NAVIGATION

TRENDING POSTS

1 Highlight | Hotel | Millenium Hotel Sirih Jakarta

Sambut Tahun Baru 2017 Bersama Millennium Hotel Sirih Jakarta

2 Gaya Hidup | Tekno

Parenting di Era Digital

3 Food &Beverage | Highlight | Products

Mulai 1 April 2017, Ichitan Bagikan Hadiah Rp300 Juta

Siapa dan Bagaimana ASEAN MILLENNIALS Hidup di Era Digital?

ASEAN Millennials: Perbedaan antara 1980an dan 1990an Membandingkan antara 1980an dan 1990an ke dalam perspektif yang lebih dalam.

Marketplus.co.id – Millennials, atau mereka yang lahir antara 1980an dan 1990an, telah mencuri perhatian industri marketing dunia. Dengan nilai-nilai baru mereka serta kefasihannya dalam teknologi digital, Millennials sangat berbeda dari generasi-generasi sebelumya, dan sangatlah sulit untuk menjangkau mereka dengan pendekatan marketing tradisional. Millennials sangatlah dominan di negara-negara ASEAN, karena sebagian besar populasinya adalah anak muda.

Namun demikian, merujuk ke pergeseran sosioekonomi yang dramatis di negara-negara ASEAN baru-baru ini, sulit untuk mendefinisikan sebuah rentang usia yang sangat lebar tersebut ke dalam satu entitas tertentu.

ASEAN Millennials: Perbedaan antara 1980an dan 1990an Membandingkan antara 1980an dan 1990an ke dalam perspektif yang lebih dalam, HILL ASEAN menemukan bahwa setiap kelompok generasi memiliki perilaku yang berbeda akan kehidupan dan pekerjaan, interaksi digital, dan juga kebiasaan belanja mereka

Pembagian Generasi ASEAN Millennials dan Cara Menjalani Kehidupan

Karena itu, untuk studi ini, HILL ASEAN, yang memelajari persepsi dan kebiasaan dari sei-katsu-sha (kehidupan dan gaya hidup masyarakat yang tidak hanya berkutat di kegiatan belanja), membagi generasi tersebut ke dalam kelompok yang lahir di tahun 1980an dan 1990an. Analisa dari riset ini menghasilkan sebuah kesenjangan perilaku di antara kelompok usia mereka, terutama bagaimana mereka menjalankan kehidupan dan bekerja, penggunaan teknologi digital, perilaku belanja, dan masih banyak lagi.

Referensi: Persepsi akan kesenjangan generasi pada Millennials di ASEAN ketika HILL ASEAN tanyakan kepada Millennials yang lahir di tahun 1980an dan 1990an di enam negara ASEAN (Thailand, Indonesia, Singapura, Malaysia, Vietnam, Filipina (“ASEAN-6”) apakah mereka melihat ada kesenjangan generasi, skor untuk generasi 1980an terhadap mereka yang lahir di tahun 1990an adalah 70% lintas ASEAN-6, dan 65% untuk Indonesia. Sementara skor untuk mereka yang lahir di tahun 1990an terhadap generasi kelahiran 1980an tercatat 66% lintas ASEAN-6 dan 65% untuk Indonesia.

Perbandingan Dua Generasi dalam ASEAN Millennials

Millennials yang lahir di tahun 1980an dipengaruhi oleh masa lalu yang sulit, dan juga masa depan yang menjanjikan. Oleh karena itu, mereka menjadi lebih fleksibel terhadap kehidupan dan pekerjaan, namun tetap ingin menggapai kesempatan yang terlihat di depan mereka. Banyaknya sisi kehidupan juga terjadi pada dunia digital, di mana mereka menggunakan internet sebagai “panggung” untuk menciptakan sebuah persona yang dapat diakui oleh orang lain.

Lebih dari itu, ketika generasi 1980an pergi berbelanja, mereka ingin memilih barang yang terbaik untuk membantu mereka menciptakan persona tersebut. Jadi, untuk generasi 1980an, mereka selalu membandingkan produk di dua platform pembelanjaan (Online & Offline) untuk mendapatkan barang yang terbaik, sehingga menjadikan fase perbandingan ini sangatlah penting.

Karena itu, HILL ASEAN menyebut mereka Curator 1980s yang artinya mereka ingin diterima di segala tataran yang ada. Mereka akan menampilkan persona yang berbeda dan memilih informasi sehingga dapat fleksibel dalam meminimalisasi resiko dan memaksimalkan kesempatan.

Sebaliknya, Millennials yang lahir pada tahun 1990an hidup di situasi kehidupan masa depan yang lebih menjanjikan. Mereka hanya ingin bekerja sesuai dengan apa yang mereka rasa cocok dan sukai tanpa memisahkan kedua elemen itu. Kecenderungan yang sama juga terjadi di dunia digital yang memperlihatkan generasi 1990an tidak memiliki kesenjangan antara dunia nyata dan virtual. Digital hanyalah bagian dari kehidupan sehari-hari mereka, sehingga mereka selalu menampilkan warna yang sesungguhnya.

Kata kunci berikutnya untuk 1990an adalah “pengalaman”, terutama pola belanja mereka yang tidak berhenti setelah mereka berbelanja. Mereka cenderung untuk berbagi pengalaman mereka pasca belanja. Gaya belanja mereka tidak lagi linear, namun membentuk suatu lingkaran proses. Karena itu, HILL ASEAN menyebut mereka Convergenator 1990s, yang secara sederhana ingin mengerjakan apa yang mereka sukai dan berbagi momen dan perasaan kepada orang lain, juga berbagi pengalaman dan evaluasi secara jujur baik terhadap dunia sebenarnya maupun virtual.

Kerangka Survei Kesenjangan Generasi

Metode survei : Melalui Internet

Responden: Pria dan wanita yang lahir pada kurun 1970an, 1980an, dan 1990an

Area Survey: Singapura, Kuala Lumpur (Malaysia), Bangkok (Thailand), Jakarta (Indonesia), Ho Chi Minh City (Vietnam), Manila (Filipina)

Ukuran Sampel: 300 sampel per kota; total 1.800 sampel

Alokasi: Proporsional dengan komposisi demografis pada tiap negara Implementasi survei: Tokyo Survey Research Inc.

Periode survei: September 2016

 

Top