat modern dalam menjalin interaksi virtual adalah media sosial.

Hadirnya media sosial di era digital menjadi angin segar tersendiri bagi mereka khususnya kalangan anak muda dalam mengekspresikan diri di ruang publik tanpa adanya rasa takut dan tekanan dari orang sekitar. Media sosial saat ini sudah menjadi tempat umum bagi sebagian orang untuk mengungkapkan perasaan mereka secara bebas melalui kata-kata yang ditulis atau diucapkan di media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram hingga Tiktok.

Selain itu kemudahan media sosial sebagai saluran komunikasi di era digital juga telah membawa banyak dampak perubahan besar pada pola interaksi masyarakat yang kini terkesan sangat bebas dan lepas kontrol. Para pengguna media sosial saat ini memiliki kecenderungan untuk membagikan apa saja di jagat maya tanpa memperhatikan etika komunikasi apakah pesan yang dibagikan dapat menimbulkan dampak postif maupun negatif.

Sering kali kita menemukan konflik yang terjadi di media sosial akibat krisis etika berkomunikasi oleh masyarakat saat membagikan atau menuliskan komentar tertentu pada suatu isu yang sedang berkembang di jagat maya. Tak jarang kata-kata dan tulisan yang bernada kebencian, caci maki, penghinaan hingga cyber bullying kerap kali ditemukan pada berbagai isu krusial seperti masalah politik hingga masalah Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA) yang dikirimkan oleh pengguna media sosial secara bebas dan tak terkendali.

Dalam survei Digital Civility Index (DCI) untuk mengukur tingkat kesopanan digital global, Indonesia menduduki peringkat paling bawah di kawasan Asia Tenggara. Dari total 32 negara yang disurvei pun Indonesia menduduki peringkat bawah yakni urutan ke-29.

“Melihat data itu, cukup mengagetkan. Karena Indonesia sebagai negara ramah, tapi memperoleh peringkat bawah dengan tingkat kesopanan di dunia digital. Untuk itu, ada baiknya kita semua manusia bahkan sekalipun saat berada di dunia digital, jadi ikutilah aturan seperti dalam kehidupan nyata, pengguna internet berasal dari bermacam negara yang memiliki perbedaan bahasa, budaya dan adat istiadat, dan berbagai fitur dalam Internet memungkinkan kita berlaku etis atau tidak etis,” kata Septiaji Eko Nugroho, Ketua Presidium Mafindo, dalam sesi webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Rabu (9/6/2021).

Presiden Joko Widodo dalam sambutannya saat meluncurkan Gerakan Nasional Literasi Digital mengungkapkan, kecakapan digital harus ditingkatkan dalam masyarakat agar mampu menampilkan konten kreatif mendidik yang menyejukkan dan menyerukan perdamaian.

“Sebab, tantangan di ruang digital semakin besar seperti konten-konten negatif, kejahatan penipuan daring, perjudian, eksploitasi seksual pada anak, ujaran kebencian, radikalisme berbasis digital,” ujar Presiden Joko Widodo.

 

Selain Septiaji Eko Nugroho, Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital Nasional 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital wilayah Kabupaten Blitar, Jawa Timur yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama Siberkreasi, ini juga menghadirkan pembicara lain seperti Giri lukmanto (Peneliti Mafindo), Rita Gani (Mafindo, Japelidi, Fikom Unisba), Fakrullah Maulana (Pengurus Pusat RTIK Indonesia) dan Key Opinion Leader (KOL) Putri Yulianti.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia Kegiatan ini diprakarsai Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (Kemkominfo RI) bersama Sinerkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *