Friday, October 31, 2014
Tags Posts tagged with "Motion Pictures Association (MPA)"

Motion Pictures Association (MPA)

0 5

Kabar mengejutkan ini datang dari bisnis perfilman di Indonesia. Industri film terbesar di dunia, Hollywood akan memutuskan untuk berhenti mengedarkan produksi film mereka di Indonesia. Artinya tidak akan ada lagi film asing yang diputar di bioskop-bioskop Indonesia.

Keputusan Hollywood melalui Motion Pictures Association (MPA) untuk stop mengedarkan produksi filmnya, seperti Universal, Warner Bros, Paramount Pictures, dan lainnya tidak mau mengekspor lagi film mereka ke Indonesia. Hal ini terjadi akibat pemerintah menaikkan pajak untuk film impor.

Kalau kemarin (18/2) Anda mampir ke XXI atau bioskop-bioskop yang memakai angka 21, disana masih terlihat film-film baru, seperti THE GREEN HORNET, mungkin saat ini sudah tidak lagi diputar.

Tapi sampai tulisan ini dibuat, situs 21 Cineplex masih menayangkan film asing, namun jika beralih ke halaman coming soon bisa dilihat semua film yang akan dirilis hanya diisi oleh film Indonesia. Tidak ada film impor lagi disana.

Penyebab Film Luar Tidak Beredar Lagi

Pajak film impor lebih murah daripada pajak film nasional. Pajak impor cuma dibebani per satu kopi film, yakni Rp 1 juta per kopi. Jadi, kalau rumah produksi asing itu mengirimkan satu judul filmnya sebanyak 20 kopi, maka mereka menyetor kurang lebih Rp 20 juta.

Sementara, film nasional harus membayar pajak untuk beberapa hal, mulai dari bahan baku, peralatan produksi, pajak atas artis, karyawan, pajak saat proses produksi, pajak pasca-produksi, dan untuk penggandaan kopi film.

Kalau ingin membuat film di Indonesia, produser film nasional harus menyiapkan sekitar 10% untuk pajak. Jadi kalau dihitung biaya produksi film nasional Darah Garuda: Merah Putih II yang mencapai Rp 60 miliar harus mengeluarkan pajak senilai Rp 6 milyar. Karena kabarnya film yang tayang akhir September 2010 lalu itu disebut – sebut sebagai film termahal.

Di Thailand, pajak film menggunakan sistem per meter panjang film tersebut. Angkanya 1 dollar AS per meter. Rata-rata setiap kopi film impor mengeluarkan 3.000 dollar AS per kopi atau lebih kurang Rp 30 juta. Itu artinya 30 kali lipat lebih besar dari pajak yang dipungut oleh Pemerintah Indonesia.

Alasan pemerintah berani menaikan pajak film ini dirasa cukup mengagetkan, karena pasalnya dulu pemerintah takut dan rela diatur oleh Hollywood.

Tanggapan dari beberapa kalangan juga sudah mulai muncul ke permukaan seperti yang diungkapkan Mira Lesmana dalam akun Twiternya, “Hilangnya film asing di bioskop Indonesia tidak akan menguntungkan perfiman Indonesia.” (Ditya)

150FansLike
10,050FollowersFollow
16SubscribersSubscribe