August 7, 2020
Articles

Dorong Perkembangan Ekonomi Digital, Xendit Hadirkan XenSpace

Marketplus.co.id – Xendit pertama kali dibentuk oleh co-founders Moses Lo (CEO), Tessa Wijaya (COO), Bo Chen (CTO) dan Juan Gonzalez (CINO) di tahun 2015 dan mulai beroperasi sebagai gerbang pembayaran (payment gateway) di tahun 2016 dengan misi untuk membuat sistem pembayaran di Indonesia semaju negara-negara di berbagai belahan dunia.

Menurut Tessa Wijaya saat press conference sekaligus soft launching XenSpace di Gedung Victoria Ground Floor, Jakarta Selatan, (21/11), saat ini Xendit melayani berbagai macam bisnis di Indonesia yang memerlukan layanan pembayaran online. Klien-klien Xendit sangat beragam, mulai dari UMKM, startup, hingga korporasi besar, seperti Traveloka, Tiket.com, Orami, dan Style Theory.

Xendit menciptakan produk-produknya dengan mempertimbangkan kemudahan integrasi dan penggunaan. “Jika perusahaan belum memiliki situs atau sistem sendiri, mereka dapat dengan mudah menggunakan platform kami. Namun perusahaan yang sudah memiliki tim teknis dan website, dapat berintegrasi dengan sistem kami melalui API (Application Program Interface) dengan cepat,” ujar Tessa.

Adapun produk-produk yang disediakan oleh Xendit adalah XenPayments (penerimaan pembayaran), XenInvoice (sistem pengelolaan invoice), XenDisburse (pengiriman dana),  XenBatch (batch disbursement – pengiriman beberapa transaksi dalam satu perintah), XenCheck dan XenFraudCheck (proses KYC – Know Your Customers –  otomatis).

XenSpace

Di XenSpace, Xendit, berupaya membawa kebiasaan berbagi yang sangat kuat dilakukan oleh pengusaha dan profesional di Silicon Valley. Mayoritas dari mereka sangat menghargai keterbukaan gagasan dan pertukaran ide bisnis, sebuah mentalitas yang belum banyak terlihat di lanskap teknologi Indonesia. Dengan adanya XenSpace ini, Xendit berharap dapat menunjukan kontribusi positif terhadap industri teknologi di Indonesia, khususnya di bidang financial technology.

Menurut Tessa Wijaya, ide menjadi hal terpenting dalam terciptanya sebuah startup, dan tentunya harus sejalan dengan eksekusi yang tepat. Melalui XenSpace, Xendit ingin menyediakan platform untuk bertukar pendapat dan berbagi ide bisnis. Para wirausaha akan memiliki kesempatan untuk bertatap muka dan berbincang mengenai ide yang tengah mereka garap dengan sesame wirausaha, praktisi teknologi, hingga orang yang tidak dikenal sekalipun.

“Xendit akan memperkenalkan pengalaman bertukar pendapat dan berbagi ide bisnis tersebut melalui ruang komunal yang berlokasi di Gedung Victoria Ground Floor ini, yang rencananya, akan dibuka dari pukul 9 pagi sampai 6 sore,” ungkap Tessa.

XenSpace menyuguhkan tempat bekerja dan meeting dengan nuansa kontemporer. Dilengkapi dengan lima ruang pertemuan, Lamarr, Engelbart, Cooper, Chandra, dan Carver, nama-nama tersebut dipilih untuk menghargai karya para entrepreneur inspirasional. XenSpace juga memiliki 24 hot desks, dua pod, dua  bilik telepon, dan lounge. Tempat kerja dilengkapi dengan akses Internet berkecepatan tinggi dan juga free flow air mineral, kopi, serta teh agar semakin produktif. Tidak hanya itu, XenSpace juga dapat dengan mudah diubah menjadi sebuah event space, yang cocok untuk aneka acara dengan kapasitas hingga 100 peserta.

Sebelum adanya XenSpace, Xendit telah memulai budaya berbagi ini dengan mengadakan berbagai sesi XenTalks. XenTalks adalah sebuah inisiatif dari Xendit untuk berbagi wawasan kepada para wirausaha dan penggiat teknologi dengan mengundang tamu-tamu yang ahli pada bidangnya. Selama beberapa bulan ini, XenTalks telah mengangkat topik yang menarik seperti bagaimana menguasai product-market fit, menciptakan budaya perusahaan yang unggul, dan bagaimana cara meningkatkan skala usaha. Setelah terciptanya XenSpace, Xendit akan melanjutkan XenTalks-nya di sana. Xendit juga akan segera memulai Women in Tech pertamanya, yang akan peran perempuan yang unggul di bidang teknologi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *