NAVIGATION

TRENDING POSTS

1 Highlight | Hotel | Millenium Hotel Sirih Jakarta

Sambut Tahun Baru 2017 Bersama Millennium Hotel Sirih Jakarta

2 Gaya Hidup | Tekno

Parenting di Era Digital

3 Food &Beverage | Highlight | Products

Mulai 1 April 2017, Ichitan Bagikan Hadiah Rp300 Juta

Toni Darusman: Rejunevasi, This is Me!

Toni Darusman: Rejunevasi, This is Me!

Toni Darusman

Toni Darusman, sosok di PT Bank Danamon Indonesia yang didapuk sebagai Chief Marketing Officer (CMO) sejak 2016 ini, berkisah mengenai cinta pekerjaan, dinamika perubahan, dan kerja sama tim yang menjadi kunci dari geliat kariernya.

Marketplus.co.id – “Saya suka dengan iklan yang unik,” tuturnya membuka sesi bincang-bincang dengan tim Market+ di suatu sore. Hal itu juga yang menjadi dorongan kuat bagi Toni Darusman untuk menjajaki dunia pemasaran sebagai koridor kariernya. Padahal, Kemudian setelah S2 selesai, masuk sebagai marketer. Siapa sangka Toni yang menyandang predikat leader marketer ini rupanya punya pendidikan sarjana dan master di bidang teknik. Lulusan Mechanical System Engineering dari The University of Liverpool, UK, yang mengaku sebagai seorang introvert ini justru berkarier sebagai seorang marketer.

Selain menyukai iklan-iklan yang menarik dan cerdas, sebagai seorang introvert rupanya Toni menaruh minat pada human behavior. Ia mengaku tak bisa mengambil bidang psikologi dalam karier karena latar belakang pendidikannya. Dan ya, ia melihat bidang pemasaran adalah jalan tengah dari kedua minatnya: iklan yang menarik dan dealing with human. Klop!

Pelajaran Menarik dari Jejak Karier Toni

Pada tahun 1992 siapa yang tidak tahu iklan Sampoerna A-Mild di tahun 1992 yang mengusung tagline terkenal “Bukan Basa Basi”. Anda tahu juga, bukan? Berangkat dari kekagumannya dengan iklan yang terkenal itu, Toni menjejakkan karier pertamanya di perusahaan yang ‘melahirkan’ iklan tersebut, PT HM Sampoerna, Tbk.

Di sini, Toni mempelajari tentang consumer segmentation dan pengembangan brand. Tak tanggung-tanggung ia berkarya selama 8 tahun dari mulai menjadi seorang brand assistant sampai dengan marketing manager. Percaya atau tidak, walo sewindu ia bekarier di perusahaan rokok, ia bukanlah perokok. Ia percaya, sebagai marketer, bahwa ia sedang memasarkan brand, bukan produk.

 

“You don’t need to be a marketer to become a brand builder. You just need a courisity to observe.”

Merasa masih muda dan masih ingin mempelajari hal lainnya, ia berpindah ke perusahaan yang berbeda lini bisnisnya. Toni kemudian bergabung dengan PT Coca Cola Indonesia sebagai Marketing Manager. Saat itu, ia tertarik dengan kondisi bahwa brand ini dikenal dengan baik tapi tidak banyak yang mengonsumsinya. Tantangannya di sini. Bagaimana membuat orang merasa itu adalah merek global tapi cita rasa lokal. Munculah Coca Cola Zero menjadikan sebagai bagian dari life style.

Ada dua kampanye yang ia usung ketika itu, yakni Buka Semangat Baru dan Ramadhan Campaign. Untuk kampanye yang terakhir disebut itu diangkat dari kebiasaan masyarakat Indonesia yang cenderung mengonsumsi minuman berkarbonasi ketika Ramadan dan Hari Raya. Ia dan tim berhasil menguatkan kampanye ini dan kemudian diterapkan secara global di negara-negara muslim lainnya seperti Timur Tengah.

Setelah 2,5 tahun di ‘membidani’ pemasaran Coca Cola, kemudian ia sempat sebentar berkarya di Unilever yang kemudian Toni menjadi Marketing Director di PT Multi Bintang Indonesia, Tbk yang membawahi brand Bir Bintang dan Heineken selama 3 tahun. Tugasnya adalah membuat Multi Bintang menjadi lebih digital karena sudah mulai zamannya media sosial.

Didorong oleh letupan keinginan untuk kembali berkarier di luar negeri seperti yang pernah ia cicipi saat di Sampoerna (2 tahun di Hong Kong) ia lalu memantapkan hati berkarya di GlaxoSmithKline yang menangani produk consumer healthcare. Toni menyukai bidang barunya ini karena ia belajar menangani pemasaran produk yang berbeda dengan area pemasaran yang lebih luas.

“Saya orangnya emang ekstrem ya, mulai dari perusahaan rokok, minuman soda, bir, lalu ke produk kesehatan,” ujarnya sambil tertawa.

Sebelum bergabung dengan Danamon pada 2016, ia sempat bekerja juga sebagai di Indosat sebagai Senior Vice President atau Group Head untuk Marketing Communication. Mengapa? Karena ia merasa persaingan di bidang telekomunikasi saat itu sangat menarik mulai dari perang tarif dan sebagainya.

Perubahan dan Peremajaan Danamon

Jika ditanya mengapa seorang Toni akhirnya melirik pemasaran di bidang perbankan, maka ini jawabannya. Ia menjelaskan bahwa perbankan itu menarik, karena pastinya tiap orang punya tabungan atau kartu kredit, kan? Tapi produk tiap bank itu mirip sekali dan perlu keamanan yang luar biasa. Sementara visi Danamon ingin menjadi bank yang besar dalam artian menyejahterakan sebanyak mungkin orang. Intinya agar Danamon menjadi bank pilihan nasabah. Dan itu semua membutuhkan perubahan.

“Nah perubahan adalah hal yang saya sukai. My profile is all about changing things. Kalau orang bilang, rejuvenasi atau meremajakan. This is me! Meluncurkan sesuatu yang baru baik brand lokal maupun global. That’s my specialties,” ungkapnya dengan penuh semangat.

Ia ingin membuat Danamon menjadi bank besar yang saat ini belum terlalu terlihat. Tapi Toni memandang Danamon punya punya potensi besar. Menurutnya, ia akan membuat Danamon menjadi ‘lebih muda’ dan kekinian serta lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat sekarang.

Tapi sebelum mengubah, yang dilakukan adalah bukan lagi consumer segmentation berdasarkan demografi dan sosiografi. Sekarang yang dilakukan adalah psychographic berdasarkan motivation. Motivasi orang menabung untuk apa? Kaya, proteksi, foya-foya, investasi, atau untuk belanja, misalnya. Dibuatlah produk dan iklan untuk bisa menyampaikan hal itu, jelasnya.

“I’m so good in detail of creative process, khususnya bagaimana mengomunikasikan pesan dari produk Danamon berdasarkan perilaku konsumen,” ujarnya.

Strategi Toni dan Tim

Secara umum, Toni menjelaskan beberapa hal yang sedang ia gagas dan lakukan bersa tim pemasarannya dalam menjadikan Danamon sebagai bank pilihan nasabah.

  1. One Danamon.

“Danamon ini bank yang banyak unit bisnisnya dengan layanannya masing-masing, strategi marketing-nya adalah menjadikan ini semua terlihat sebagai layanan dari satu bank,” begitu Toni menjelaskan. Secara konsisten Danamon ingin membuat citra pada nasabah bahwa walo layanannya bervariasi itu semua tetap satu, yakni Danamon.

  1. Marketing Inside-Out

Karyawan harus tahu, harus menyukai, dan pakai produk Danamon juga. Kecintaan pada apa yang sedang dikerjakan dan dipasarkan harus tumbuh dulu dari dalam diri karyawan. Toni beranggapan bahwa segmentasi nasabah sama dengan segmentasi karyawan. Toni terinsprirasi dari Apple, di mana tiap karyawannya bangga dengan tempat mereka bekerja dan menyukai produk yang mereka jual.

  1. Keseimbangan

Toni dan tim membuat beberapa event atau aktivitas bersama nasabah yang rasionya sama besar antara aktivitas marketing digital dan non-digital.

Strategi sebagai Seorang Leader

Menurutnya, sebagai CMO, yang dibutuhkan oleh tim bukan tentang pengetahuan tentang bank, karena tentu merekalah yang lebih jago. Hal pertama yang mereka perlukan adalah direction atau arahan yang jelas. Kedua, bagaimana mengeluarkan potensi dari masing-masing tim. Hal ini, Toni pelajari dari atasannya atau CEO terdahulu yang mampu membuka potensi dan kesempatan baginya untuk berkembang. Lalu dengan kesukaannya mempelajari psikologi manusia, Toni memetakan potensi dan meluangakn kesempatan sesuati dengan potensinya agar semangat.

Hal ketiga adalah memotivasi. Hal ini paling mudah tapi sering dilupakan atau juga sungkan dilakukan oleh masyarakat kita, katanya. Prinsipnya adalah mengapresiasi dengan tulus ketika achieved, tapi jika belum baik maka dikritisi dengan baik. Pesan ia sebagai leader pada anak buahnya adalah, “Perlihatkan kalau kamu bangga dan bahagia dengan apa yang kamu kerjakan secara tulus.”

Ia ingin semangat yang dikampanyekan dikampanyekan Danamon untuk nasabah yakni “Saatnya Nasabah Pegang Kendali” pun diterapkan oleh para timnya dalam hal mengambil kendali dalam hal karier, misalnya disiplin atau development plan.

Tantangan = Belajar

Menurut Toni, tantangan yang ia dan tim hadapi sekarang adalah lebih masih belum mencapai visi utamanya yakni menjadi bank pilihan. Tantangan ini justru menggairahkan dirinya untuk belajar lebih cepat dari yang lain. Belajar mengejar dalam hal penerapan teknologi, misalnya. Danamon Digital Journey yang launching tanggal 12 September 2017 ini adalah salah satu terbososan guna lebih mendekati pada tujuan utama pemasaran yang tadi disebutkan. Danamon Digital Journey adalah perjalanan digital Danamon di social media dengan mengajak nasabah untuk menjadikan Danamon sebagai teman bukan bank sebagai hal transaksional.

Masih banyak perubahan yang akan dilakukan oleh seorang Toni Darusman dan tim untuk mengatasi tantangan dan pesaing. Namun demikian perubahan butuh waktu dan sejauh ini belum ada hambatan atau tantangan yang membuat mereka berhenti.

“When you love your job, problem will be a nice problem,” tutupnya.

 

 

Top