NAVIGATION

Kembangkan Bisnis Startup dengan Omtimalisasi Potensi Milenial

Kembangkan Bisnis Startup dengan Omtimalisasi Potensi Milenial

Milenial akan memberikan kontribusi optimal kepada organisasi jika perusahaan dapat memberikan ruang untuk berkreasi, eksplorasi, dan tantangan.

Marketplus.co.id – Milenial menjadi kata yang sudah tidak asing lagi didengarkan. Generasi milenial atau generasi Y ini merupakan kelompok orang yang lahir pada tahun 1983 hingga 1995 dan sedang mendominasi banyak negara, termasuk Indonesia. Sebuah jurnal organisasi global, Deloitte, menyatakan milenial menduduki posisi tertinggi dalam jumlah persentase dibandingkan dengan generasi pendahulunya. Dengan angka 33,75 persen, generasi milenial bahkan mengalahkan generasi Z yang memiliki persentase 29,23 persen. Maka tidak heran, generasi ini akan mengambil alih peranan generasi pendahulunya di beberapa tahun mendatang.

Di perusahaan rintisan atau biasa disebut startup, dominasi karyawan milenial tidak lagi terelakkan. Tidak seperti perusahaan konvensional yang biasanya melihat jenjang karier, usia dan pengalaman, berbagai level organisasi di startup biasanya diisi oleh milenial. Dari posisi eksekutor hingga pengambil keputusan.

Namun terkadang, ada stigma kurang baik yang melekat pada milenial seperti tidak terstruktur, kurang bertanggung jawab, hingga kutu loncat. Tetapi dibalik itu, milenial memiliki sisi positif yang dapat mendorong organisasi untuk mencapai perkembangan bisnis asal perusahaan mengetahui cara mengoptimalisasinya. Apa saja sih kelebihan dari milenial?

  1. Milenial Dikenal Pekerja Keras

Milenial dikenal sebagai generasi yang mempertahankan keseimbangan antara pekerjaan dan bermain. Kebanyakan dari mereka tidak ingin mengorbankan kehidupan pribadinya demi karier. Bagi mereka kontribusi karyawan seharusnya diukur dari hasil yang dicapai seperti memproduksi pekerjaan yang berkualitas tinggi, menyelesaikan deadline atau memikirkan gagasan yang out of the box untuk mencapai hasil yang bagus.

  1. Milenial Butuh Lingkungan yang Suportif

Seperti yang dilaporkan oleh Hershatter dan Epstein di artikel mereka berjudul Millennials and the World of Work: An Organization and Management Perspective yang dimuat pada tahun 2010, di dalam pengertian generasi milenial, lingkungan pekerjaan yang suportif adalah sebuah tempat yang meyakinkan mereka dengan pengakuan, apresiasi pencapaian dan jenjang karier yang progresif. Milenial juga lebih memilih struktur yang jelas, serta cenderung memilih karier yang memberikan mereka stabilitas untuk kehidupan profesional dan personal. Selain itu, milenial juga memiliki keinginan besar untuk bersosialisasi dengan rekan kerja dan supervisornya.

  1. Milenial itu Kutu Loncat?

Generasi milenial umumnya memiliki loyalitas yang rendah dengan rata-rata bertahan di perusahaan hanya satu tahun saja. Ada banyak alasan yang mendukung generasi milenial untuk pindah pekerjaan. Deloitte dalam laporannya yang berjudul The Deloitte Global Millennial Survey 2019 menyatakan generasi milenial memiliki lima prioritas sebagai dasar perpindahan mereka. Pertama adalah bisa keliling dunia dengan jumlah 57 persen, memiliki gaji tinggi dengan persentase 52 persen, hingga membeli rumah, memberikan pengaruh ke masyarakat, dan berkeluarga dengan persentase masing-masing 49 persen, 46 persen, dan 39 persen. Survei yang dilakukan Deloitte ini dilakukan di 42 negara termasuk Indonesia dengan melibatkan 13.416 milenial.

Menurut survei yang dilakukan oleh Robert Walters terkait Salary & Hiring Trends di Indonesia pada 2020 pun menunjukkan, kultur dan lingkungan kerja yang baik merupakan pendorong utama kepuasan kerja dan 30% dari mereka yang berniat mencari pekerjaan baru didorong oleh keinginan adanya perkembangan karier. Jika perusahaan dapat memenuhi ekspektasi tersebut, milenial akan menunjukkan passion dan dedikasi.

  1. Generasi Hi-Tech

Milenial sering dijuluki tech savvy atau melek teknologi karena adopsi teknologi mereka yang sudah sangat tinggi di segala aspek kehidupan. Mereka jengah dengan sistem konvensional dan administratif yang lama hingga seringnya menunda atau tidak melakukan prosedur sama sekali. Karenanya penerapan teknologi Software as a Service (SaaS) di perusahaan dalam ranah HR misalnya, akan sangat membantu milenial untuk meminimalisir sistem administratif berbelit seperti reimbursement, pengajuan cuti, absensi dan lainnya.

Dari hal-hal di atas, dapat disimpulkan bahwa milenial memiliki potensi yang baik dan akan memberikan kontribusi optimal kepada organisasi jika perusahaan dapat memberikan ruang untuk berkreasi, eksplorasi, dan tantangan seperti yang mereka butuhkan. Dalam survei Robert Walters terkait Salary & Hiring Trends di Indonesia pada 2020, menunjukkan bahwa para pekerja di bidang HR, Tech, Supply Chain, dan Manufacturing mempertimbangkan untuk pindah pekerjaan karena ada dorongan perubahan paket gaji dan kompensasi yang lebih baik. Karenanya perusahaan perlu mempertimbangkan pemberian paket gaji dan kompensasi yang sekiranya sesuai dengan kebutuhan milenial, misalnya mendukung gaya hidup sehat melalui fasilitas membership gym agar karyawan lebih produktif.

 

Top