NAVIGATION

Angga Dwimas dan Viky Sianipar Dukung Aryono Somasi 9 Media

Angga Dwimas dan Viky Sianipar Dukung Aryono Somasi 9 Media

“Harus ada sesuatu yang holistik dilakukan untuk menegakkan hukum yang melindungi hak cipta seseorang,”

Marketplus.co.id – Pencipta lagu Burung Camar sekaligus fotografer senior, Aryono Huboyo Djati, menyomasi 9 media online atas pelanggaran hak cipta potret Tino Saroengallo hasil jepretannya. Kesembilan media itu adalah Grid.id, Tribunnews.com, Detik.com, MetroTVnews.com, Medcom, MataMata.com, Poliklitik.com, KapanLagi.com, dan Merdeka.com.

Tino Saroengallo adalah jurnalis, aktor, dan sutradara senior Indonesia, yang wafat 27 Juli 2018, Pk. 09.10 WIB lalu. Meninggalnya Tino mendapat pemberitaan luas media-media di Indonesia. Dalam pemberitaan akan kematian Tino itulah kedelapan media tersebut menggunakan karya foto Aryono tanpa meminta ijin.

Potret itu dibidik tahun 2016, atas permintaan Tino sendiri untuk buku yang tengah dipersiapkannya , namun baru disiarkan lewat akun lnstagram matajeli sesaat setelah kabar hembusan nafas terakhir Tino sampai ke telinga Aryono, sekita’jam 10 pada hari duka.

Aryono baru mengetahui adanya pemanfaatan ilegal karyanya pada 31 Juli 2018, setelah ia meng-google kata kunci Tino Saroengallo, karena penasaran dengan permintaan Noorca M. Massardl untuk menggunakan potret almarhum Tino sekaligus file resolusi tingginya bagi penerbitan sebuah buku yang rencananya diluncurkan pada Peringatan 100 Hari Tino Saroengallo-permintaan yang pada mulanya ia tolak, karena mengira buku itu adalah buku tentang Tino, sebuah memoar atau eulogi, bukan buku Tino sendiri.

Selain menuntut hak moril atas karyanya dan hak ekonomi yang hasilnya akan diberikan pada keluarga Tino Aryono memutuskan menyomasi kesembilan media tersebut per tanggal 7 Agustus 2018 dan siap mengajukan gugatan secara hukum apabila teguran dan tuntutannya tak dipenuhi melalui kuasa hukum yang ditunjuknya, Pangka lrawan SH atau yang dikenal sebagai Iwan Pangka untuk membangun kesadaran bersama akan hak cipta, terutama pada awak media, karena medialah yang seharusnya menjadi penjaga pertama, bukan ancaman pertama bagi hak cipta.

“Sembilan media online patut diduga telah melanggar Pasal 112 dan Pasal 113 (Ayat 2 dan 3) Undang Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, terkait pemuatan sebuah potret almarhum Tino Saroengalo dalam pemberitaan yang merupakan hasil karya Aryono Huboyo Djati,” tukas Paulus Irawan, SH dari Law Office Pangka & Syndicate, saat mendampingi Aryono Huboyo Djati ke Dewan Pers, di Gedung Dewan Pers, Kebon Sirih, Jakarta Pusat (25/9).

Penanganan atas persoalan pelanggaran hak cipta atas karya potret Aryono Huboyo Djati ini, pun mendapat dukungan dari Sutradara muda Angga Dwimas Sasongko dan musisi Vicky Sianipar, termasuk sejumlah jurnalis yang hadir.

Angga Dwimas Sasongko, sutradara film Wiro Sableng yang tengah diputar ini, mengemukakan bahwa persoalan pelanggaran Hak Cipta baik di dunia film, musik dan fotografi, memang sering kali terjadi. Hal tersebut lantaran law enforcementnya tidak ditegakkan secara benar. Bahkan masyarakat kerap menganggap sepele atas hak intelectual propertyrights dari seseorang kreator ini. Apalagi ditambah dengan kondisi bagaimana persoalan hukumnya baru bisa benar benar dijalankan, jika seorang yang bersangkutan tersebut baru melaporkannya (delik aduan, red).

Begitu pun, seperti pada karya potret yang dipermasalahkan ini, orang mungkin tidak pernah menyadari akan nilai intelektual dan nilai ekonomi yang terkandung didalamnya. Masyarakat mungkin tidak faham dari selembar karya potret tersebut dapat dimanfaatkan untuk film, musik, buku, maupun produk kreatif lainnya. Dimana pada muaranya akan menghasilkan nilai ekonomi didalamnya. Termasuk menjadi penyumbang bagi devisa negara atas karya kreatifnya dan seterusnya.

“Jadi harus ada sesuatu yang holistik dilakukan untuk menegakkan hukum yang melindungi hak cipta seseorang. Tak hanya melindunginya secara karya yang dibuatnya, namun juga atas nilai ekonomi didalamnya, serta pengembangannya dari karya tersebut yang juga menguntungkan bagi pihak lain. Termasuk tentunya pengawasannya dalam penegakkan law enforcement itu,” jelas Angga Dwimas Sasongko.

Sedangkan bagi Viky Sianipar, seorang musisi dan pencipta lagu, justru melihat kesan terkait pelanggaran hak cipta ini kalau dilakukan secara bersama sama, maka sesuatu yang salah itu seolah menjadi sesuatu yang benar. Padahal itu jelas jelas salah. Jadi butuh ketegasan dalam pengawasan serta penegakkan hukum dari Intelectual Property Crime yang terus terjadi itu.

Top