NAVIGATION

Universitas Prasetiya Mulya Kupas Dunia Bisnis dengan Expertis

Universitas Prasetiya Mulya Kupas Dunia Bisnis dengan Expertis

Kegiatan ini dapat berlangsung secara berkesinambungan dapat menciptakan kolaborasi pengetahuan.

Markeptplus.co.id –  Universitas Prasetiya Mulya menggelar seminar bertajuk ‘Next Generation Embracing Technological Changes’. Acara yang digelar pada 25 Juli 2019 ini, menghadirkan Pramodita Sharma, Professor & Daniel Clark Sanders Chair dalam bidang Entrepreneurship & Family Business (Bisnis Keluarga) di Grossman School of Business, Universitas Vermont, USA.

Selain itu, beberapa grup bisnis yang ternama Indonesia seperti Salam Subakat dari Wardah, Noni Purnomo dari Blue Bird Group, dan Teresa Wibowo dari Kawan Lama Group juga hadir memberikan pengalamannya kepada para peserta seminar.

Rektor Universitas Prasetiya Mulya, Prof. Djisman Simandjuntak menargetkan peserta dari acara tersebut adalah pelaku bisnis keluarga baik generasi pertama atau kedua, akademisi dan mahasiswa.

“Tujuannya untuk menyampaikan dan memberikan masukan terhadap perkembangan bisnis keluarga di Indonesia, baik dari sisi akademisi maupun praktisi. Semoga di Indonesia dengan adanya norma hukum dan keluarga, perusahaan bisnis bisa berjalana pesat,” ungkapnya.

Prof. Djisman Simandjuntak juga  berharap adanya kegiatan ini dapat berlangsung secara berkesinambungan dapat menciptakan kolaborasi pengetahuan.

“Pengusaha-pengusaha di Indonesia harus tumbuh jauh lebih pesat. Karena bisnis keluarga memiliki poin lebih, seperti jika perusahaan mengalami krisis dan keluargalah yang bersama-sama menanggung,” imbuhnya.

Sebagai narasumber, Professor & Daniel Clark Sanders Chair dalam bidang Entrepreneurship & Family Business di Grossman School of Business, Universitas Vermont Pramodita Sharma mengatakan, bahwa perusahaan bisnis di Indonesia mengacu pada perusahaan di Eropa yang telah berdiri lama dan berhasil.

“Berdirinya perusahaan atau bisnis keluarga dengan baik, karena bisa saling berintegrasi. Pengusahanya juga terlihat lebih muda dan enerjik dibandingkan dengan negara Eropa,” katanya.

Di sisi lain, dunia industri revolution 4.0 banyak yang beranggapan bahwa dunia bisnis menuju kehancuran, padahal treadmen seperti ini adalah salah besar. Padahal, kehadiran dunia industri revolution 4.0 menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pariwisata.

“Industri paling subur adalah pariwisata, baik itu ticketing, perjalanan, destinasi, perhotelan, memang megah yang bintang-bintang, selain berbintang ada bisnis perhotelan yang kecil seperti homestay. Jadi tantangan kita adalah bagaimana pelaku usaha pariwisata kita elevated standart internasional,” ucap Dekan Sekolah Bisnis dan Ekonomi Universitas Prasetiya Mulya Prof. Agus W. Soehadi di Universitas Prasetiya Mulya, Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (25/7/2019).

Diakuinya, melalui homestay bisa dimanfaatkan dengan best practice telekomunikasi, service kebersihan, hingga service pelayanan yang nantinya bisa disejajarkan dengan dunia perhotelan. Otomatis membuat wisatawan kian memiliki banyak pilihan dalam berwisata.

Kehadiran industri digital bisa menjadikan bisnis pariwisata semakin hidup dan bertumbuh dengan pesat. “Digital revolution akan memakan banyak lowongan kerja di dunia industri, maka waktu luang bertambah dan permintaan akan jasa pariwisata semakin naik. Dari pariwisata berbasis hedonisme ke pariwisata yang lebih reflektif atau pariwisata cultural dan itu harus dipelajari dengan baik,” tukasnya.  Untuk itu tambahnya, Indonesia pantas diposisikan sebagai lokasi pariwisata yang besar di dunia.

Top