NAVIGATION

TRENDING POSTS

1 Hotel | Hotel

Ekspansi Parkside Hotels & Resorts di Tanah Air

2 Highlight | Hotel | Millenium Hotel Sirih Jakarta

Sambut Tahun Baru 2017 Bersama Millennium Hotel Sirih Jakarta

3 Gaya Hidup | Tekno

Parenting di Era Digital

Solusi Inovatif Untuk Mengatasi Masalah Kemacetan dan Parkir di Kawasan Asia

Solusi Inovatif Untuk Mengatasi Masalah Kemacetan dan Parkir di Kawasan Asia

Penelitian yang dilakukan di wilayah Asia menunjukkan bahwa kemacetan, masalah parkir, dan terlewatkannya acara penting telah membuat warga memikirkan ulang kepemilikan mobil pribadi, dan mempertimbangkan konsep berbagi tumpangan (ridesharing).

Marketplus.co.id – Tiap tahun, warga di Asia kehilangan 13 hari dalam setahun karena terjebak kemacetan. Warga Jakarta membuang 22 hari dalam setahun karena macet dan mencari parkir.Dampak kemacetan dan parkir di kota-kota besar di Asia semakin bertambah buruk setiap tahun. Rata-rata pemilik mobil di Jakarta menghabiskan 68 menit terjebak macet dan 21 menit mencari tempat parkir setiap harinya setara 22 hari per tahun. Di Asia, rata-rata warga setiap hari terjebak macet selama 52 menit dan menghabiskan 26 menit untuk mencari parkir setara 19 hari pertahun.

Akibat kesulitan mencari tempat parkir, 72 persen warga di Asia dan 74 persen di Jakarta pernah melewatkan atau terlambat datang ke momen-momen penting sepertipernikahan, kontrol kesehatan dengan dokter, wawancara kerja, kedukaan, dan konser musik.

Temuan-temuan terkait masalah kemacetan dan parkir ini didapat dari studi yang diprakarsai oleh Uber terhadap 9.000 responden di sembilan kota terbesar di Asia.

Hasilnya, 29 persen dari pemilik mobil di Jakarta kini mempertimbangkan ulang apakah mereka sebenarnya perlu memiliki mobil atau tidak. Sementara di Asia, empat dari 10 pemilik kendaraan telah mempertimbangkan untuk berhenti mengemudikan mobil mereka sepanjang tahun lalu. Angka ini bahkan lebih tinggi di kalangan generasi muda, dengan 50 persen diantaranya menyatakan kurang tertarik membeli mobil, berdasarkan temuan survei tersebut.

Mariam Jafaar, Managing Director Boston Consulting Group Asia Pacific, John Colombo, Head of Public Policy and Government Affairs Uber Indonesia, dan Sandiaga Uno, Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta, mengajak masyarakat untuk mendukung kampanye #UnlockJakarta sebagai solusi kemacetan di ibukota.

Uber juga menunjuk the Boston Consulting Group untuk mengkaji dampak penggunaan mobil pribadi serta potensi manfaat diadopsinya konsep berbagi tumpangan (ridesharing) secara lebih luas bagi kota-kota di Asia, termasuk Jakarta.

Kajian tersebut menemukan bahwa kita tidak menggunakan mobil kita secara efisien. Pada jam-jam sibuk di Jakarta, terdapat 50 persen mobil lebih banyak dari yang bisa ditampung oleh jalanan dan 50 persen mobil hanya mengangkut 1 orang. Akibatnya durasi perjalanan ketika jam-jam sibuk memakan waktu 1,8 kali lebih lama dibanding jam-jam biasa.

Kajian ini juga menemukan bahwa Jakarta berpotensi mendapat manfaat signifikan dari ridesharing untuk membatasi pertumbuhan jumlah kendaraan, membant pemerintah mengoptimalisasi waktu investasi untuk infrastruktur, dan menawarkan tambahan penghasilan yang fleksibel. ”’Jika situasi kemacetan dan parkir di Asia berlanjut seperti ini kota-kota seperti Jakarta ada risiko terjadi macet total hanya dalam beberapa tahun ke depan,” kata John Colombo. Head of Public Policy and Government Affairs. Indonesia, Uber. “Jakarta memiliki rencana ambisius untuk membangun infrastruktur dan sistem transportasi massal. tapi ini memadukan waktu lama dan juga pembiayaan yang besar; Has” penelitian ini menunjukkan bahwa ridesharing dapat membantu pemerintah melakukan investasi infrastruktur secara lebih optimal dengan memberikan akses mobilitas bagi warga,” tambah John.

80 persen dari komuter yang disurvei mengatakan mereka berencana membeli mobil dalam lima tahun ke depan. Meskipun demikian, responden yang sama juga cenderung (~40 persen sangat ingin dan 40 persen ingin) mengurungkan niat membeli mobil bila konsep berbagi tumpangan (rideshadng) dapat memenuhi kebutuhan transportasi mereka dalam hal biaya, ketepatan waktu, dan ketersediaan.

The Boston Consulting Group memperkirakan 60 persen dari kendaraan pribadi saat ini di jalanan Jakarta dapat berkurang jika ridesnaring menjadi pengganti alternatif dari kepemilikan kendaraan pribadi dan carpooling (saling berbagi perjalanan/nebeng) menjadi hal biasa. Hal ini akan mengurangi 2,5 juta mobil di jalan dan mengurangi kemacetan di Jakarta, serta membebaskan lahan parkir setara dengan 14.600 lapangan sepakbola.

John Colombo menambahkan: “Ridesharing juga dilihat sebagai alternatif yang dipilih untuk menambah penghasilan. Kajian ini menunjukkan bahwa para pemilik mobil di Jakarta cenderung lebih memilih aplikasi berbagi tumpangan untuk menambah penghasilan. 27 persen pemilik mobil mengaku sangat ingin, sementara 44 persen responden mengaku ingin menggunakan aplikasi berbagi tumpangan untuk menambah penghasilan.”

Didukung oleh temuan-temuan hasil penelitian tadi, Uber juga menyoroti absurditas masalah kemacetan dalam sebuah film singkat sebagai bagian kampanye *UniockingCities.

*UnlockingCities adalah inisiatif untuk menyoroti mendesaknya solusi masalah kemacetan dan parkir serta bagaimana warga dan solusi inovatif seperti ridesharing punya peran untuk membuka potensi kota-kota dengan berbagi sumber daya. Rangkaian kampanye ini berupa sejumlah aktivitas yang membuka mata, diantaranya peluncuran film singkat “Boxes”, temuan hasil kajian the Boston Consulting Group dan presentasi hasil riset konsumen Uber di sejumlah pasar utama di Asia Pasifik. peluncuran sebuah website yang didedikasikan sebagai referensi bagi warga terkait penelitian ini, dan berbagai aktivitas online dan amine.

Dengan menggunakan kotak kardus untuk menggambarkan mobil, film singkat berdurasi 90 detik tersebut secara jenaka menunjukkan realitas bagaimana masyarakat bermobilitas saat ini, dan diakhiri dengan gambaran bagaimana kota dipenuhi dengan kotak-kotak kardus. Pengambilan gambar dilakukan di jalanan di kota Bangkok dengan 200 pemeran. dengan soundtrack “Bare Necessities” dari film Disney tahun 1967 ‘The Jungle Book”.

Lembar Fakta & Kajian The Boston Consulting Group

Uber juga menunjuk the Boston Consulting Group untuk mengkaji potensi manfaat diadopsinya ridesharing secara meluas dl kota_kota Asia termasuk Jakarta. Temuan-temuan di kajian ini dilakukan melalui riset data transportasi yang tersedia untuk publik, interview dengan pakar-pakar transportasi dan riset primer dengan komuter di tiap kota. Kajian ini mencakup Singapura, Bangkok, Hong Kong, Taipei, Ho Chi Minh, Hanoi dan Manila.

Mobil mengambil alih lahan berharga untuk parkir dan menurunkan kualitasudara, dengan risiko kemacetan total. 0 Dengan lebih dari 4 juta mobil di Jakarta, dibutuhkan 24.000 lapangan sepakbola untuk memarkir semua mobil di Jakarta.

0 Mobil pribadi di Jakarta menghasilkan 22 juta metrik ton C02 per tahun, cukup untuk mengisi stadion Gelora Bung Karno sebanyak hampir 5.000 kali.

0 Dengan tingkat pertumbuhan jumlah kendaraan seperti saat ini, kemacetan akan menjadi tidak teratasi dan kota-kota seperti Jakarta bisa macet total pada tahun 2022.

Rata-rata, pengemudi menghabiskan: . 1.8X lebih lama untuk bepergian pada jam-jam sibuk dibanding jam-jam biasa

Kita tidak menggunakan mobil dengan efisien. Selama jam sibuk di Jakarta: 0 Terdapat lebih dari 50% lebih banyak kendaraan dari yang bisa ditampung oleh jalanan di Jakarta. Lebih dari 50% mobil di jalan hanya memiliki 1 orang di dalamnya.

Jika Ridesharing menjadi alternatif kepemilikan mobil pribadi: . Diperkirakan 40-70% kendaraan pribadi yang ada di kota-kota di mana studi inidilakukan dapat disingkirkan. . Di Jakarta, sebagai contoh, 60% mobil dapat dikurangi dari jalanan, atau sekitar hampir 2,5 juta kendaraan. . Pengurangan mobil akan dapat memperbaiki situasi kemacetan dan parkir. Jakarta dapat mengalihkan area sebesar 14.600 lapangan sepakbola yang saat ini digunakansebagai lahan parkir

Adopsi Ridesharing:

Saat ini, adopsi ridesharing di Jakarta baru dimulai. Diperkirakan antara 1 sampai 6 persen dari jarak tempuh di kota-kota yang disurvey, berasal dari ridesharing. Untuk membantu kota-kota menghadapi tantangan transportasi di masa depan, kombinasi antara transportasi publik dan ridesharing akan sangat diperlukan terutama untuk kota-kota seperti Jakarta dan Manila.

Kota-kota seperti Jakarta, Surabaya, Manila dan Ho Chi Minh bisa mendapat banyak manfaat dari ridesharing

Membatasi pertumbuhan kendaraan: Dengan tingkat pertumbuhan kendaraa seperti saat ini, kemacetan bisa menjadi tak terkelola. Di kota-kota tersebut, sekitar 80% responden komuter yang disurvey mengatakan sangat mungkin untuk membeli mobil pada 5 tahun ke depan. Responden yang sama juga mengatakan tidak akan membeil mobil (40% sangat ingin, 40% ingin) apabila ridesharing dapat memenuhipersyaratan akan kebutuhan transportasi mereka seperti harga, ketepatan waktu dan ketersediaan.

“Waktu yang tepat” untuk infrastruktur publik: Kota-kota ini memiliki rencana untuk memperbesar jaringan transportasi, tetapi pelaksanaannya memerlukan waktu dan biaya lebih. Ridesharing dapat membantu pemerintah untuk berinvestasi pada “waktu yang tepat”, terutama dalam memetakan area-area di mana terdapat permintaan yang tidak memadai untuk memastikan aset investasi tetap. Ridesharing bisa mendukung kebutuhan transportasi di area-area ini khususnya dengan kecukupan mitra pengemudi yang tinggal atau bekerja di area-area tersebut.

Menambah penghasilan: Pemilik mobil menunjukkan keinginan yang lebih tinggi dalam menggunakan aplikasi ridesharing untuk menambah penghasilan mereka.

Sekitar 25-33% pemilik mobil menandakan keinginan yang sangat tinggi sementara 40-60% menandakan keinginan cukup tinggi.

Dukungan regulasi untuk mengoptimalkan layanan ridesharing: Dukungan dari badan peraturan pemerintah dibutuhkan perusahaan ridesharing untuk memperoleh hasil layanan yang diinginkan. Pembatasan-pembatasan yang ada dapat menghambat adopsi penggunaan ridesharing dalam skala besar, demikian pula manfaatnya:

Pembatasan dalam penggunaan aplikasi: Kehadiran aplikasi sangat esensial karena perusahaan ridesharing dapat menyesuaikan skala permintaan dan penawaran secara dinamis; serta menjamin ketersediaan layanan komuter seperti carpooling. Karena itu, pembatasan penggunaan aplikasi sangat membatasi manfaat yang dapat diberikan ridesharing kepada penggunanya.

Larangan menyediakan kendaraan: Membatasi kendaraan ridesharing dapat menghambat adopsi keandalan dan ketersediaan. Akibatnya, sangat sulit untuk meraih manfaat berkurangnya kepadatan lalu lintas karena rendahnya alternatif penggunaan kendaraan pribadi.Batasan harga: Secara historis, aturan terkait batasan harga dimaksudkan untuk melindungi komuter yang menggunakan beberapa moda transportasi. Tetapi, batasan harga ini menghambat mekanisme penyesuaian suplai dan permintaan tumpangan yang dinamis, sebuah hal yang esensial dalam sistem ridesharing.

Top