Loading...

Monday, June 14, 2021

Pelajari Undang-Undangnya Agar Tak Tersandung  Hukum di Dunia Digital

lidi

Marketplus.co.idPerkembangan teknologi yang begitu pesat membuat kecepatan perubahan cara mengonsumsi media pun sangat cepat. Teknologi memungkinkan cara-cara baru untuk berinteraksi dengan media. Saking cepatnya, sepertinya sulit untuk menebak apa yang akan terjadi. Kendati demikian tren saat ini bisa dilihat dan setidaknya data tersebut bisa dijadikan acuan untuk memprediksi masa depan dari karier seseorang. Banyak peluang karier baru tercipta lewat dunia digital.

Dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (3/6/2021), Ziadatul Hikmiah M.SC, dosen psikolog Universitas Brawijaya mengatakan pergerakan ke dunia digital ini sangatlah masif. Bahkan orang saat ini menginvestasikan semua ke dunia digital.

“Namun tetap diingat, investasi paling baik adalah investasi pada diri sendiri. Yang berupa pengetahuan. Apabila teman-teman masih galau dan mikir, maka inilah saat yang tepat untuk menggali ilmu dan mencari informasi melalui les-les atau kursus digital,” ujar Ziadatul.

Seperti prinsip ekonomi, kita harus mengurangi risiko seminimal mungkin untuk dapat keuntungan semaksimal mungkin. Pandemi Covid-19 yang memaksa kita sulit bepergian bisa diatasi dengan kelas-kelas online.

Seperti rangkaian Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital
yang digagas Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerjasama dengan Siberkreasi. Ada empat pilar digital yang ditekankan yaitu kemampuan digital, budaya digital, etika digital dan keamanan digital.

Sholahuddin Al-Fatih SH.,MH dosen fakultas hukum Universitas Muhammadiyah Malang mengatakan dua pertiga masyarakat Indonesia lebih banyak berinteraksi di sosial media. Sementara anak muda setidaknya memiliki sekitar 7 aplikasi sosmed untuk dianggap keren. Namun para pengguna ini harus berhati-hati dalam menggunakannya karena dunia digital memiliki undang-undang khusus. Lalu bagaimana agar terhindar dari hukum dunia digital?

“Bijak berinteraksi. Sebelum kita post dan komentari, kita cek dulu ini melanggar hukum, agama, kesopanan dan kesusilaan. Tapi klau dirasa ini melanggar ya jangan post, jika tidak ada UU ITE nanti kena UU lain. Kita harus memahami literasi digital yaitu cek validitas, list konten, batasi tayangan, menjadi pribadi pendengar,” jelas Sholahuddin.

Sementara Ayrton Eduardo Aryaprabawa, S.S. Founder dan Direktur Crevolutionz dalam presentasinya mengatakan berdasarkan sumber katadata.co.id pandemi menyebabkan 63.9% UMKM terdampak penurunan omzet lebih  dari 30%. Hanya 3.8% UMKM yang mengalami peningkatan omzet. Hal ini terjadi karena perilaku belanja masyarakat berubah. Mereka menghabiskan uang terbatas hanya untuk hal-hal primer. Namun kini peluang bisnis terbuka lebar di dunia digital.

“Ada beberapa langkah yang harus dilakukan. Pertama riset dan aset digital (web, sosmed, google bisnis). Kedua buat promosi digital dengan strategi efektif dan distribusikan. Ketiga perbaiki layanan , seperti melayani lebih cepat dan komunikasi berkualitas,” terang Ayrton.

Wayan Firdaus Mahmudy, Ph.D Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya juga bergabung dalam webinar untuk memberikan pelatihan dasar digital.

“Komunikasi digital masih sangat minim. Padahal etika dan sopan santun dunia nyata harusnya sama ketika seperti di offline. Kita benar-benar harus memilah informasi, transaksi dan pemecahan masalah,” jelasnya.

Wayan mencontohkan ia pernah mendapatkan email tugas dari mahasiswanya yang tanpa subject dan kata sapaan, melainkan hanya attachment tugas saja. Hal itu menurutnya sangat mengganggu. Seperti layaknya ketika bertemu langsung, sewajarnya mahasiswa menyapa dan menyampaikan maksud yang jelas dalam email tersebut. Anak muda dapat teknologi tanpa literasi digital yang jelas akan merugikan diri sendiri dan bahkan banyak orang.

“Era digital tidak bisa ditolak tapi bagaimaan bijak menggaris bawahi dari berapa banyak kelebihan yang kita dapat dan sedikit dampak negatif untuk kita,” ujar Bella Suratmono selaku influencer yang bergabung dalam webinar.

Contoh sederhana teknologi memudahkan yaitu ojek online. Dulu kalau mau makan harus harus pergi keluar rumah, beli dan antri dulu. Namun sekarang tinggal pesan datang dan datang. Namun Bella mengungkapkan hal ini meningkatkan data penduduk yang terkena obesitas. Mudahnya teknologi membuat orang kurang kontrol diri.

Diharapkan ranah digital ke depannya akan bisa dimanfaatkan dengan maksimal tanpa menimbulkan efek negatif. Maka dari itu diperlukan literasi digital yang berkesimbungan, karena ranah digital dari waktu ke waktu terus berkembang.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *