Peringati HUT ke-16, Majalah MIX Gelar MIX Marketing Gathering

Peringati HUT ke-16, Majalah MIX Gelar MIX Marketing Gathering

Marketplus.co.id —Dalam rangka memperingati HUT ke-16 nya  Majalah MIX Marcomm menggelar acara bertajuk MIX Marketing Gathering yang diadakan di Auditorium London School Public Relations (LSPR) Jakarta, Rabu (26/2). Acara menghadirkan jurnalis dari berbagai media juga, dihadiri oleh para praktisi PR dan pengelola brand dari sejumlah korporat.

Menurut Prita Kemal Gani, Founder and CEO LSPR Jakarta, dalam keynote speech-nya, terdapat lima tantangan sekaligus peluang peluang bagi para praktisi komunikasi perusahaan di era digital, yaitu pertama, konvergensi media tradisional dan digital; kedua, bentuk komunikasi interaktif; ketiga, informasi sekarang mengalir dengan cepat dan grati; keempat, segala sesuatu didukung oleh teknologi; dan kelima, kecepatan perubahan dan kecepatan respon.

President ASEAN PR Network (APRN) ini juga menekankan bahwa aktivitas PR yang proaktif sangat dibutuhkan untuk membangun sebuah brand. Terlebih di era digital yang semakin heterogen dengan tampilnya new audience, new relations, new tool, serta new standard. “Jelas, itu menjadi tantangan bagi pengelola brand maupun praktisi komunikasi,” ujarnya.

Pemimpin Redaksi Majalah MIX, Lis Hendriani memaparkan peta media yang sekarang semakin clutter dengan kehadiran beragam channel di luar media mainstream, menjadi tantangan baru bagi para praktisi komunikasi brand maupun korporat. Jurnalis sebagai pelaku earned media, katanya, seharusnya semakin meningkatkan kompetensinya dalam membuat berita yang berimbang untuk membedakannya dengan para selebgram, endorser, atau Key Opinion Leader (KOL) yang selama ini banyak yang diperlakukan sebagai paid media oleh brand/korporat. Sementara pihak korporat, katanya, seharusnya lebih menghargai berita yang ditulis para jurnalis yang lebih berimbang karena value-nya lebih besar (sebagai earned media).

Pada  acara sharing session bertema “Ketika Jurnalis Ngomongin Brand” tampil lima orang wartawan senior dari berbagai desk sebagai pembicara, yakni Dwi Wulandari, wartawan majalah MIX MarComm; Eny Wibowo, wartawan hidupgaya.co; Herning Banirestu, wartawan majalah bisnis SWA; Lilis Setyaningsih, wartawan Wartakota; dan M. Syakur Usman, wartawan Merdeka.com.

Para pembicara berbagi pengalaman terkait dalam kegiatan jurnalistik di lapangan, dari soal kesulitan menembus narasumber untuk wawancara, sikap narasumber yang “pelit” memberikan data, konten rilis yang minim informasi, persoalan sikap tertutup narasumber saat diterpa isu, dan persaingannya dengan para selebgram yang menjadi brand endorser.

Menurut para pembicara, pemilik brand atau korporat dan jurnalis sebenarnya saling membutuhkan. Bagi jurnalis, yang dibutuhkan adalah data atau statement dari pejabat yang kompeten terkait tema tulisan.  Oleh karena itu, memberi akses seluasnya bagi jurnalis untuk menggali informasi menjadi tuntutan dan kebutuhan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi dalam menjalankan praktek jurnalistik.

“Agar terjalin hubungan harmonis,  PR di korporat maupun pengelola brand mesti membuka akses seluasnya bagi jurnalis untuk memperoleh informasi. Ini bisa tercipta jika PR di korporat atau brand bersikap komunikatif dan interaktif dengan jurnalis, serta kreatif dengan menyuguhkan konten informasi yang lengkap dan detail,” tandas Dwi Wulandari.

Please follow and like us:
Articles Event Expert Says News flash Rilis Pers Strategy