NAVIGATION

Proyeksi Pariwisata Tanah Air di Era Siber

Proyeksi Pariwisata Tanah Air di Era Siber

Indonesia masuk peringkat keempat di antara 25 destinasi top dunia bahkan nomor satu top destinasi di Asia versi TripAdvisor.

Marketplus.co.id – Deregulasi pariwisata di era siber menjadi bahasan utama dalam ajang Indonesia Tourism Outlook (ITO) 2019 yang digelar oleh Forwapar. Menteri Pariwisata, Arief Yahya yang hadir sebagai keynote speaker menyatakan bahwa deregulasi di Indonesia dalam rangka menarik wisatawan mancanegara (wisman) dan investor difokuskan pada dua kebijakan, yakni “ease of entering Indonesia” dan “ease of doing business” (FDI).

“Ada tiga hal yang dilakukan pemerintah untuk kemudahan masuk ke Indonesia, yakni kebijakan bebas visa, menyederhanakan aturan bagi masuknya kapal pesiar asing atau yacht, dan mencabut asas cabotage untuk cruise asing,” katanya.

Di sisi lain, kemenpar juga akan terus menerapkan strategi pemasaran yang tepat untuk menyasar segmen pariwisata milenial dan menerapkan promosi yang selalu go digital.

Pada kesempatan yang sama, Destination Marketing North Asia TripAdvisor, Gary Cheng juga mengatakan, Indonesia masuk peringkat keempat di antara 25 destinasi top dunia bahkan nomor satu top destinasi di Asia versi TripAdvisor.

“Wisatawan melakukan perjalanan berdasarkan search juga menunjukkan misalnya untuk wisatawan Eropa lebih banyak memilih Thailand kemudian Indonesia, wisatawan Amerika memilih Jepang, China, dan Indonesia, wisatawan Timur Tengah memilih Thailand, Filipina, dan Indonesia. Sementara wisatawan Asia memilih Jepang dan Indonesia,” katanya.

Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia menjadi preferensi bagi banyak wisatawan dari berbagai belahan dunia sehingga potensi dan peluang tersebut perlu dioptimalkan tahun depan terutama pada segmen milenial yang menyukai destinasi yang otentik dan penuh petualangan.

Sementara GM Regional Business Development SEA Baidu.com, Yu Yen-Te mengatakan pihaknya memiliki teknologi “artificial intelegence” termasuk untuk “face recognation system” yang bisa membedakan gender, usia, dan keaslian foto untuk menjaring informasi mengenai wisatawan.

“Kami mendapati di China dengan pasar 351 juta netizen top 5 destinasinya dua tertinggi adalah Bali dan Phuket,” katanya.

Yu Yen-Te menyarankan agar pariwisata Indonesia melihat segmen atau pasar China berdasarkan musim bepergian untuk mendapatkan kualitas turis yang lebih besar di antaranya saat tahun baru China mengingat saat itulah masyarakat China mendapatkan bonus akhir tahun yang besar yang banyak dialokasikan untuk liburan awal tahun.

Ia juga menekankan, semakin besarnya angka Free Independent Traveller (FIT) dan female traveller pada tahun depan yang banyak menggunakan fasilitas online termasuk dalam bertransaksi.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi, Faisal Basri mengatakan, pariwisata hendaknya jangan terlalu mengacu pada target kuantitas.

“Buat apa banyak tapi belanja sedikit,” tukasnya. Terlebih saat ini ketika rupiah terdampak berbagai faktor eksternal yang membuatnya terus berfluktuasi dan diproyeksikan sesuai RAPBN 2019 berkisar Rp15.000 perdolar AS.

“Dari sini maka yang paling besar untuk bisa memajukan pariwisata adalah pariwisata mancanegara. Tapi wisatawan domestik lebih kalang kabut,” katanya.

Ia mencatat sektor pariwisata mengalami surplus devisa 4 miliar dolar AS sementara sektor lain justru defisit. Potensi inilah yang menurut dia harus dioptimalkan melalui strategi yang berkelanjutan.

Sektor pariwisata menurut Faisal, sangat dibutuhkan kontribusinya terhadap PDB sehingga pemerintah akan mendukung penuh kebutuhan industri dengan kecenderungan merespon positif khususnya dari perspektif regulasi.

“Tahun pemilu tidak ada alasan pariwisata turun, saya tetap optimistik. Dari beberapa pengalaman tidak berpengaruh,” katanya.

Top