NAVIGATION

Inilah POD Bercukai Pertama di Indonesia

Inilah POD Bercukai Pertama di Indonesia

Satu-satunya produk closed system yang diluncurkan resmi di Indonesia yang sudah memenuhi standar internasional.

Marketplus.co.id – Electronic Nicotine-Delivery System (ENDS) atau rokok elektrik, masuk ke Indonesia pada 2010, dan mulai populer serta dikenal masyarakat di tahun 2013-2014 hingga saat ini.

Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) mengungkapkan, jumlah pengguna rokok elektrik di Indonesia mencapai lebih dari 1,2 juta orang per 2018. Pemerintah melalui Kementerian Keuangan turut mendukung legalitas industri ini dengan menerapkan tarif cukai.

Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL) untuk produk rokok elektrik di Indonesia sejak 1 Juli 2018 dan masa relaksasi sampai 1 Oktober 2018, adapun penerimaan negara dari hasil cukai liquid rokok elektrik pada periode Oktober 2018 hingga Desember 2018 mencapai lebih dari Rp200 miliar.

Dengan spirit itulah, salah satu produsen liquid vapor kelas dunia Nasty Worldwide menggandeng produsen produk vapor terkenal di tanah air, HEX. Melalui PT NCIG INDONESIA MANDIRI, Nasty dan Hex berkerja sama mendesain dan menciptakan rokok elektrik jenis baru yang sangat mudah serta sesuai digunakan oleh perokok. Guna mendukung industri lokal, PT NCIG INDONESIA MANDIRI menggandeng PT YNOT Kreasi Indonesia untuk melakukan produksi e-liquid dan pengepakan catridge (N Pod) NCIG.

Selain luasnya peluang bisnis rokok elektrik di Indonesia, adanya kebijakan dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan yang melegalkan rokok elektrik menjadi daya tarik tersendiri bagi pelaku usaha asing untuk berinvestasi.

Menurut Shariffuddin Bujang, CEO NCIG International, brewer lokal Indonesia khususnya Hex sudah dapat menghasilkan liquid berkualitas dunia. “Dengan kualitas yang dihasilkan dan jaringan distribusi Hex yang tersebar di kota-kota besar Indonesia, membuat kami yakin kolaborasi Nasty dengan Hex mampu memenuhi kebutuhan pengguna rokok elektrik di Indonesia,” jelas pria yang biasa dipanggil Pak Din.

Lebih lanjut, Roy menjelaskan bahwa target produksi NCIG sampai akhir tahun 2019 sebesar 1 juta starter kit, dengan harapan device ini dapat diterima dan menjadi solusi terapi yang aman dan efektif. Produk NCIG merupakan satu-satunya produk closed system yang diluncurkan resmi di Indonesia yang sudah memenuhi standar internasional, diantaranya dari Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat, Tobacco Products Directive (TPD) Eropa dan Canadian Counselling and Psychotherapy Association (CCPA) Kanada.

Pada  talkshow bertajuk “Dukung Industri Rokok Elektrik Lokal, NCIG Indonesia hadir sebagai POD pertama yang bercukai”, Kepala Seksi Tarif Cukai dan Harga Dasar 2 Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Republik Indonesia, Agus Wibowo juga menuturkan, “Kami mengapresiasi kolaborasi ini sebagai salah satu pendukung berkembangannya industri rokok elektrik di Indonesia. Pemerintah mendorong para pelaku industri rokok elektrik lokal untuk terus berkembang dan memenuhi permintaan pasar global. Saat ini potensi penerimaan dari tarif cukai produk HPTL mencapai lebih dari Rp2 triliun”.

Menurut data APVI per 2018, industri rokok elektrik telah menyerap lebih dari 50.000 tenaga kerja di Indonesia. Jumlah produsen liquid di seluruh Indonesia saat ini telah mencapai lebih dari 300, produsen alat dan eksesoris lainnya lebih dari 100, distributor atau importir lebih dari 150, pengecer lebih dari 5.000 dan kategori pengusaha rokok elektrik lainnya mencapai lebih dari 50.

Ketua APVI, Aryo Andrianto memberikan dukungan kepada NCIG untuk turut memberikan kontribusi positif bagi industri rokok elektrik. “Kami antusias dengan akan diluncurkannya produk perdana NCIG Indonesia yang menghadirkan ragam pilihan device bagi para vapers di Indonesia. Dengan adanya payung hukum dari pemerintah, kami semakin yakin industri rokok elektrik lokal akan terus berkembang. Kami sebagai pelaku di industri rokok elektrik juga akan terus melakukan inovasi dengan mengutamakan perlindungan kepada konsumen. Serta kami bersama-sama melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk meluruskan pemahaman yang kurang tepat selama ini mengenai rokok elektrik.”

Top