NAVIGATION

TRENDING POSTS

1 Highlight | Hotel | Millenium Hotel Sirih Jakarta

Sambut Tahun Baru 2017 Bersama Millennium Hotel Sirih Jakarta

2 Gaya Hidup | Tekno

Parenting di Era Digital

3 Food &Beverage | Highlight | Products

Mulai 1 April 2017, Ichitan Bagikan Hadiah Rp300 Juta

Menjadi Orang Kaya Baru dengan Saham

Menjadi Orang Kaya Baru dengan Saham

Investasi yang sering dikaitkan dengan kekayaan salah satunya adalah saham. Namun bedakan ya antara investasi dan spekulasi. Pelajari lebih lengkap di sini, ya.

Marketplus.co.id – Sebagian besar masyarakat menganggap kekayaan adalah bukti kesuksesan. Memang tidak ada yang salah dari pernyataan tersebut, bahkan indikator ini sangat mudah untuk dinilai. Selain itu, kekayaan bisa menjadi katalisator kebahagiaan.

 

Apabila Anda memiliki indikator yang sama, tulisan ini menjadi sangat relevan dan bermanfaat  untuk dibaca. Salah satu jenis investasi yang menjanjikan kekayaan adalah investasi di pasar saham. Investasi dengan membeli saham perusahaan dapat memberikan keuntungan yang berlipat sampai ribuan persen. Walaupun risikonya tinggi, keuntungan dari investasi saham jauh lebih tinggi dari jenis investasi lainnya.

 

Investasi atau Spekulasi

 

Dalam “bermain” saham, perlu dibedakan antara investasi dan spekulasi. Istilah yang kedua sering menjadi jebakan bagi investor pemula.

 

Investasi saham sendiri berarti membeli saham dengan mempertimbangkan risiko yang ada dan saham dimiliki dalam waktu yang cenderung lama. Sementara spekulasi lebih merujuk pada mencari profit jangka pendek dari ketidakseimbangan pasar tanpa memerhatikan risiko pasar.

 

Biasanya saham yang ”dimainkan” hanya dimiliki dalam waktu yang relatif sangat pendek. Berinvestasi dengan membeli saham berarti kita membeli perusahaan yang menerbitkan. Ini berarti kita juga ikut memiliki perusahaan, atau dalam istilah manajemen dikenal dengan pemegang saham. Imbalan keuntungan dari investasi ini adalah dividen, yaitu porsi keuntungan atas laba bersih per lembar saham.

 

Singkatnya seperti ini; apabila perusahaan yang kita miliki menghasilkan laba bersih yang tinggi, maka dividen yang kita terima juga cenderung lebih tinggi. Tentu saja hal yang paling menarik dari investasi ini adalah memilih (dan menganalisis) perusahaan mana yang prospek kinerja keuangannya paling menguntungkan.

 

Keuntungan Lain

 

Selain dividen, pemegang saham juga mendapatkan keuntungan gain dari kenaikan harga saham di bursa yang mengakibatkan nilai investasi kita juga naik.

 

Misalkan, kita memiliki saham perusahaan A sebanyak 10.000 lembar dengan harga pada tahun 2017 adalah Rp1.000 per lembarnya, maka nilai awal investasi adalah 10.000 x Rp1.000 = Rp10.000.000. Apabila pada tahun 2027 harga saham ternyata naik menjadi Rp20.000 per lembarnya, maka nilai investasi kita selama 10 tahun menjadi 10.000 x Rp20.000 = Rp200.000.000. Nilai ini meningkat 2.000% atau rata-rata dua kali lipat per tahun.

 

Cerdas Forecasting, Penting!

 

Nah, sebagai investor yang cerdas, kemampuan meramal (forecasting) harga saham sangat menentukan keberhasilan investasi di pasar modal.

 

Misalkan, dengan analisis keuangan didapat bahwa harga saham X seharusnya Rp1.276 per lembar, namun di bursa hari ini masih seharga Rp355 dan juga merupakan harga terendah sejak sepuluh tahun terakhir. Kalau investor jeli, maka ini adalah saat yang tepat untuk membeli saham X.

 

Alasannya karena menurut pakar value investing, Benjamin Graham dan Warren Buffet, harga saham akan bergerak berangsur-angsur ke harga wajar yang seharusnya.

 

Seperti contoh terakhir tadi, harga saham X dari Rp355 akan bergerak mendekati Rp1.276 di masa yang akan datang. Dengan penetapan margin of safety atau selisih harga pasar saat ini dengan harga wajarnya, misalkan lebih dari 50%, maka keputusan membeli saham perusahaan menjadi lebih efektif.

 

Harga Saham yang Wajar

 

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, bagaimana cara untuk menghitung harga saham wajar atau stocks intrinsic value?

 

Cara yang paling sering digunakan adalah dengan menghitung rate of return atau bunga yang dihasilkan dari pergerakan harga saham. Rate of return ini biasanya dihitung dengan rumus CAPM atau Capital Asset Pricing Model, sebuah model dengan satu faktor yaitu risiko saham terhadap pasar, atau disebut beta.

 

Hampir di semua sekolah bisnis mengajarkan CAPM dalam penentuan harga saham wajar. Padahal Eugene Fama dan Kenneth French, ilmuan asal Amerika Serikat, telah membuktikan bahwa beta bukan satu-satunya penentu dari return saham. Bahkan dengan pembuktian dari penelitiannya, mereka menyimpulkan bahwa beta is dead jika dipakai sebagai satu-satunya faktor dalam menentukan harga saham.

 

Model Baru, Pelajari

 

Lebih lanjut lagi, dari tahun 2013 sampai 2016, Fama dan French menemukan satu model baru dalam menentukan harga saham wajar, yaitu Fama & French Five Factor Model. Model yang merupakan penyempurnaan dari model sebelumnya, Three Factor Model, terbukti lebih efektif dari CAPM.

 

Model ini menitikberatkan pada bukan hanya beta saja, namun ada empat faktor lain yang menentukan harga saham. Keempat faktor tersebut adalah; ukuran perusahaan, nilai perusahaan, investasi yang dilakukan, dan profitabilitas dari operasi perusahaan yang kita sasar.

 

Model terakhir dari Fama dan French ini seharusnya menjadi jurus ampuh untuk menjadi investor saham yang efektif. Asalkan, kita terhindar dari jiwa spekulan yang oportunis.

 

Dengan kemampuan berinvestasi saham yang memadai, kekayaan bukan jadi sekadar mimpi. Dengan jurus baru ini, kita bisa menjadi salah satu dari orang kaya baru. Kuncinya hanya satu, yaitu kemauan untuk belajar. Seperti satu kutipan dari Warren Buffet sebagai investor tersukses di dunia Risk comes from not knowing what you’re doing.”

 

Editor: Shelvy Dwi Citra

Top