Loading...

Monday, June 14, 2021

Inilah Etika Beraktivitas di Dunia Maya

kominfo

Marketplus.co.idTantangan di ruang digital semakin besar seperti konten-konten negatif, kejahatan penipuan daring, perjudian, eksploitasi seksual pada anak, ujaran kebencian, radikalisme berbasis digital dan banyak lainnya.

Persatuan dan kesatuan bangsa dengan melakukan literasi digital harus terus dilakukan. Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerjasama dengan Siberkreasi mengadakan Webinar Literasi Digital untuk wilayah Jawa Barat, Sabtu (29/5).

Webinar ini menggali lebih dalam soal kewaspadaan yang harus selalu dilakukan saat beraktivitas di dunia maya, etika digital, budaya digital hingga kesempatan berkarya di dunia digital.

Menurut Lestari Nurhajati, Vice Rector IV for Innovation and Business LSPR Communication and Business Institue, keamanan dalam bermedia digital yang utama ialah menjaga identitas digital kita. Masyarakat harus memahami mana indentitas pribadi yang terlihat dan tidak terlihat. Begitu juga dengan data diri, mana data umum dan mana yang khusus sehingga tidak perlu dibagikan di dunia digital.

“Jangan pernah menggunggah foto KTP sebab dapat disalahgunakan. Kode OTP, pin juga two factor Authentication di platform e-commerce hanya kita sendiri yang tahu tidak untuk diberitahukan kepada orang lain,” ungkapnya.

Kejahatan digital lainnya ialah pembobolan data, ini termasuk di luar dari kesalahan pengguna seperti yang pernah terjadi pada pelanggan Tokopedia dan baru-baru ini data masyarakat Indonesia yang mengikuti BPJS Kesehatan konon diperjualbelikan di situs online. Pengambilan data ini juga bisa berasal dari kesalahan kita seperti membuka link sembarangan, seperti voucher juga panggilan spam.

Masyarakat harus disadari dengan adanya jejak digital. Jejak digital dapat pembawa sial di masa depan. Lestari menyebutkan, jejak digital seperti pesan teks dalam aplikasi chatting sekalipun sudah dihapus, foto dan video yang dibuat sendiri maupun yang ditandai oleh orang lain. Interaksi di berbagai media sosial seperti komentar, like berupa jempol atau love akan selalu menjadi jejak digital kita di dunia maya. “Selalu berkomentar positif menjadi kewajiban kita agar kita dapat mengetahui seperti apa kita di hari ini secara daring dalam 10 tahun ke depan,” ungkapnya.

Pegiat Literasi Digital, Moch Latif Haidah menyebut salah satu hal yang harus dilakukan para pengguna internet di Indonesia ialah bagaimana mereka harus berinteraksi dengan tetap menegakkan sopan santun.

“Masyarakat merasa dapat berkomentar apapun karena tidak bertatap muka secara langsung padahal ada jejak digital yang tidak akan hilang sampai kapanpun,” ungkapnya.

Kesopanan online itu diartikan kesopanan yang dilakukan saat sedang berada dalam dunia digital dalam hal memposting sesuatu, berinteraksi dengan sesama pengguna hingga aktivitas jual beli. Netizen Indonesia sudah dikenal sebagai netizen paling tidak sopan di dunia.

Sebab, menurut Latif, netizen Indonesia tidak akan segan-segan untuk berkomentar langsung di akun media sosial pihak yang sudah mengecewakan mereka. Sebut saja seperti akun Instagram Badmintin World Federation (BWF) saat tim Indonesia didiskualifikasi saat ajang All England atau pecatur dunia Gothamcess.

Latif mengatakan, masyarakat jangan mudah tersulut dan bereaksi ketika ada sesuatu yang viral. Agar menjadi warga net yang sopan, masyarakat harus paham tipe media sosial, harus memiliki pelindung anti hoax dan beretika saat berinteraksi. Agar tidak cepat tersulut jika ada sesuatu yang viral maka masyarakat harus mewaspadai judul yang provokatif. “Jangan langsung bereaksi, judul bisa saja hanya agar kita meng-klik berita mereka. Jangan lupa untuk teliti cek alamat situs, karena bisa saja hanya beda satu huruf, dan juga kebenaran berita. Terpenting pastikan berita yang dibagi merupakan fakta bukan hoax,” jelasnya.

Sama seperti di kehidupan nyata dalam berinteraksi di media digital juga sepatutnya menggunakan kata-kata yang sopan. Seperti mengucapkan salam, mengetahui siapa lawan bicara dan memahami konteks yang dibicarakan. Latif berpesan, mari berkomentar seperlunya jangan menghakimi semaunya.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *