NAVIGATION

Mengenal Lebih Dekat Sosok Adi Putra

Mengenal Lebih Dekat Sosok Adi Putra

Fotografer milenial multitalenta ini sempat mengharumkan nama Indonesia saat hasil jepretannya meraih empat penghargaan di ajang Unknown Asia Art Exchange 2018 di Osaka, Jepang.

Marketplus.co.id – Nama Adi Putra sebagai sosok fotografer milenial multitalenta, mulai dikenal setelah hasil karyanya mengundang decak kagum dari pengunjung dan juri di ajang Unknown Asia Art Exchange 2018 Osaka, Jepang, pada September 2018 lalu.

Ajang ini merupakan pameran karya seni yang diikuti para seniman dari berbagai negara. Saat itu, Adi Putra meraih empat penghargaan sekaligu, yakni Judges Prize, 2 Reviewer Prize, dan Sponsor Prize.

Hasil jepretan Adi ini juga mendapat apresiasi dari Daibiru Corporation yang kemudian memajang hasil karyanya di Daibiru Building, Osaka, pada 19 November hingga 28 Desember 2018.

Beberapa bulan kemudian, tepatnya Senin, 19 Agustus 2019, Adi Putra kembali mendapat apresiasi saat namanya masuk dalam 74 Ikon penerima Apresiasi Pancasila 2019 dari Badan Pembinaaan Ideologi Pancasila.

Tentunya, apresiasi ini melalui proses yang berliku dan panjang. Adi mulai dikenal publik ketika karyanya berjudul “Adam” masuk dalam ajang bergengsi Cannes Short Film Corner 2012 saat Adi berusia 22 tahun. Tahun 2013, eksistensi Adi semakin terjaga lewat karya video klip bertajuk “A Case for Shame (with Cold Specks)”.

Hingga saat ini, Adi Putra terus berkarya dan Jepang adalah tempatnya untuk mengekspolorasi gagasan dan kemampuan.

Menilik karyanya yang tidak melulu fotografi memang memancing keingintahuan orang, apakah dirinya memang fotografer atau seniman? Pertanyaan ini pula yang terlontar saat Live Streaming Interview antara dirinya dengan Ifan Hartanto dari Wavestudioid, Rabu (29/4).

“Kalau gue sih terserah disebut apa aja, yang penting berkarya,” tukas Adi. Baginya, karya memang utama dan karena karya pula, dirinya meraih jamak apresiasi.

Adi mengaku, ada beberapa alasan hingga ia memutuskan Jepang sebagai “ladang” yang coba ia “garap” untuk menghasilkan karya maksimal, salah satunya lantaran di Negeri Sakura ini, karya yang ia hasilkan, khususnya fotografi mendapat apresiasi yang lebih tinggi.

“Ya, itulah alasan kenapa gue memilih Jepang karena memang di sini apresiasi terhadap karya (fotografi/seni) lebih tinggi,” ungkapnya.

Dalam berkarya, Adi  tidak memiliki referensi khusus untuk memicu idenya. “Ya (ide) darimana aja,” tukasnya. Kadang ia menonton dokumenter dari BBC atau menyimak youtube sebagai bagian “pengayaan” referensi dan hiburan.

Sejauh ini, Adi menggunakan media digital atau film sebagai material untuk menghasilkan karya. “Ya, ini disesuaikan dengan keperluan dan budget. Kalau untuk pemotretan terkait katalog, (cenderung) menggunakan digital, kalau film untuk editorial. Lebih pas warnanya,” terang Adi yang sejak bulan Maret 2020 pindah ke Jepang.

Sebagai fotografer, Adi Putra juga dikenal memiliki style tersendiri. Karya-karya fotografinya kerapkali disebut memiliki gaya (style) moody, nostalgic, dan cinematic. Tak heran, bila dua tahun silam, majalah fotografi ternama Aperture menyebut karya Adi memiliki nyawa dan kekuatan spiritual.

Kepada pecinta fotografi, Adi berpesan, buatlah karya dan jangan terlalu banyak pertimbangan sebelum memulai. “Ya, mulai aja  jangan banyak alasan. Bawa kamera ke luar. Hajar aja choy!” pungkas pemilik akun @adipvtra tersebut.

Top