NAVIGATION

TrendWatching; Perusahaan Ritel Besar Sebaiknya Menjadi Pusat Komunitas

TrendWatching; Perusahaan Ritel Besar Sebaiknya Menjadi Pusat Komunitas

Meski memiliki 143 juta pengguna internet, namun 90% dari pasar ritel Indonesia masih dilakukan di luar platform e-commerce.

Marketplus.co.id – TrendWatching meluncurkan laporan tren terbaru yang menjelaskan tentang langkah perusahaan ritel besar dalam memberdayakan warung tradisional untuk menguasai pasar ritel yang terbagi-bagi. TrendWatching akan meluncurkan laporan Asia Trends 2019 yang berisi tentang tren mengenai bisnis ritel ini, serta berbagai tren lainnya pada acara TrendWatching Global Trend Event di Jakarta, 13 November 2018.

“Warung tradisional memiliki berbagai kelebihan yang tidak dimiliki oleh perusahaan ritel besar. Mereka lebih mengerti tentang konsumen mereka dan lebih mudah untuk dijangkau. Ini adalah alasan kenapa banyak masyarakat yang masih memilih berbelanja di warung tradisional,” kata Nathania Christy, Global Insight Network Head TrendWatching.

Nathania mengungkapkan bahwa perilaku konsumen seperti ini bisa menjadi alternatif terbaik bagi perusahaan ritel besar agar dapat menjadi pusat komunitas, yaitu dengan melengkapi warung-warung tersebut dengan teknologi. Sebuah usaha rintisan bahkan telah ada yang memulai ini, yaitu Kioson, penyedia layanan pembayaran yang memberdayakan lebih dari 30.000 warung untuk menjadi lokasi pengiriman dan penerimaan barang untuk PT Pos Indonesia.

“Kini konsumen dapat lebih mudah untuk mengirim dan menerima paket melalui berbagai warung yang berada di komunitas mereka,” kata Nathania

Salah satu contoh lainnya adalah ketika Bukalapak menjalin kemitraan dengan 300.000 warung atau dikenal sebagai mitra Bukalapak yang tersebar di seluruh Indonesia. Kemitraan ini memberikan kemudahan bagi konsumen dalam  melakukan transaksi di platform Bukalapak melalui warung yang sering mereka datangi. “Para mitra Bukalapak kini menangani 20% dari total Rp4 triliun transaksi Gross Merchandise Value Bukalapak,” ujar Nathania

Model bisnis seperti ini akan berhasil, menurut Nathania, karena walaupun Indonesia memiliki 143 juta pengguna internet, 90% dari pasar ritel Indonesia masih dilakukan di luar platform e-commerce.

Bahkan di Tiongkok, di mana sebagian besar sektor ekonominya telah mengadopsi transaksi non-tunai, 85% dari penjualan ritel masih terjadi di toko fisik, kata Nathania yang mengutip laporan dari Boston Consulting Group. “Maka dari itu, sangat penting bagi perusahaan ritel di Asia untuk mampu menangkap potensi yang ada di pasar luring ini,” ucap Nathania.

Agar perusahaan ritel menjadi semakin kompetitif, Nathania juga menyarankan agar mereka mulai berpikir untuk menawarkan layanan non-konvensional serta dapat lebih intensif lagi masuk di tengah-tengah komunitas melalui kemitraan dengan usaha kecil dan menengah seperti warung. “Perusahaan harus mulai berpikir apa saja yang mereka perlu lakukan agar mereka dapat menjadi pusat hiburan, pendidikan, dan kesehatan bagi komunitas.”

Nathania menekankan bahwa menjadikan gerakan pemberdayaan untuk fokus strategi perusahaan, akan tetap menjadi hal yang krusial di tahun mendatang, terutama bagi pelaku ritel besar dalam memperjuangkan keberlanjutan dan perkembangan bisnisnya. Seperti yang dilakukan Kioson yang ingin menyelesaikan masalah logistik di daerah perdesaan Indonesia. “Hal ini diperlukan karena konsumen dan para pemilik warung akan lebih memilih perusahaan yang memiliki misi pemberdayaan masyarakat, dibandingkan mereka yang hanya memikirkan ekspansi perusahaan,” tutup Nathania.

Top