NAVIGATION

TRENDING POSTS

1 Hotel | Hotel

Ekspansi Parkside Hotels & Resorts di Tanah Air

2 Highlight | Hotel | Millenium Hotel Sirih Jakarta

Sambut Tahun Baru 2017 Bersama Millennium Hotel Sirih Jakarta

3 Gaya Hidup | Tekno

Parenting di Era Digital

Menjadi Creativepreneur dengan Berpikir Kreatif

Eight Code Class bertajuk ‘How to be A Creativepreneur’

Marketplus.co.id – Para creativepreneur di Indonesia dipacu untuk terus berpikir kreatif agar bisa terus menelurkan inovasi produk, menambah pengalaman, mengasah kreativitas, dalam menjalankan kemajuan bisnisnya.

Founder Eight Code Indonesia, Faizal Hermiansyah memberikan pemaparan mengenai hal tersebut dala talkshow Eight Code Class bertajuk ‘How to be A Creativepreneur’ di BSD City, Tangerang, (21/10).  Selain Faizal,  Founder What’s Up Café, Ayu Zulia Safira, dan CEO Raja Tours and Travel, Bagus Sampurna, juga meramaikan talkshow yang dihadiri sejumlah audience mahasiswa.

Menurut Faizal, masih banyak yang melihat sebelah mata tentang ‘creative business’, padahal  saat ini creative business seringkali membuat bisnis-bisnis konvensional gulung tikar.  “Contohnya retail, departemen store, dan lainnya. Sekarang semua digantikan oleh creative business technology. Sekarang, sektor creative fashion, food, dan technology, sedang berkembang besar-besarnya,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan, agar pertumbuhan ekonomi menjadi ideal, creativepreneur di Indonesia harus 50:50. “Hal ini bisa ikut menyeimbangkan bisnis konvensional di luar sana,” imbuhnya.

Talkshow ini turut memperkenalkan wadah training atau class bagi siswa SMK, SMA dan karyawan, yang ingin masuk ke dunia creativetechnology untuk belajar lebih intensif. Programming class diadakan setiap Sabtu atau Minggu dengan dua sesi, yakni frontend programming dan backend programming.

Bagi lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) dan perguruan tinggi, Faizal, memberi kiat jika ingin menjadi seorang creativepreneur, perbanyak kegiatan non-formal seperti pelatihan, kursus, training, dan seminar.

“Pendidikan formal saat ini terlalu mempelajari hal-hal konvensional. Makanya, mengapa butuh wadah itu,” ujar Faizal.

Top