NAVIGATION

XELA Pictures Hadirkan Film Perdana ‘Sara & Fei, Stadhuis Schandaal’

XELA Pictures Hadirkan Film Perdana ‘Sara & Fei, Stadhuis Schandaal’

Film berlatar era kolonial dengan gaya kekinian usung historia romansa percintaan ini, tayang serentak di bioskop Tanah Air mulai 26 Juli 2018.

Marketplus.co.id Tak dapat dipungkiri bahwa perfilman Indonesia semakin marak beberapa tahun belakangan ini. Bukan hanya dari segi kuantitas saja, namun juga dari sisi tema pun kian beragam.

Satu lagi Production House yang masuk di industri film nasional adalah XELA Pictures yang baru saja merilis debut film perdananya berjudul ‘Sara & Fei, Stadhuis Schandaal’ yang segera tayang di bioskop Tanah Air mulai tanggal 26 Juli 2018 mendatang.

“Kami melihat potensi penonton film di Indonesia masih sangat besar. Dengan memproduksi film berlatar belakang sejarah, kami pun ingin mengangkat budaya Indonesia ke manca negara termasuk Tiongkok yang menjadi pasar kedua film perdana kami ini”, ujar Alexander Sutjiadi, Pemilik XELA Pictures dan Produser Eksekutif Film ‘Sara & Fei, Stadhuis Schandaal’.

Di film perdananya ini, XELA Pictures menggandeng sutradara senior, Adisurya Abdy untuk menghadirkan sebuah film berlatar belakang jaman kolonial yang terjadi ratusan tahun lalu namun dikemas dengan gaya kekinian.

“Saya memang tidak ingin membuat film sejarah, tetapi membuat film yang menggambarkan sebuah situasi atau sebuah episode yang konon pernah terjadi di jaman kolonial, yakni tentang gedung yang penuh dengan skandal”, jelas sutradara era tahun 1980 an yang ngetop dengan film Roman Picisan, Macan Kampus, Asmara, Ketika Cinta Telah Berlalu dan beberapa film populer lainnya, Adisurya Abdy.

Kolaborasi perdana antara XELA Pictures dengan sutradara Adisurya Abdy ini pun melahirkan sebuah drama thriller dan misteri yang mampu menarik minat penonton  usia muda. Segmen ini disasar  karena merekalah yang paling banyak datang ke bioskop.

“Film ini menawarkan sesuatu yang berbeda dengan format kekinian, tetapi unsur-unsur historisnya tetap terpenuhi. Sehingga memberikan generasi baru untuk banyak mengetahui sejarah yang belum terungkap,” ungkap Adisurya Abdy.

Seputar penggunaan kata berbahasa Belanda, Stadhuis Schandaal pun merupakan unsur kesengajaan.  Tak pelak, ini merupakan sebuah film drama yang meminjam situasi era kompeni dengan memakai kacamata anak muda masa kini atau yang biasa disapa dengan generasi millenials.

Konsep artistik pun disesuaikan dengan jaman itu. Sampai-sampai sang sutradara, Adisurya Abdy membangun set berupa tangsi dan benteng Belanda di atas tanah seluas 1.500 m2 di kawasan Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan yang digabung dengan teknologi visual effect, sebagimana digunakan oleh industri perfilman modern saat ini.

“Kami sudah mencoba mencari bangunan-bangunan sisa peninggalan Belanda yang ada di Indonesia, tetapi tidak sesuai dengan kriteria dan mekanisme kerja yang akan kami lakukan. Untuk itu maka kami putuskan lebih baik membangun set sendiri agar kerja tim menjadi lebih bebas,” terang sang sutradara.

Hal menarik lainnya dari karya film terbaru Adisurya Abdy setelah vakum cukup lama ini adalah ia mengambil sejumlah aktor maupun aktris berpotensi yang kebetulan baru terjun di dunia film. Alhasil beberapa wajah baru disodorkan di film ini seperti Amanda Rigby, Tara Adia, Haniv Hawakin, Volland Volt dan Mikey Lie.

Film ini juga menghadirkan pemain pendukung yang sudah malang melintang di industri film Tanah Air yaitu Anwar Fuady, George Mustafa Taka, Rowiena Umboh, Rensy Millano, Tio Duarte, Septian Dwi Cahyo, Iwan Burnani, Julian Kunto, Aby Zabit El Zufri serta beberapa pemain pendukung lainnya seperti Lady Salsabyla, Ricky Cuaca, Stephanie Ady, Iqbal Alif, Andhika Ariesta dan Yurike Cindy.

Penata musik film ini, dikerjakan oleh Areng Widodo, pemusik senior yang pernah beberapa kali bekerjasama dengan Adisurya Abdy dengan menyajikan kembali lagu ciptaannya berjudul ‘Syair Kehidupan’yang cukup populer dan diaransemen ulang serta dinyanyikan oleh Hilda Ridwan Mas.

Film ‘Sara & Fei, Stadhuis Schandaal’ berkisah tentang mahasiswi, Fei. Saat melakukan riset di kota tua Batavia, untuk menyelesaikan tugas kuliahnya. Fei didatangi gadis blasteran Belanda – Jepang bernama Sara. Suatu hari, setelah pulang dari Shanghai, Fei kembali mendatangi gedung Museum Jakarta, yang terkenal dengan nama Museum Fatahilah. Dulunya, gedung ini adalah balai kota bernama Stadhuis. Tiba-tiba Sara kembali muncul dan tanpa disadari membawa Fei masuk ke lorong waktu menuju abad 17, masa Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon memerintah Batavia. Dari sini cerita semakin menarik. penuh misteri dan pesan.

Demi meraih minat penonton di pasar Tiongkok, film ini mengambil lokasi syuting di dua negara yaitu Jakarta, Pangkalan Bun Kalimantan (Indonesia) serta Shanghai dan Ningbo (Tiongkok).

Top