August 15, 2020
Articles

Philips; Hampir Setengah Orang di Dunia Kurang Tidur

Marketplus.co.id – Royal Philips baru-baru ini mengumumkan hasil survei tidur tahunan yang ke-5, bertajuk “Wake Up Call: Tren Kepuasan Tidur Global”. Philips melakukan survei kepada lebih dari 13.000 orang dewasa di 13 negara untuk mengetahui pola, persepsi, dan perilaku seputar tidur. Survei tahun ini menunjukkan bahwa di tingkat global, kepuasan tidur masih rendah, dipengaruhi faktor utama seperti kekhawatiran atau stres dan penggunaan ponsel.

Situasi ini mengkhawatirkan bagi orang dewasa di negara-negara Asia-Pasifi (APAC) yang disurvei, hal ini disebabkan oleh tingkat kepuasan tidur yang masih rendah. Hampir setengah (47%) merasa tidak puas dengan tidurnya, dan 1 dari 3 (35%) percaya bahwa mereka tidak memiliki kendali untuk mendapatkan tidur yang cukup.

Kualitas tidur yang buruk terlihat dari kegelisahan, dan 8 dari 10 orang dewasa di APAC (79%) bangun setidaknya sekali di malam hari. Hanya setengah yang mengerti penyebab mereka tidak mendapatkan tidur berkualitas di malam hari (60%), atau cara mengatasi kesulitan tidur (58%).

Melihat faktor penghambat tidur, rasa khawatir dan stres tetap menempati posisi teratas (29%), bersama dengan lingkungan tidur yang berisik, cahaya dan temperatur (15%), perangkat seluler seperti ponsel atau tablet (13%), dan kondisi kesehatan seperti rasa sakit dan kesulitan bernafas (9%).

Kecanduan ponsel menyebabkan susah tidur

Lebih dari setengah pelanggan seluler di dunia tinggal di wilayah APAC. Maka, tidak mengejutkan bahwa mayoritas orang dewasa peserta survei di wilayah APAC (83%) menggunakan ponselnya di tempat tidur, padahal ini tidak direkomendasikan oleh ahli kesehatan.

Setengah dari responden APAC (49%) menyatakan bahwa hal terakhir yang mereka lakukan sebelum tidur adalah melihat ponsel mereka. Angka ini lebih tinggi dari angka global sebesar 39%. Sementara itu, 46% dari orang dewasa di wilayah APAC juga langsung mengecek ponsel mereka setelah bangun pagi (vs angka 39% global). Sekitar 15% bahkan merespons teks dan panggilan yang membangunkan mereka di malam hari, yang tentunya mencegah mereka untuk tidur nyenyak tanpa gangguan.

Halangan dalam mendapatkan pengobatan atau diagnosis

Survei global Philips menemukan bahwa kurangnya pemahaman menjadi penghalang bagi orang-orang untuk mendapatkan diagnosis gangguan tidur seperti Obstructive Sleep Apnea (OSA). Lebih dari seperempat (29%) orang dewasa di APAC percaya bahwa mereka berisiko terkena OSA, namun 26% takut mengambil tes tidur karena mereka tidak ingin tahu apakah mereka memiliki OSA atau tidak.

Obstructive Sleep Apnea (OSA) merupakan kondisi yang jarang didiskusikan serta sering kali tidak terdeteksi. Penyakit ini ditandai dengan interupsi ulang dalam bernafas selama siklus tidur. Hal ini mencegah oksigen ke paru-paru. Gejala dari OSA termasuk tersedak atau terengah-engah saat tidur, mendengkur keras dan terus-menerus, kelelahan berlebihan dan konsentrasi yang buruk di siang hari.

Di Indonesia belum ada data formal mengenai gangguan tidur. Namun, dokter ahli syaraf dan praktisi kesehatan tidur, dr. Rimawati Tedjasukmana yang juga merupakan pendiri dan delegasi dari Indonesia Society of Sleep Medicine (INA-Sleep) mengatakan bahwa terjadi kenaikan jumlah pasien yang mengalami gangguan tidur.

“Kurangnya tidur berkualitas dapat menyebabkan penurunan kinerja, sakit kepala, gangguan ingatan, penyakit jantung dan pembuluh darah, gangguan sistem kekebalan tubuh, hingga demensia,” dr. Rimawati menjelaskan. “Sayangnya, banyak dari pasien yang tidak terlalu mempedulikan kualitas tidur sampai mereka akhirnya mengalami masalah.”

Dr. Rimawati juga menjelaskan bahwa Obstructive Sleep Apnea (OSA), yang salah satu gejalanya adalah mendengkur, merupakan gangguan tidur yang paling banyak diderita pasiennya. Berdasarkan penelitian yang ia lakukan di tahun 2013-2015, prevalensi OSA di Jakarta mencapai 16-17%. Meski banyak dari pasien yang bersedia menjalani perawatan, tetapi ada sebagian yang menolaknya.

“Beberapa pasien merasa tidak tahan menggunakan mesin CPAP (continuous positive airway pressure), terlalu merepotkan katanya. Kemudian, ada juga yang takut mendapatkan stigma orang sakit berat. Hal ini sangat disayangkan mengingat konsekuensi dari kurangnya tidur berkualitas pada beberapa kasus bisa menjadi gawat,” imbuh dr. Rimawati. “Kita butuh lebih banyak kesempatan untuk mensosialisasikan pentingnya mendapatkan tidur berkualitas.”

Meskipun faktor-faktor eksternal dapat diubah untuk meningkatkan kualitas tidur, terdapat beberapa kondisi yang berada di luar kontrol manusia. Tahun ini, laporan responden menunjukkan penurunan angka insomnia, mendengkur, gangguan tidur karena jadwal kerja serta sakit kronis. Namun angka sleep apnea tetap konsisten seperti tahun sebelumnya (2019: 10% vs 2020: 9%). Dari semua responden yang menyatakan menderita sleep apnea, 51% mengatakan bahwa sleep apnea mempengaruhi hubungan mereka dengan orang lain. Tetapi 48% orang dengan sleep apnea mengatakan bahwa tidur nyenyak merupakan hal di luar kendali mereka – meskipun ada berbagai solusi untuk mengobatinya.

“Gangguan tidur sering kali dianggap sepele. Padahal, buruknya kualitas tidur seseorang dapat mempengaruhi kesehatan mental maupun fisik, dan berujung pada penurunan produktivitas,” komentar Pim Preesman, Presiden Direktur Philips Indonesia. “Philips ingin mendorong mereka yang mengalami gangguan tidur untuk berkonsultasi ke dokter demi meningkatkan kualitas hidup mereka. Kami berkomitmen untuk mengembangkan rangkaian solusi yang terbukti klinis dapat membantu pasien mengambil kendali atas kesehatan tidur mereka.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *