NAVIGATION

Anak-anak Penyandang Autis Unjuk Gigi Pamerkan Hasil Karya Seni

Anak-anak Penyandang Autis Unjuk Gigi Pamerkan Hasil Karya Seni

SPR merupakan universitas yang perduli dengan kehidupan sosial, melalui kegiatan ini otomatis membuat anak-anak autis bisa mengeksplore keahliannya.

Marketplus.co.id – Tokoh Nasional Penggerak Aksi Sosial, Linda Gumelar mengatakan bahwa para penyandang anak-anak autis mempunyai hak dan kewajiban yang sama layaknya masyarakat yang memiliki tubuh maupun otak yang normal.

“Jangan jauhkan mereka (penyandang autis-red), peluklah mereka, rangkulah mereka karena mereka punya ruang dan tempat yang sama seperti masyarakat pada umumnya,” ucapnya di acara a group Charity Art Exhibition Heart for Autism yang diadakan oleh London School Center for Autism Awareness yang berkolaborasi bersama Daya Pelita Kasih Foundation di Sunrise Art of Gallery Hotel Fairmont, Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (1/8/2019).

Menurutnya, peran orangtua sangat penting dalam pertumbuhan anak-anak autis, dirinya juga meminta kepada orangtua yang memiliki anak penyandang autism adalah mereka yang diberikan oleh Tuhan dengan kelebihan dalam menjalankan hidupnya.

“Buat apa anak-anak penyandang autis harus menerima hukuman pasung seperti yang terjadi di daerah-daerah? buat saya mereka layak hidup, sekali lagi jangan menghakimi mereka apalagi anak itu merupakan titipan Sang Pencipta. Jangan perlakukan anak sesuka hati, perlu diingat anak-anak autism mempunyai hak dan kewajiban yang sama, seperti tumbuh berkembang, hak untuk hidup jadi pahami hal tersebut,” tuturnya.

Istri Agum Gumelar ini juga menegaskan selain peran orangtua, maka diperlukan kekuatan para ahli kesehatan karena ini menjadi terobosan buat penanganan anak autism sehingga memerlukan waktu dan kerja keras, serta kesabaran diluar itu sosial media juga memiliki peran penting.

“Tentu edukasi sangat penting, selain rasa saling menghormati. Jangan salah, anak –anak autis itu mempunyai nilai kelebihan ketimbang orang hidup normal. Lihat saja pameran lukisan ini, semua dibuat oleh anak-anak autis. Lukisan yang dituangkan pun memiliki arti dan makna yang bagus dalam kehidupan manusia,” tambahnya.

Sementara itu, Head London School Center for Autism Awarness LSPR, Chrisdina mengungkapkan, dengan diadakan pameran lukisan yang dibuat oleh penyandang autis kian memperkuat keberadaan mereka dalam bentuk membangun lingkungan sosial.

“LSPR merupakan universitas yang perduli dengan kehidupan sosial, melalui kegiatan ini otomatis membuat anak-anak autis bisa mengeksplore keahliannya. Di mana, di LSPR juga terdapat teacher training yang sasarannya adalah anak-anak sekolah dasar yang terus diberikan pemahaman terhadap penyandang autis sehingga tidak lagi terjadi bulying perihal penyandang autis, kemudian parents and siblings di mana orangtua bisa saling berkomunikasi terhadap anaknya yang autis serta news letter perihal edukasi bagaimana mendidik anak-anak autis,” ungkapnya.

Di sisi lain, Pengajar Yayasan Daya Pelita Kasih Foundation Heri Bernadi menegaskan bahwa para autis bukanlah disebut penyakit atau penderita melainkan penyandang, sehingga ungkapan bahwa autis disebut sebagai penyakit atau penderita adalah salah besar.

“Banyak yang berpendapat bahwa penyandang autis itu berbahaya, padahal mereka tidak memiliki kekuatan emosional yang tinggi. Perlu diketahui juga, penyandang autis memiliki logika yang tinggi, mereka lebih detail, konstan khususnya waktu sangat disiplin. Autis itu disebabkan adanya gangguan pada saraf otak. Penyandang autis masih bisa membaca, mendengar meskipun kedua matanya tidak pernah focus ketika berbicara pada lawan bicaranya,” urainya.

Lantas, bagaimana dengan orangtua yang memiliki anak-anak autis? Baginya, di sinilah peran utama dari orangtua yang harus mempunyai tingkat kesabaran yang tinggi.

“Anak autis itu bisa dimarahi, bisa ditegur jika mereka melakukan kesalahan maka arahkan melalui pengertian yang jelas dan detail gunakan pengungkapan yang baik dan benar. Mereka tidak mudah emosi, hanya lingkungan yang membuat seperti itu oleh karena itulah pentingnya peran orangtua dalam mendidik anak sehingga mereka bisa beradaptasi dengan baik di lingkungannya. Orangtua pun tidak harus merasa malu,” tukasnya.

Top