NAVIGATION

TRENDING POSTS

1 Hotel | Hotel

Ekspansi Parkside Hotels & Resorts di Tanah Air

2 Highlight | Hotel | Millenium Hotel Sirih Jakarta

Sambut Tahun Baru 2017 Bersama Millennium Hotel Sirih Jakarta

3 Gaya Hidup | Tekno

Parenting di Era Digital

FWD Life Luncurkan Asuransi Unit-linked Bebas Optimal

FWD Life Luncurkan Asuransi Unit-linked Bebas Optimal

Selain di Indonesia, FWD Group memiliki jaringan usaha di Hong Kong & Macau, Thailand, Filipina, Singapura, Vietnam dan Jepang menawarkan asuransi jiwa dan asuransi kesehatan, asuransi umum dan employee benefits di beberapa negara.

Marketplus.co.id – Pada tanggal 20 Juli 2017, PT FWD Life Indonesia (“FWD Life”) – perusahaan pionir asuransi jiwa berbasis digital di Indonesia meluncurkan BEBAS OPTIMAL, produk asuransi jiwa yang dikaitkan dengan investasi (unit-linked) yang memberikan perlindungan jiwa komprehensif dengan investasi optimal jangka panjang. Produk yang ditawarkan melalui jalur distribusi keagenan ini didukung oleh inovasi teknologi digital milik FWD Life.

FWD Life memperkenalkan BEBAS OPTIMAL di tengah kondisi ekonomi makro dan pasar Indonesia yang semakin menarik menyusul Standard & Poor’s (S&P) yang memberikan peringkat layak investasi (investment grade) beberapa waktu lalu. Ini mengindikasikan potensi tingkat kepercayaan publik yang lebih tinggi terhadap produk unit-linked sebagai salah satu pilihan utama dalam mendapatkan perlindungan sekaligus juga investasi. 

Chief Product Proposition & Sharia FWD Life Ade Bungsu menyatakan, “Produk ini diluncurkan untuk memberikan pilihan perlindungan dan investasi bagi masyarakat Indonesia khususnya kelas menengah ke atas yang sadar investasi, sehingga memberikan sinyal bahwa kini adalah masa pertumbuhan yang menjanjikan bagi produk-produk unit-linked.”

Riset terbaru Boston Consulting Group menunjukkan bahwa jumlah kelas menengah Indonesia pada 2020 akan mencapai 141 juta orang atau 53% dari jumlah penduduk.

Mengutip data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga April 2017, total aset industri asuransi jiwa konvensional di Indonesia naik 20,14% menjadi Rp 423,69 triliun dibandingkan periode yang sama tahun 2016 sebesar Rp 352,64 triliun. Berdasarkan data tersebut, nilai investasi terhadap reksadana yang merupakan portofolio investasi unit linked mencapai Rp 103,44 triliun atau 25% dari total aset industri asuransi jiwa di Indonesia.

BEBAS OPTIMAL ini memiliki empat kelebihan utama, yakni:

  1. Mengalokasikan 100% premi dasar ke dalam investasi sejak tahun pertama.
  2. Bebas dari biaya administrasi bulanan, biaya akuisisi serta biaya pengalihan dana investasi jika dilakukan secara online.
  3. Memberikan perlindungan komprehensif dari berbagai risiko kematian hingga usia 80 tahun dengan sedikit pengecualian. Bahkan, untuk risiko kematian atau cacat tetap total karena kecelakaan di transportasi umum, Uang Pertanggungan akan dibayarkan 200% atau maksimum Rp 2 miliar.
  4. Keleluasaan untuk bebas menentukan jenis dan alokasi investasi, serta bebas memilih masa pembayaran premi (3, 5 atau 10 tahun) dan menambah dana investasi setiap saat.

 

Mitra strategis FWD Life, PT Schroder Investment Management Indonesia (“Schroder Indonesia”) akan dipercayakan untuk mengelola investasi BEBAS OPTIMAL. Bagi nasabah, ini akan menjadi sebuah kemudahan dan tanpa mengurangi proses diversifikasi pengelolaan risiko nasabah.

Executive Vice President Intermediary Business Schroder Indonesia Bonny Iriawan menambahkan, sejumlah faktor telah mendorong kondisi pasar Indonesia berada dalam tren positif. Di antara faktor tersebut adalah kondisi pasar saham global yang kondusif serta fundamental makro ekonomi Indonesia terutama kenaikan surplus perdagangan, pengurangan defisit neraca berjalan, maupun peningkatan penerimaan fiskal. “Belum lagi Indonesia yang baru saja meraih investment grade dari S&P dan pemerintah yang gencar membangun infrastruktur,” kata Bonny.

Seluruh faktor positif tersebut mendorong masuknya dana asing (foreign inflows) sehingga membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melambung 11,5% sejak awal tahun 2017 (year-to-date). Namun, Bonny mengingatkan investor agar tetap mewaspadai berbagai faktor seperti perubahan kondisi politik nasional, keterbatasan stimulus fiskal dan moneter, serta kebijakan pemerintah Amerika Serikat dan China.

Meskipun demikian, investor masih berpotensi untuk dapat menikmati hasil dari penguatan modal di pasar modal Indonesia. Bonny menjelaskan, saat ini kenaikan IHSG di bursa masih lebih rendah dibandingkan Indeks di bursa beberapa negara lain seperti Korea Selatan, Singapura, Hong Kong, Filipina, dan India. “Secara jangka panjang, masih terbuka potensi kenaikan harga saham di Bursa Efek Indonesia,” pungkas Bonny.

Top