NAVIGATION

TRENDING POSTS

1 Hotel | Hotel

Ekspansi Parkside Hotels & Resorts di Tanah Air

2 Highlight | Hotel | Millenium Hotel Sirih Jakarta

Sambut Tahun Baru 2017 Bersama Millennium Hotel Sirih Jakarta

3 Gaya Hidup | Tekno

Parenting di Era Digital

Berkenalan (Kembali) dengan Manajemen Laba

Berkenalan (Kembali) dengan Manajemen Laba

Agar terhindar dari pelanggaran pemalsuan laporan, mari kita pelajari kembali bagaimana manajemen laba seharusnya dipraktikkan.

Marketplus.co.id  – Untuk mengkaji mengenai manajemen laba, mari kita awali dengan definisi dari Mulford (2010). Dalam bukunya, ia menjelaskan bahwa manajemen laba merupakan bentuk permainan angka-angka akuntansi. Beberapa manajemen laba dilakukan dalam dua kategori yaitu: di dalam fleksibilitas batasan yang ditentukan Standar Akuntansi Keuangan (SAK), dan manajemen laba berada di luar batasan SAK sehingga menjadi pelanggaran.

 

Maka dari itu, penting bagi kita untuk memahami dan membedakan antara kondisi yang mendorong perlu melakukan manajemen laba dengan imbalan yang mendasari dilakukannya hal tersebut. Misalnya, perusahaan melakukan manajemen laba dengan menyesuaikan laba tahun berjalan berdasarkan ramalan konsensus di pasar modal. Harapannya adalah imbalan harga saham di pasar modal tidak turun drastis. Atau misalnya perusahaan melakukan manajemen laba karena sedang mempersiapkan IPO dengan harapan perusahaan dapat menyajikan laba terbaik sehingga penjualan saham dapat dimaksimalkan.

 

Teknik Manajemen Laba Dalam Batasan SAK

 

Masih menurut Muford, terdapat berbagai macam teknik manajemen laba yang dilakukan dalam batasan SAK dengan bergantung pada pertimbangan dan putusan manajemen, yaitu:

  1. mengubah metode depresiasi;
  2. mengubah umur aset tetap;
  3. menetapkan cadangan piutang tak tertagih;
  4. menetapkan cadangan kewajiban warranty, dan banyak lagi.

 

Teknik Manajemen Laba di Luar Batasan SAK

 

Sedangkan untuk manajemen laba yang dilakukan di luar batasan SAK seperti;

  1. mengakui pendapatan atas penjualan tanpa mengirimkan barang yang dipesan;
  2. menilai terlalu rendah cadangan piutang dan mengubah cadangan menjadi pendapatan;
  3. kapitalisasi biaya yang tidak benar (terutama biaya bunga), dan lain-lain.

 

Jika hal di atas dilakukan secara berlebihan dengan upaya mengatur laba untuk penghilangan jumlah yang besar atau penghilangan penjelasan atas laporan keuangan, lalu tindakan tersebut diniatkan untuk menyesatkan dan menipu para pengguna laporan keuangan. Maka mengakibatkan laporan keuangan bermuatan kecurangan, dengan begitu apakah dapat disimpulkan bahwa manajemen laba adalah sesuatu hal yang buruk? Mari kita kaji lebih lanjut mengenai penilaian naik dan buruknya manajemen laba di artikel ini.

 

Editor: Andiana Moedasir

Top