NAVIGATION

Pentingnya Seorang Pemimpin Mengenali “Titik Buta” Perilaku Kepemimpinan.

Pentingnya Seorang Pemimpin Mengenali “Titik Buta” Perilaku Kepemimpinan.

Dalam survei terbaru Dale Carnegie yang bertajuk ‘Global Leadership Study’ (2017) mengungkapkan bahwa terdapat 4 perilaku ‘titik buta’ seorang pemimpin.

Marketplus.co.id – Lembaga pelatihan untuk pengembangan kompetensi bisnis berorientasi manusia, Dale Carnegie Indonesia menggelar kegiatan tahunan “Learning Day 2018” bertema “Uncovering Leadership Blind Spots” yang fokus membahas tentang ‘titik buta’ seorang pemimpin dan bagaimana pengaruhnya terhadap kinerja perusahaan atau organisasi, (10/10).

Kegiatan ini diikuti oleh para pemimpin perusahaan serta praktisi sumber daya manusia, serta menghadirkan sebagai pembicara Joshua Siregar, Director National Marketing Dale Carnegie Indonesia dan Stephen Siregar, Area Director Dale Carnegie Indonesia.

“Kebanyakan pemimpin percaya bahwa mereka sudah cukup kompeten dalam memimpin perusahaan atau organisasinya, padahal terdapat beberapa perilaku yang tanpa disadari berdampak negatif bagi orang yang mereka pimpin inilah yang disebut ‘titik buta’. Dale Carnegie sebagai thought leader menginisiasi ‘Global Leadership Study’ untuk membantu pemimpin perusahaan maupun organisasi dalam mengidentifikasi ‘titik buta’ dan memberikan solusi efektif untuk mengatasinya,” tutur Joshua Siregar, Director National Marketing Dale Carnegie Indonesia.

Dalam survei terbaru Dale Carnegie yang bertajuk ‘Global Leadership Study’ (2017) mengungkapkan bahwa terdapat 4 perilaku ‘titik buta’ seorang pemimpin yaitu: 1) Menunjukan Apresiasi – hanya 36% yang melakukan secara konsisten, 2) Mengakui ketika salah – hanya 37% yang melakukannya, 3) Sungguh-sungguh mendengarkan – hanya 36% pemimpin yang konsisten mendengar, dan 4) Kejujuran pada diri sendiri maupun orang lain – hanya 32% karyawan yang merasa pemimpinnya selalu jujur.

Kejujuran pada diri sendiri maupun orang lain menjadi perilaku ‘titik buta’ yang memperoleh persentase paling kecil dibandingkan 3 perilaku lainnya. Survei tersebut bahkan menunjukkan 11% karyawan di Indonesia merasa atasan mereka jarang atau tidak pernah bersikap jujur dan dapat dipercaya oleh orang lain.

“Minimnya angka pemimpin yang konsisten terhadap perilaku jujur akan mempengaruhi kinerja karyawan. Para pemimpin sebaiknya mengetahui dan mengatasi titik-titik buta mereka, dengan begitu karyawan akan merasa termotivasi dan terinspirasi dengan pekerjaan mereka sehingga berkeinginan untuk melakukan upaya terbaik guna mencapai tujuan perusahaan atau organisasinya,” ungkap Stephen Siregar, Area Director Dale Carnegie Indonesia.

Studi ini melibatkan sekitar 4.400 pekerja tetap di 17 negara dan empat benua – termasuk Indonesia, mulai dari tingkat karyawan hingga direktur atau pemilik perusahaan, dengan metode online web-based survey. Di Indonesia, studi menyertakan sekitar 205 pekerja dari perusahaan kecil hingga besar, dengan usia di atas 21 tahun.

Studi tersebut juga memaparkan bahwa penting bagi seorang pemimpin untuk memiliki keandalan eksternal dan internal yang dapat meningkatkan tingkat kepercayaan karyawannya. Keandalan eksternal mengacu kepada perilaku pemimpin yang jujur dan dapat dipercaya saat berhadapan dengan orang lain. Semakin pentingnya pemimpin yang jujur dan dapat dipercaya, terlihat dari meningkatnya motivasi hingga 41 kali jika karyawan merasa pemimpinnya melakukan hal tersebut secara konsisten. Sebaliknya, bila pemimpin di Indonesia jarang atau tidak pernah jujur dengan orang lain, 64% bawahannya akan mengundurkan diri dalam waktu 1 tahun.

Berbeda dengan keandalan eksternal, keandalan internal mengacu pada pemimpin yang konsisten dalam berbicara dan bertindak sesuai prinsip dan keyakinan mereka. Hanya 35% karyawan di Indonesia menilai pemimpin mereka selalu konsisten dalam berbicara dan bertindak sesuai prinsip dan keyakinan mereka; 55% merasa pemimpin terkadang saja konsisten dalam berbicara dan bertindak sesuai prinsip dan keyakinan mereka; dan sisanya 10% meyakini pemimpin jarang atau tidak pernah konsisten dalam berbicara dan bertindak sesuai prinsip dan keyakinan mereka. Ketika pemimpin di Indonesia konsisten dalam berbicara serta bertindak sesuai prinsip dan keyakinan mereka, karyawan akan 45 kali lebih termotivasi dalam pekerjaannya dibanding dengan atasan yang jarang atau tidak pernah bisa jujur pada dirinya sendiri.

Dalam studi yang sama, Dale Carnegie menyimpulkan bahwa adanya beberapa perilaku pemimpin yang mampu memotivasi dan menginspirasi karyawan: 1) Memberi apresiasi dan pujian yang tulus, 2) Jujur dan berintegritas, 3) Berani mengakui kesalahan, serta 4) Benar-benar mendengarkan dan menghargai pendapat.

“Dengan menyadari adanya ‘titik-titik buta’ pemimpin dapat melihat dengan lebih baik kesenjangan antara perilaku aktual dan perilaku yang diharapkan oleh karyawan. Pemimpin yang bekerja secara aktif untuk mengdentifikasi ‘titik-titik buta’ dan belajar mengatasinya memiliki potensi besar untuk mempengaruhi kepuasan kerja dari bawahan mereka serta dapat berinteraksi dengan lebih baik. Untuk meningkatkan kualitas kerja sumber daya manusia tersebut, Dale Carnegie Indonesia hadir membantu perusahaan ataupun organisasi di Indonesia dalam meningkatkan kinerja para pemimpinnya dan memberikan pengalaman kerja yang positif bagi para karyawan,” tutup Joshua.

Program tahunan ‘Learning Day’ dari Dale Carnegie Indonesia menjadi salah satu dari beragam solusi pengembangan kemampuan bisnis yang meliputi team member engagement, leadership development, sales effectiveness dan sebagainya. Di tahun ini program tersebut  telah digelar di Surabaya dan Bandung pada awal Oktober 2018. Program ini sukses diikuti oleh 180 eksekutif  dengan materi pelatihan mulai dari pengayaan wawasan hingga workshop – yang bisa diterapkan dengan mudah di tempat peserta bekerja.

Top