NAVIGATION

Jaran Kencak, Atraksi Kuda Menari Sarat Histori

Jaran Kencak, Atraksi Kuda Menari Sarat Histori

Pemerintah Kabupaten Lumajang juga menggelar Festival Jaran Kencak sebagai pesta budaya di Alun-alun Kota Lumajang pada bulan November-Desember.

Marketplus.co.id – Jaran Kencak sebagai salah satu kesenian yang berkembang dari budaya Pendhalungan di Kabupaten Lumajang, telah menjadi pertunjukkan rakyat yang berlangsung selama ratusan tahun.

Jaran Kencak yang berarti Kuda Menari, pada masa pemerintah Hindia-Belanda dijadikan seni pertunjukkan untuk menyambut tamu kehormatan di daerah Dampar yang sekarang menjadi wilayah Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang.

Gending gamelan Jawa menjadi pengantar pertunjukkan Jaran Kencak di Ranu Klakah, Lumajang, Jawa Timur. Menurut budayawan setempat, Abdullah AL-Kudus, Jaran Kencak ditampilkan hampir satu jam di kawasan danau Klakah ini.

“Normalnya 8 jam. Jam 2 siang sampai jam 10 malam,” tukas Abdullah. Ia juga menuturkan, tarian ini muncul sebagai bentuk kekaguman masyarakat terhadap Rangga Lawe, seorang ksatria yang tak bisa lepas dari imej kuda bernama Nila Ambara. Sedangkan masyarakat lokal percaya, pencipta tarian jaran kencak ialah Kelabi Sajeh.

“Kelabi Sajeh merupakan seorang petapa yang konon hidup di Gunung Lemongan. Lalu diserang kuda liar. Tapi kekuatannya mampu menaklukkan kuda-kuda itu,” ungkap pria yang akrab disapa Aak.

Ia juga menambahkan, bagi masyarakat Lumajang,  Jaran Kencak menyiratkan simbol status sosial seseorang. Keberadaannya, yang ditampilkan pada acara-acara khusus seperti hajatan, menunjukkan kemampuan si empunya hajat. Karena perlu biaya yang tidak sedikit untuk dapat menampilkan atraksi Jaran Kencak di tengah pesta hajatan.

Tidak hanya digelar pada acara khusus seperti pesta atau hajatan semata, pada bulan November-Desember Pemerintah Kabupaten Lumajang juga menggelar Festival Jaran Kencak sebagai pesta budaya  di Alun-alun Kota Lumajang. Di sinilah para wisatawan dapat menyaksikan jamak pertunjukkan Jaran Kencak.

Top