NAVIGATION

TRENDING POSTS

1 Highlight | Hotel | Millenium Hotel Sirih Jakarta

Sambut Tahun Baru 2017 Bersama Millennium Hotel Sirih Jakarta

2 Gaya Hidup | Tekno

Parenting di Era Digital

3 Food &Beverage | Highlight | Products

Mulai 1 April 2017, Ichitan Bagikan Hadiah Rp300 Juta

Apa yang Perlu Diketahui Tentang Diare?

Apa yang Perlu Diketahui Tentang Diare?

image: dedaunan.com

Dalam tahap tumbuh kembangnya, mulai mengenal makanan padat, aktif bermain, hingga mengeksplor banyak benda, anak akan mengalami proses adaptasi. Karenanya, tidak sedikit anak mengalami diare. Anak mana yang belum pernah mengalaminya?

Marketplus.co.id – Diare menjadi masalah kesehatan yang pasti dialami hampir sebagian besar anak, terutama di masa tumbuh kembangnya. Tak heran, banyak orang menganggap gangguan kesehatan terkait diare sebagai hal yang biasa atau wajar. Bahkan, berkembang mitos di masyarakat bahwa diare menjadi pertanda bahwa anak akan makin pintar. Tapi tahukah Anda? Perkara diare tidak boleh dianggap sepele!

Kapan Disebut Diare?

Dalam kondisi normal, anak maksimal buang air besar 3 kali sehari dan minimal sekali per 3 hari dengan bentuk feses bergantung pada kandungan air. Umumnya, feses berbentuk seperti pisang. Dilihat dari kandungan airnya, bentuk feses bervariasi mulai dari cair (kadar airnya paling tinggi, biasanya terjadi pada diare akut), lembek (seperti bubur), berbentuk (feses normal, seperti pisang), dan keras (kandungan air sedikit seperti pada keadaan sembelit).

Pada bayi usia 0-2 bulan, frekuensi buang air besar lebih sering karena masih dalam periode ASI eksklusif. Normalnya warna feses kuning kehijauan, tetapi bergantung pada asupan makanan yang dikonsumsi ibunya. Selama berat badan bayi meningkat normal, kondisi buang air besar yang lebih sering tidak masuk kategori diare, biasanya disimpulkan sebagai intoleransi laktosa sementara akibat belum sempurnanya perkembangan saluran cerna.

Sementara itu, anak dinyatakan menderita diare bila buang air besar lebih encer dan lebih sering dari biasanya. Selain teksturnya yang lebih encer atau cair, feses anak yang mengalami diare dapat mengandung lendir dan darah, bergantung pada penyebabnya. Gejala lainnya adalah demam dan muntah, terkadang mendahului buang air.

Prevalensi Tingkat Kejadian Diare di Indonesia

Dikatakan bahwa di Indonesia terdapat lima provinsi dengan angka kejadian (prevalensi) diare cukup tinggi, yaitu Papua, Sulawesi Selatan, Aceh, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah. Masing-masing kelompok usia di kelima provinsi tersebut bahkan mencapai tingkat prevalensi hingga 7 pesen. Sementara, prevalensi diare pada usia balita di Indonesia mencapai 10,2 persen, dengan lima provinsi tertinggi adalah Aceh, Papua, DKI Jakarta, Sulawesi Selatan, dan Banten.

Berdasarkan data WHO tahun 2012, diare adalah penyebab kematian pada anak nomor 2 tertinggi di Indonesia, sejalan dengan data RISKESDAS 2013 mengenai prevalensi kejadian diare pada anak di Indonesia sebesar 17%, di mana disebutkan bahwa rata-rata anak di Indonesia mengalami diare 2‒6 kali per tahun.

 

Risiko Diare

Diare yang berlangsung terus selama berhari-hari dan tidak ditangani dengan baik bisa menyebabkan penderitanya mengalami gangguan kekurangan cairan tubuh (dehidrasi). Dehidrasi akut (berat), misal karena diare disertai muntah-muntah, bisa terjadi akibat penderita diare terlambat ditangani. Jika kondisi tersebut dalam beberapa jam tidak tertangani dengan baik, penderita dehidrasi akut akibat diare dan muntah-muntah bisa mengalami kematian.

Selain itu, risiko jangka panjang pun mengancam anak yang lebih sering terkena diare.

  1. Kekurangan gizi (Departemen Kesehatan RI).
  2. Tinggi badan berisiko lebih pendek 3,6 cm saat berusia 7 tahun, dibandingkan teman seusianya (Moore et al. Int J Epidemial 2001; 30: 1457‒64).
  3. IQ lebih rendah (Niehaus et al. AM J Trop Med Hyg 2002; 66: 590‒3).

 

Hal Penting yang Harus Diperhatikan Ketika Si Kecil Diare

  1. Teruskan pemberian ASI bagi bayi yang masih mengonsumsi ASI guna mencegah dehidrasi. Bagaimanapun, ASI adalah yang terbaik.
  2. Untuk anak berusia di atas 6 bulan dan sudah mengonsumsi makanan padat, pemberian cairan tambahan selain ASI, seperti air putih, larutan oralit, dan minuman isotonik khusus anak sangat dianjurkan guna mencegah terjadinya dehidrasi.
  3. Pemberian minuman probiotik juga dianjurkan untuk membantu memperbaiki sistem pencernaan yang terganggu akibat diare, khususnya untuk anak berusia di atas 1 tahun.
  4. Jaga dan perhatikan kebersihan lingkungan, terutama tubuh si kecil.
  5. Bila lebih dari 3 hari kondisi penderita, terutama anak, tidak membaik, segera konsultasikan kepada tenaga medis.
  6. Bila diperlukan, berikan nutrisi bebas laktosa berdasarkan rekomendasi tenaga medis.

 

Yuk sama-sama jadikan topik diare ini sebagai hal yang perlu diperhatikan secara lebih serius. Bagaimanapun, wanita, terutama ibu, memiliki peran sangat penting dalam pencegahan terjadinya diare hingga risiko berat yang dapat ditimbulkannya. Stay safe ya!

 

Top