NAVIGATION

TRENDING POSTS

1 Hotel | Hotel

Ekspansi Parkside Hotels & Resorts di Tanah Air

2 Highlight | Hotel | Millenium Hotel Sirih Jakarta

Sambut Tahun Baru 2017 Bersama Millennium Hotel Sirih Jakarta

3 Gaya Hidup | Tekno

Parenting di Era Digital

Lakukan Sadanis, Selamatkan Diri Dari Kanker Payudara Sejak Dini

Lakukan Sadanis, Selamatkan Diri Dari Kanker Payudara Sejak Dini

Satu dari delapan wanita memiliki sel kanker payudara yang akan berkembang di sepanjang hidupnya. Di Indonesia, kanker payudara merupakan pembunuh nomor satu pada wanita

Data yang disebutkan oleh Rumah Sakit Kanker Dharmais menyebutkan sebanyak 60%-70% penderita yang mencari perawatan telah berada pada stadium akhir, hal ini disebabkan karena masih banyak masyarakat yang enggan untuk melakukan pemeriksaan ke klinik dikarenakan takut jika mengetahui apabila positif terjangkit kanker. Padahal, Semakin dini tumor didiagnosa, semakin besar pula kesempatan hidupnya.

Sebuah studi baru hasil investigasi Weill Cornell Medicine yang dipimpin oleh dr. Elizabeth Arleo, dipublikasikan pada bulan Agustus 2017 lalu, menunjukkan bahwa mammogram pada wanita berusia antara 40 sampai 80 tahun dapat mengurangi kematian akibat kanker payudara hingga 40%,  dibandingkan dengan pemeriksaan yang direkomendasikan oleh American Cancer Society dan US Preventive Services Task Force dapat menurunkan angka kematian hingga 23-31% apabila pemeriksaan rutin yang dilakukan pada usia yang lebih lanjut.

Dalam rangka Bulan Kesadaran Kanker Payudara Sedunia yang diperingati setiap Bulan Oktober, Royal Philips, perusahaan yang berfokus pada kesehatan dan kesejahteraan hidup orang banyak menyelenggarakan forum diskusi dengan tema “Lakukan SADANIS, Selamatkan Diri Sejak Dini”. Acara bincang-bincang ini dihadiri oleh DR. dr. Samuel J. Haryono, SpB (K), spesialis bedah onkologi; dr Niken Wastu Palupi, MKM, Kasudit Penyakit Kanker & Kelainan Darah, Direktorat P2PTM, Kemenkes, Linda Gumelar, Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI); Graece Tanus, penyintas kanker payudara yang telah bebas kanker selama 7 tahun terakhir; dan Suryo Suwignjo, Presiden Direktur Philips Indonesia.

Menurut Dr Samuel yang menjadi alasan orang-orang malas melakukan pemeriksaan karena Benjolan pada payudara tidak terasa sakit, dan penderitanya kebanyakan sudah menopause. Karena tidak mau merepotkan keluarga dan awal dari kanker ini tidak terdapat rasa sakit,maka orang-orang tidak mau memeriksakan dini. Pola hidup – kalau tidak terkena kanker, tidak akan periksa, karena tidak ada urgency-nya. Orang-orang kurang mawas diri. Ketidaktahuan juga menjadi salah satu faktor.

Sementara menurut Dr. Niken masyarakat tidak sadar akan bahayanya kanker payudara. Merasa tidak ada keluarga yang memiliki penyakit ini, sehingga tidak mau melakukan pemeriksaaan. Jika sampai diperiksa dan ketahuan penyakitnya lebih dini, orang akan menjadi stress/was-was. Padahal jika diketahui dini, akan dapat lebih cepat diobati. Edukasi perlu diberikan terus menerus. Kalau edukasi hanya sekali saja, maka akan hilang. Edukasi rutin dapat dilakukan oleh yayasan, pemerintah, pihak swasta, dll. Melakukan Sadari hanya sekitar 7-10 menit setiap bulan. Sadanis di puskesmas gratis. Orang cenderung malas untuk melakukan sadanis karena takut.

Sedangkan menurut Linda Gumelar selama ini sosialisasi kurang. Di beberapa daerah, ada yang baru mendengar tentang sadari. Banyak orang tidak mau melakukan sadari karena image yang mereka terima: bila terkena kanker, sudah pasti mati. Kenyataannya, kanker yang ditemukan di stadium awal, masih bisa ditolong. Biaya untuk deteksi kanker juga murah. Pelajaran kesehatan reproduksi kurang diberikan di sekolah. Jika sekolah memasukkan program kesehatan reproduksi mejadi pelajaran wajib dan bukan pelajaran ekstra kurikuler, maka tidak perlu banyak kampanye, dan yayasan/pemerintah bisa fokus kepromotif preventif. Di negara maju, kanker payudara terdeteksi di stadium awal. Dibutuhkan pengawasan terhadap iklan pengobatan alternatif yang menyesatkan. Jika ada
benjolan, tidak perlu pergi ke dokter. Ada hal-hal lain yang dianggap lebih nyaman sehingga tidak perlu operasi.

Sementara menurut Suryo Kita bukan masyarakat yang antisipatif, tetapi lebih cenderung reaktif. Problem itu milik masa depan, sekarang masih belum terjadi, dst., sehingga tidak perlu melakukan deteksi dini. Pasien kanker payudara sering ditemukan sudah dalam stadium lanjut, karena sadari tidak dilakukan. Benjolan kadang bisa tidak terasa dalam Sadari, sehingga perlu di-complement dengan Sadanis. Penyakit yang menyerang bagian tubuh yang menjadi kebanggaan wanita, membuat para wanita menjadi lebih protektif. Ada keengganan/kekhawatiran berlipat-lipat akan penyakit ini dibandingkan jika kanker menyerang bagian tubuh lainnya.

Suryo juga menambahkan tujuan Philips mengadakan forum ini karena Philips memiliki komitmen untuk meningkatkan kesehatan di seluruh dunia hingga 3 milyar orang per tahun hingga tahun 2025. Acara ini merupakan upaya kami untuk meningkatkan kesadaran
untuk deteksi dini kanker payudara. Seperti yang sudah dikatakan dr. Niken, untuk menyadarkan masyarakat akan kanker payudara, dibutuhkan edukasi terus menerus. Pemerintah/yayasan saja belum cukup, krn jumlah rakyat Indonesia sangat banyak dan negara Indonesia sangat luas, sehingga sulit sekali untuk menjangkau semua orang. Selain itu, masih ditemukan keengganan dalam masyarakat. Misalnya saja jika saya tawarkan mamografi gratis pada yang hadir di ruangan ini, saya yakin tidak semua peserta forum pada hari ini mau, padahal kita adalah masyarakat yang cukup berpendidikan dan tinggal di kota besar dengan akses informasi memadai. Bayangkan masyarakat di daerah, pasti lebih tidak mau. Peningkatan kesadaran melakukan Sadanis tidak hanya lewat proses screening, tapi bisa juga dengan membuat acara seperti ini.

Dalam kesempatan ini juga hadir Graece Tanus seorang Penyintas Kanker Payudara. Graece datang bersama ibunya yang berusia 80 tahun, seorang penyintas kanker payudara. Beliau telah menjalani 36 kemoterapi. 7 tahun lalu, Graece menyadari bahwa ia memiliki benjolan pada payudara setelah ia melakukan Sadari. Ia langsung cari dokter bedah, yang segera melakukan usg, dan dokter memberikan info bahwa kankernya adalah kanker ganas. Graece segera melakukan biopsy. Setelah itu ia mencari dokter onkologi. Ibu Graece sendiri telah kena stadium 4 kanker payudara dan telah menjalani mamografi dan bonescan.

Graece akhirnya menjalani masektomi radikal modifikasi, namun dia mencari second opinion dari dokter lain. Dari dokter tersebut, diketahui bahwa kanker yang diderita baru stadium 2B. Waktu itu Graece belum mengerti soal Sadari, Sadanis dan dokter onkologi. Untuk ukuran orang yang sangat bersosialisasi seperti Graece, dia merasa masih kurang informasi mengenai kanker payudara. Menurutnya “Kanker bukan akhir dari segalanya, asalkan kita mau menyadari apa yang harus dilakukan lewat tahapan-tahapan.”

Graece menyarankan wanita berusia 30 tahun untuk bersiap-siap (melakukan deteksi dini), dan jika tidak terdeteksi, di usia 40 thn disarankan untuk menjaga kesehatan supaya risiko kanker bisa dikurangi.

Top