September 19, 2020
Articles

Glasstech Asia 2019, Pertemukan Pelaku Industri Kaca se-Asia Tenggara

Marketplus.co.id – Sebanyak 124 pelaku usaha dari 14 negara meramaikan Glasstech Asia 2019. Pameran produk dan teknologi terkini industri kaca tahunan ke-17 ini digelar bersama Fenestration Asia 2019 ke-4 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD, pada 12-14 November 2019.

Ajang yang diselenggarakan oleh Conference & Exhibition Management Services (CEMS) dan Singapore Glass Association (SGA) ini dipandu oleh Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP) bermitra dengan Royalindo Convention International.

Menurut Dody Widodo, Staf Ahli Menteri Bidang Pendalaman, Penguatan dan Penyebaran Industri Kementrian Perindustrian (Kemenperin), baru ada dua pemain besar di industry kaca Tanah Air.

“Pemerintah mengundang para investor indsutri kaca beserta industri pendukungnya untuk masuk pasar Tanah Air. Karena baru ada dua pemain besar di Indonesia untuk insdustri ini,” ungkap Dody.

Ia juga menambahkan, ‎ pemerintah terus mendorong pasar terbuka dengan negara-negara lain, baik secara tradisional maupun non tradisional.

“Kami berharap industri kaca ini bisa menjadikan Indonesia sebagai basis ekspor ke negara-negara lain, khususnya ke Afrika. Biasanya investor akan ragu bila ingin masuk pasar Afrika, dan kami telah memiliki program untuk ekspor ke Afrika,” ujar Dody.

Glasstech Asia telah memiliki reputasi sebagai pusat pameran kaca se-Asia Tenggara. Acara ini tidak hanya menjadi pusat pertemuan pelaku usaha bersama pakar internasional, tetapi juga memberikan pemahaman luas dalam sektor manufaktur, dan pemrosesan produk berbahan kaca, termasuk berbagai teknologi terkini dan inovasi kaca.

Selama tiga hari acara berlangsung, pelaku usaha juga dapat bertukar informasi mengenai perkembangan terbaru dan tantangan yang dihadapi industri, sembari memanfaatkan pasar Indonesia yang berkembang bersama negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Pameran di area seluas 10.000 meter persegi ini juga didukung oleh Association of the German Trade Fair Industry (AUMA), Australian Glass and Window Associ ation (AGGA), Flat Glass Alliance of the Philippines Inc (FGAPI), Glass and Glazing Fed (GGF), Green Building Council Indonesia (GBCI), Malaysia Glass Association (MGA), Malaysian Institute of Architects (PAM), National Glass Association (NGA), Philippine Chamber of Glass & Aluminium Industry Inc (PCGAII), Safety Glass Processors Association of Malaysia (SGPAM), Taipei Glass Commercial Association (TGCA), Taiwan Association of Machinery Industry (TAMI), Thai Plate Glass Industry Association (TPGIA), United Architects of the Philippines Singapore Chapter (UAPSG), and Vietnam Glass Association (VGA).

Glasstech Asia 2019 juga diharapkan menjadi pusat pengetahuan para pelaku usaha untuk menghadirkan bahan bangunan yang ramah lingkungan, termasuk kaca lembaran.

Menurut laporan Research and Markets 2018, permintaan kaca hemat energi di Indonesia diperkirakan bertumbuh (CAGR) 13,1 persen per tahun pada periode 2019-2025. Selama periode tersebut, pasar berpotensi meraup penjualan US $106,70 juta pada 2025 atau meningkat dibanding US$50,13 juta pada 2019.

Asia Pasifik diperkirakan masih menjadi pemimpin pasar industri kaca lembaran dengan pangsa pasar 60-65 persen pada 2014 lalu. Di Asia Pasifik, kaca lembaran banyak digunakan oleh pelaku industri otomotif dan konstruksi. Namun, urbanisasi dan pertumbuhan sektor real estate di negara-negara berkembang, seperti Indonesia, India, Vietnam, dan Thailand, juga disebut ikut mendongkrak pasar permintaan kaca lembaran.

Pangsa pasar Asia Pasifik untuk kaca lembaran ditargetkan terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya, terutama di China, India, dan Asia Tenggara.

Ketua Asosiasi Kaca Singapura, Gan Geok Chua mengatakan, Indonesia merupakan salah satu dari 6 negara yang mengalami pertumbuhan pesat diantara negara-negara lain, seperti China, India, Vietnam, serta Thailand.

“Dalam skala internasional pada tahun 2024, pasar diprediksi akan mencapai nilai US$100 miliar untuk sektor konstruksi itu sendiri. Pasar lainnya yang tak juga kalah menggalami permintaan tinggi adalah dari industri solar energy, otomotif, dan elektronik,” kata Gan Geok Chua.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *