NAVIGATION

Rakernas ASPERAPI 2020; Menghadapi Dampak Covid19 dalam Industri MICE

Rakernas ASPERAPI 2020; Menghadapi Dampak Covid19 dalam Industri MICE

Menjadi momen bagi pemerintah dan swasta agar dapat saling berkoordinasi untuk menentukan strategi memajukan industry MICE Tanah Air.

Marketplus.co.id – Merebaknya kekhawatiran akan imbas virus Covid 19 dan kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang sementara waktu tidak mengeluarkan ijin keramaian, membuat pelaku industri Meeting Incentive Convention Exhibition dan Event resah.

Dalam Rapat Kerja Nasional ASPERAPI (06/03) di Jakarta Convention Center (JCC), Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (ASPERAPI), Hosea Andreas Runkat  menyatakan, hingga hari ini pihaknya mendapat laporan dari tempat penyelenggaraan pameran (Venue) perijinan belum keluar.

Perihal ijin keramaian ini pun tidak hanya berlaku bagi tempat penyelenggaraan. Berbagai pihak dari organizer pun mengaku hal yang sama. “Belum keluarnya ijin untuk pameran dan event ini karena Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) masih mengacu pada arahan Gubernur DKI Jakarta saat ada pengumuman warga Indonesia yang positif terinfeksi Covid 19,” tambahnya.

Dengan tidak dikeluarkan ijin ini sama halnya memberhentikan terselenggaranya suatu event. Apalagi, ijin tersebut tidak disertai dengan kategorisasi yang rinci dan detail.

Menurut Andreas, sebaiknya perijinan harus tetap dibuka. Pemerintah tingal membuat aturan-aturan yang detail. Dan pada akhirnya, aturanlah yang menyatakan bahwa suatu event itu tidak layak untuk diberikan ijin atau diselenggarakan karena tidak memenuhi beberapa factor yang telah disyaratkan.

“Saya lakukan bechmarking ini dengan Malaysia. Mereka tidak ada larangan untuk menyelenggarakan event semenjak ada Covid 19. Selama penyelenggara memenuhi kaidah-kaidah yang harus dipatuhi seperti mengacu pada standar WHO dan kaidah yang berlaku di negaranya,” ungkap Andreas.

Sementara itu di tempat yang sama, Cucu Ahmad Kurnia, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menegaskan, pihaknya tidak pernah melakukan larangan penyelenggaraan event. Cuma memang ada yang harus dikategorisasikan event seperti apa yang berisiko tinggi dan yang berisiko rendah.

Untuk ijin event dengan potensi berisiko tinggi ini yang masih dirumuskan. Misalnya, setingan penonton konser musik yang tidak aman adalah jenis festival. Kemudian seminar yang jarak antar pesertanya masih lega bisa diselenggarakan. “Jadi harus kita klasifikasi dulu kategorisasinya. Ini sedang dirumuskan dengan asosiasi terkait,” tambahnya.

Rizki Handayani, Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Events) Kementeria Pariwisata mengatakan, dibalik wabah Covid-19 ini ada hikmahnya juga, yaitu untuk konsolidasi memperbaiki internal (pelaku pariwisata dalam negeri) untuk saling berkoordinasi antar lembaga dari pemerintahan maupun swasta dalam menentukan strategi kedepannya.

“Kita akan melakukan rapat-rapat dengan asosiasi MICE, profesi, dengan Kementerian/KL terkait bagaimana membuat event ini lebih baik. Ini yang akan kita lakukan yaitu koordinasi, kolaborasi. Ayo kita buat rencana bersama,” ajaknya.

Jadi hingga saat ini Kemenparekraf dan sejumlah asosiasi seperti Asperapi terus dan saling memantau perkembangan, seperti mendapat masukan atau info event seperti apa saja yang batal dan yang masih berjalan.

“Ini yang sedang diupdate dari Kemenparekraf. Kita masih berharap semoga di semester kdua banyak event besar yang tetap berjalan, baik itu yang insentif, konvensi maupun pameran,” pungkasnya.

Top