NAVIGATION

Y Combinator Mencari Bibit Terbaik Start Up Indonesia

Y Combinator Mencari Bibit Terbaik Start Up Indonesia

Didirikan pada tahun 2005, akselerator ini telah berhasil membantu 1900 startup dari berbagai negara di dunia.

Marketplus.co.id – Startup Accelerator yang bermarkas di Mountain View, California, Gustaf Alströmer perwakilan dari Y Combinator datang ke Indonesia. Kedatangannya selain untuk memperkenalkan Y Combinator juga bertujuan untuk mencari bibit terbaik startup di Tanah Air untuk berkembang bersama.

Y Combinator datang untuk berbincang dengan para pelaku startup di Indonesia dalam sebuah forum diskusi yang diinisiasi oleh Xendit dan diadakan di Block71 Jakarta, (16/10). Xendit sendiri merupakan perusahaan payment gateway di Indonesia yang memudahkan segala jenis transaksi pembayaran secara digital pada berbagai bisnis dan usaha. Diluncurkan di Indonesia, Xendit merupakan salah satu perusahaan jebolan Y Combinator yang pertama kali beroperasi di negara ini.

Dalam wawancaranya beberapa saat lalu, Moses Lo, CEO Xendit sempat menjelaskan bahwa Xendit merupakan startup lokal yang berhasil masuk dan diakselerasi di Y Combinator, hingga akhirnya sukses mendapatkan funding dan beroperasi di Indonesia.

“Bergabung ke dalam Y Combinator memberikan banyak pelajaran dan manfaat bagi kami, baik dalam mempertajam produk dan penawaran kami, mendapatkan funding serta strategi untuk berkembang secara pesat dan matang sebagai sebuah perusahaan,” ujar Moses Lo.

Dia dan co-founder Tessa Wijaya memilih Indonesia sebagai basis Xendit dengan alasan percaya akan potensi market dan talent di Indonesia. “Bisnis berkembang pesat disini dan membutuhkan dukungan layanan solusi pembayaran digital yang aman, mudah dan efisien. Xendit menjawab kebutuhan tersebut, dengan membangun infrastruktur pembayaran sehingga dapat mendukung bisnis untuk  berkembang lebih cepat lagi. Pada akhirnya kami berharap hal tersebut juga membantu pertumbuhan ekonomi Indonesia,” jelas Moses.

Banyaknya tech talent lulusan universitas terkemuka yang sangat passionate untuk membangun produk terbaik bersama di Indonesia juga menarik perhatiannya. “Gabungan antara dukungan dari Ycom (Y Combinator), advanced technology dan talenta terbaik di negeri ini menjadikan Xendit menjadi salah satu perusahaan yang berkembang cepat secara organik di Indonesia,” ujar Pria yang beribu asal Bangka tersebut.

Selain Moses, juga hadir Susli Lie dari Dana Cita dan Steven Wongsoredjo dari Nusantara Technology. Ketiganya berbagi pengalaman diakselerasi oleh Y Combinator. Dana Cita yang hadir pada 2017 merupakan startup fintech lending yang mengupayakan pembiayaan untuk pendidikan.

Susli Lie yang merupakan co-founder Dana Cita menegaskan pihaknya merupakan satu-satunya startup fintech lending asal Indonesia yang lolos seleksi masuk Y Combinator. “Berkat pencapaian yang membanggakan ini, Dana Cita telah berhasil dan akan terus mewujudkan mimpi banyak pelajar dan mahasiswa di Indonesia untuk menempuh pendidikan di jenjang yang lebih tinggi,” kata Susli Lie.

Kembali ke Y Combinator, didirikan pada tahun 2005, akselerator ini telah berhasil membantu 1900 startup dari berbagai negara di dunia, dengan mengikutsertakan mereka dalam program akselerasi selama 3 bulan di Silicon Valley dimana para pendiri startup dibantu untuk mematangkan konsep usaha mereka hingga sampai proses inisiasi dan pendirian usaha. Y Combinator antara lain telah membantu mengakselerasi startup yang kini menjadi perusahaan terkemuka dunia antara lain Dropbox, Airbnb, Optimizely, Quora Reddit, Zenefits, Twitch.tv, Weebly dan masih banyak lagi. Total valuasi gabungan dari seluruh perusahaan Y Combinator diperkirakan mencapai $100 miliar.

Gustaf Alströmer yang hadir mengatakan sangat senang bisa hadir dan memperkenalkan Y Combinator di Indonesia. Pihaknya percaya akan potensi startup Indonesia dan berharap akan banyak yg daftar dan berkembang bersama Y Combinator. Dia mengingatkan agar pemohon yang ingin mendapatkan pendanaan dari Y Combinator, 40%-nya merupakan pemohon yang mengajukan proposal berulang-ulang. “Kami bahkan menerima jika perusahaan yang Anda bangun masih dalam sebatas ide. Kami ingin melihat keunikan dari yang Anda buat yang tidak dilakukan oleh orang lain,” tutup dia.

 

Top