Loading...

Tuesday, September 21, 2021

Kenali Gaming Disorder Sebagai Penyakit Baru di Ranah Digital

Marketplus.co.idKementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi menggelar acara webinar Literasi Digital untuk wilayah Jawa Timur tepatnya di Kabupaten Trenggalek, Selasa (8/6/2021).

Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif sehingga dapat meningkatkan kemampuan kognitif-nya untuk mengidentifikasi hoaks serta mencegah terpapar dampak negatif penggunaan internet.

Presiden Joko Widodo dalam sambutannya saat meluncurkan Gerakan Nasional Literasi Digital mengungkapkan, kecakapan digital harus ditingkatkan dalam masyarakat agar mampu menampilkan konten kreatif mendidik yang menyejukkan dan menyerukan perdamaian.

“Sebab, tantangan di ruang digital semakin besar seperti konten-konten negatif, kejahatan penipuan daring, perjudian, eksploitasi seksual pada anak, ujaran kebencian, radikalisme berbasis digital,” ujar Presiden Joko Widodo.

Pada kesempatan ini, Ahmad Taufiq Jamaludin, Sekretaris Relawan TIK Provinsi Banten, menjelaskan budaya digital mau tidak mau, suka tidak suka, semua harus melakukan transformasi, dengan adaptasi kebiasaan baru, lekat dengan teknologi digital.

“Semua segmen usia harus lebih terbuka terhadap teknologi digital, belajar lagi cara dan etika dalam penggunaannya, dan menambahkan sumber daya digital sebagai salah satu kebutuhan pokok primer atau sekunder dalam kehidupan sehari-hari,” paparnya.

Namun dengan perkembangan teknologi, membuat, banyak masyarakat kecanduan internet, terutama saat masa pandemi Covid-19 ketika interaksi sangat dibatasi. Ahmad menjelaskan, kecanduan adalah sebuah sikap kejangkitan atas suatu kegemaran (hingga lupa hal-hal yang lain). seperti kecanduan media sosial, kecanduan belanja online, dan kecanduan game online.

“Tahun 2018 WHO menetapkan kecanduan game (gaming disorder) masuk klasifikasi penyakit internasional pada bagian gangguan ketergantungan. Data lain menurut Hootsuite, peringkat durasi penggunaan internet terlama (5 besar) dunia dan kelompok usia yang rentan terpapar kecanduan internet (5-18 tahun), sebanyak 31.4% anak dan remaja di Jakarta (2019) mengalami kecanduan internet. Sumber Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa Universitas Indonesia,” terangnya.

Lanjut Ahmad, guna menghindari kecanduan internet, bangun budaya positif, karena teknologi digital yang produktif mampu mendapatkan dan memberikan manfaat yang maksimal dari penggunaan teknologi digital untuk diri sendiri dan orang lain.

Rifky Indrawan, Ketua Relawan TIK Lampung dan Web Developer, menambahkan, saat era di digital ini, pemanfaatan gadget untuk kerja sangat tepat. Karena efektif & efisien, produktivitas, tanpa batas ruang, dan menghindari pandemi. Selain itu, gadget bisa digunakan untuk bekerja karena tersedia beragam aplikasi banyak & gratis, multifungsi, online setiap saat, dan juga gadget ini sudah seperti layaknya PC/Laptop.

“Saat bekerja dengan menggunakan gadget ada baiknya melakukan beberapa hal seperti koneksi internet pada ponsel, ruang penyimpanan data pada ponsel, koneksi antara ponsel dengan hardware, dan hal penting itu adalah penyesuaian media kerja. biasanya menggunakan laptop atau PC sekarang jadi lebih kecil seperti ponsel untuk itu perlu penyesuaian saat bekerja,” paparnya.

Selain Rifky Indrawan dan Ahmad Taufiq Jamaludin, Webinar Literasi Digital Nasional 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital wilayah Kabupaten Tenggalek, Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama Siberkreasi, ini juga menghadirkan pembicara lain seperti Vhie Saliendra (Podcaster) yang membawa digital safety, dan juga Adi Syafitrah (Pemeriksa Fakta Mafindo) dengan tema hoaks dan antisipasinya.

Gerakan Literasi Digital Nasional 2021 merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia Kegiatan ini diprakarsai Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (Kemkominfo RI) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada tahun 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *