NAVIGATION

TRENDING POSTS

1 Hotel | Hotel

Ekspansi Parkside Hotels & Resorts di Tanah Air

2 Highlight | Hotel | Millenium Hotel Sirih Jakarta

Sambut Tahun Baru 2017 Bersama Millennium Hotel Sirih Jakarta

3 Gaya Hidup | Tekno

Parenting di Era Digital

Teknologi PELD untuk Mengobati Hernia Nucleus Pulposus

Teknologi PELD untuk Mengobati Hernia Nucleus Pulposus

RS Premier Bintaro telah diakui keahliannya di bidang pelayanan Bedah Tulang. Masalah tulang belakang disini ditangani secara menyeluruh dengan dukungan para dokter Spesialis bedah tulang dari berbagai sub spesialisasi Spine Surgery, Hip & Knee Surgery, Hand Surgery hingga Sport Othopedic Surgery.

Marketplus.co.id – Pernah mendengar atau mengalami langsung nyeri pada pinggang secara tiba-tiba ketika berusaha mengangkat beban berat? Atau mungkin nyeri pinggang yang tidak diketahui dengan jelas penyebabnya? Keluhan ini secara umum disebut LBP (Low Back Pain). Boleh jadi, tulang belakang Anda bermasalah yang mengakibatkan nyeri pada pinggang.

Nyeri pinggang merupakan suatu keluhan yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari bagi si penderita. Penyebabnya bermacam-macam, yang sebagian besar kasus terjadi pada segmen tulang pinggang. Nyeri pinggang merupakan salah satu penyakit yang sering dijumpai dalam masyarakat. Nyeri pinggang dapat mengenai siapa saja, tanpa mengenal umur dan jenis kelamin. Sekitar 60-80% dari seluruh penduduk dunia pernah mengalami paling tidak satu episode nyeri pinggang bawah selama hidup. Probabilitas tertinggi terjadi pada umur 40-50 tahun. Akan tetapi, bisa juga dijumpai pada remaja atau dewasa muda, berkaitan dengan cedera atau karena salah menggerakkan pinggang.

Tanda bahaya untuk gangguan ini, misalnya ada gangguan buang air besar, buang air kecil, seksual, selangkangan terasa baal, atau nyeri menjalar ke bokong. Tanda bahaya lain, bila ada tanda-tanda keganasan, timbul nyeri sampai terkejut bangun pada malam hari, atau berat badan turun yang penyebabnya tidak diketahui. Jika terdapat keluhan seperti ini, maka sebaiknya segera berobat ke dokter spesialis orthopedi khusus tulang belakang

Faktor resiko nyeri pinggang sangat beragam, antara lain penggunaan otot pinggang berlebihan, pekerjaan yang menuntut fisik membungkuk, mengangkat beban berulang atau posisi duduk dan berdiri yang lama. Faktor resiko lainnya yaitu faktor kegemukan, postur yang kurang baik, dan tidur di kasur lembek.

Hernia Nucleus Pulposus

Banyak sekali penyebab nyeri pinggang pada manusia. Bisa karena infeksi pada otot atau tulang belakang, trauma atau benturan yang hebat pada pinggang, kelainan tulang belakang, dan lain-lain. Salah satu yang cukup sering adalah yang dinamakan Hernia Nucleus Pulposus (HNP). HNP atau biasa dikenal masyarakat sebagai ”syaraf terjepit”, terjadi karena penonjolan bantalan sendi tulang belakang yang menjepit syaraf.

Akibatnya, timbul rasa nyeri yang sangat luar biasa, panas, ngilu, kesemutan, sampai terasa seperti kesetrum. Rasa sakitnya menjalar ke bawah hingga betis atau jari kaki. Penyebab HNP ini berbagai macam. Faktor resiko, antara lain merokok, batuk yang terlalu lama, cara duduk yang salah, cara mengangkat barang yang salah, dan lain-lain.

Penyakit apapun bila tidak ditangani dengan tepat dan benar, tentu akan berakibat fatal. Begitu pula dengan nyeri pada pinggang yang menjalar kekaki. Boleh jadi, banyak orang yang meremehkan rasa nyeri di bagian pinggang yang menjalar kekaki dan berharap akan hilang dengan sendirinya. Padahal, bila tidak tertangani dengan tepat, nyeri pinggang yang semakin berat dapat menyebabkan pembengkokan tulang belakang.

Bila masih ringan, HNP bisa diatasi cukup dengan obat dan berolah raga. Misalnya, berenang, pilates, dan yoga dengan konsentrasi di area tulang belakang. Cara lain, dengan menjalani fisioterapi. Sebenarnya, memperbaiki posisi duduk dan tidur pun bisa mengatasi nyeri pada pinggang. Jika cara-cara tersebut tidak mampu mengatasi rasa nyeri, bisa dengan suntikan atau laser. Jika hasil non operatif tersebut tidak memberikan hasil, barulah melakukan operasi.

Dalam hal operasi, RS Premier Bintaro mengedepankan metode Minimal Invasive Spine Surgery yang lebih unggul dalam hal luka yang lebih kecil, cidera pada otot yang minimal, perdarahan yang minimal, derajat komplikasi dan infeksi yang lebih ringan, nyeri pasca operasi yang minimal dan waktu pemulihan dan perawatan di rumah sakit yang lebih singkat.

Pada praktiknya, teknik MISS dibagi menjadi dua, yakni teknik Fusion yang masih menggunakan implan seperti screw, cage, dan sebagainya. Juga teknik Non-Fusion yang menangani permasalahan tulang belakang sealami mungkin tanpa ada implan. Perkembangan metode MISS kini lebih menggunakan teknik Non-Fusion. Arahnya adalah Endoscopy, mulai dari Micro Endoscopic Discectomy, serta terkini yakni Percutaneous Endoscopic Lumbar Discectomy (PELD).

Menurut dr. Harmantya Mahadhipta, Sp.OT (K) Spine, Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi Tulang Belakang RS Premier Bintaro, kedua update metode tersebut memberikan berbagai kemudahan dan keuntungan baik bagi dokter dan tenaga medis, maupun bagi pasien.  “Untuk PELD, metode ini merupakan full Endoskopi. Artinya tindakan dilakukan dengan sayatan yang seminimal mungkin, maksimal sayatan hanya 8mm dan menggunakan camera endoskopi. Dengan begitu tindakan bisa dilakukan dengan bius lokal, kondisi pasien yang sadar dan one day care,” ujar dr. Harmantya.

Recovery Lebih Cepat

Dengan perkembangan metode tersebut, pasien tentu menjadi lebih diuntungkan. Dengan sayatan atau bahkan tanpa sayatan, skala waktu recovery akan menjadi jauh lebih cepat. “Logikanya, dengan sayatan yang minim rasa sakit akan jauh lebih ringan. Dengan begitu pemulihan akan lebih cepat. Waktu stay di rumah sakit juga akan lebih singkat, dampaknya biaya yang dikeluarkan pun akan menjadi lebih murah,” papar dr. Harmantya.

Meski begitu tak dipungkiri, masih banyak pasien yang lebih memilih ‘diam’ atas keluhan pada tulang belakangnya dibanding dilakukan tindakan. Alasan mulai dari biaya yang mahal hingga ketakutan akan terjadi kelumpuhan akibat operasi. Padahal menurut dr. Harmantya, hal itu tidak sepenuhnya benar.

“Mengenai biaya, sebenarnya merupakan hal yang relatif. Semakin dini terdeteksi, penanganan akan semakin mudah. Biayanya pun akan semakin murah. Sedangkan rasa takut akan kelumpuhan, itu adalah pemikiran yang salah kaprah. Kita ambil contoh HNP, tindakan yang diambil adalah pada bagian Lumbal 4–5, atau bagian bawah. Secara teori pun bila terjadi kesalahan saat tindakan operasi, saraf yang terganggu adalah saraf bagian pergelangan kaki atau jempol kaki. Jadi tidak perlu khawatir. Lagi pula teknologi semakin canggih, kita melakukan operasi dengan layar monitor yang sangat besar, saraf-saraf terlihat dengan sangat jelas,” dr. Harmantya menjelaskan.

 

Top