NAVIGATION

TRENDING POSTS

1 Hotel | Hotel

Ekspansi Parkside Hotels & Resorts di Tanah Air

2 Highlight | Hotel | Millenium Hotel Sirih Jakarta

Sambut Tahun Baru 2017 Bersama Millennium Hotel Sirih Jakarta

3 Gaya Hidup | Tekno

Parenting di Era Digital

Sekitar Rp239 Juta Untuk Danai Pendidikan Anak Dari SD Hingga S1

Sekitar Rp239 Juta Untuk Danai Pendidikan Anak Dari SD Hingga S1

Sebanyak 96% orangtua di Indonesia berharap anaknya dapat menempuh pendidikan pasca sarjana dan 84% orangtua di Indonesia menggunakan pendapatan rutin untuk membiayai pendidikan anak.

Marketplus.co.id – Studi HSBC terbaru bertajuk The Value of Education, Higher and Higher, melaporkan bahwa rata-rata biaya yang harus dikeluarkan oleh orangtua di Indonesia untuk mendanai pendidikan anak-anak mereka dari Sekolah Dasar hingga S1 adalah sebesar USD18.422 atau sekitar Rp239.486.000 (USD1 = Rp13.000). Pengeluaran tersebut meliputi biaya untuk pembayaran SPP, pembelian buku-buku, transportasi, dan akomodasi.

Jumlah biaya yang dikeluarkan oleh orangtua di Indonesia masih lebih rendah dibandingkan rata-rata pengeluaran orangtua di tingkat global yang mencapai USD44.221 atau sekitar Rp574.873.000. Orangtua di Hong Kong tercatat mengeluarkan biaya pendidikan terbesar yaitu USD132.161 atau sekitar Rp1.718.093.000.

 

Negara Rata-Rata Pengeluaran Orang Tua (USD)*
Global 44.221
Hong Kong 132.161
Uni Emirat Arab 99.378
Singapura 70.939
Amerika Serikat 58.464
Taiwan 56.424
Tiongkok 42.892
Australia 36.402
Malaysia 25.479
Inggris 24.862
Meksiko 22.812
Kanada 22.602
India 18.909
Indonesia 18.422
Mesir 16.863
Perancis 16.708

 

Secara global, sumber utama biaya pendidikan yang saat ini ditempuh oleh putra-putrinya adalah dari para orang tua sendiri (87%) dan 85% dari mereka berkomitmen untuk menyediakan biaya pendidikan hingga perguruan tinggi. Terlepas dari adanya fasilitas pinjaman untuk pelajar atau mahasiswa, tercatat hanya 15% mahasiswa yang menyatakan mereka membiayai sendiri pendidikannya, 16% membiayai dari beasiswa pemerintah, sementara 8% lainnya membiayai dari beasiswa universitas.

Steven Suryana, Head of Wealth Management, PT Bank HSBC Indonesia, mengatakan, “Pendidikan yang lengkap dan berkualitas diyakini orangtua sebagai kunci keberhasilan anak-anak di di era persaingan kerja yang sangat kompetitif. HSBC melihat komitmen para orangtua di seluruh dunia, termasuk Indonesia, sangat tinggi. Mereka bersedia untuk berinvestasi waktu dan uang, bahkan rela mengorbankan kebutuhan-kebutuhan lainnya demi terselenggaranya pendidikan terbaik dan masa depan cerah bagi putra-putrinya.”

KEDOKTERAN JURUSAN FAVORIT ORANGTUA UNTUK KESUKSESAN MASA DEPAN ANAK

Ambisi orangtua terhadap masa depan anak terlihat dari jurusan yang mereka harapkan ditempuh oleh anak-anaknya. Di tingkat global maupun di Indonesia, jurusan kedokteran masih menjadi pilihan favorit orang tua. Di Indonesia, jurusan kedokteran berada di peringkat pertama (21%), disusul jurusan informatika (18%), jurusan bisnis, manajemen dan keuangan (12%), jurusan teknik (9%), dan jurusan arsitektur (6%).

Pendidikan pasca sarjana dipercaya oleh 91% orang tua di dunia sebagai bekal terbaik untuk masa depan anak-anaknya. Pentingnya pendidikan pasca sarjana untuk menjamin pekerjaan di masa depan juga mendapatkan kepercayaan tinggi dari orangtua di Indonesia (91%), Tiongkok (91%) dan Meksiko (90%).

KESADARAN UNTUK MELAKUKAN PERENCANAAN MASIH RENDAH

Meski memiliki komitmen tinggi untuk memberikan pendidikan terbaik kepada anak, namun masih banyak orangtua yang belum menyiapkan pendanaan khusus untuk mencukupi kebutuhan tersebut. Hampir tiga per empat orangtua di dunia (74%) mengandalkan pendapatan bulanan mereka untuk biaya pendidikan anak, sementara hampir seperempat (22%) mengakui bahwa mereka tidak mengetahui besarnya kontribusi yang harus mereka berikan setiap tahunnya.

Banyak orangtua (82%) yang akhirnya harus rela mengorbankan kebutuhan personalnya demi tercukupinya biaya pendidikan sang buah hati, seperti mengurangi alokasi untuk bersenang-senang (40%), mengurangi alokasi untuk tabungan atau investasi (20%), atau menambah jam kerja (21%) dan mencari tambahan pekerjaan baru (18%).

“Para orangtua, termasuk di Indonesia, perlu didorong untuk memiliki perencanaan keuangan jangka panjang yang strategis agar kebutuhan biaya pendidikan tetap menjadi prioritas tanpa harus mengorbankan kebutuhan-kebutuhan lain. Di tengah suku bunga mengalami penurunan, sebagian besar orang tua di Indonesia masih mengandalkan deposito berjangka untuk memenuhi kebutuhan pendidikan anak. Dengan produknya yang beragam, program Wealth Management dari HSBC dapat membantu para orang tua memiliki perencanaan yang lebih baik,” pungkas Steven.

Top