NAVIGATION

TRENDING POSTS

1 Highlight | Hotel | Millenium Hotel Sirih Jakarta

Sambut Tahun Baru 2017 Bersama Millennium Hotel Sirih Jakarta

2 Gaya Hidup | Tekno

Parenting di Era Digital

3 Food &Beverage | Highlight | Products

Mulai 1 April 2017, Ichitan Bagikan Hadiah Rp300 Juta

Restoran MAM, Bisnis Rasa Keluarga

Restoran MAM, Bisnis Rasa Keluarga

Empat dari lima pendiri MAM merupakan ibu dan istri yang sudah sibuk dengan urusan keluarga. Tapi hebatnya, mereka bisa mengatur waktu dengan baik antara bisnis dan keluarga.

Marketplus.co.id – Sejak resmi beroperasi pada 15 Maret 2017, Restoran MAM di Senayan City, Jakarta, yang menawarkan menu fast food sehat itu cenderung ramai. “Ini sebetulnya di luar ekspektasi kami,” sebut salah satu pendiri MAM, Reina Latief Wardhana, saat dijumpai awal April 2017.

Ia dan empat pendiri lainnya, bahu membahu di resto baru itu. Saat kurang pegawai, Reina tak ragu masuk dapur. Begitu juga dengan pendiri lainnya, Jessica Halim, ataupun Tana Suwardhono yang memang bertugas meracik menu.

“Putri juga begitu, akan bantu. Kalau Dian ada di sini, ya dia bantu nyapu atau membersihkan meja jika diperlukan,” kata Reina menyebut dua pendiri lainnya, Putri Hardiman Alamsyah dan Dian Sastrowardoyo.

Pengalaman tiga tahun menjalankan bisnis bersama di bawah bendera merek  3 Skinny Minnies yang memopulerkan layanan katering diet sehat, membuat kelimanya tak ragu mengisi posisi-posisi kosong, termasuk jika harus turun ke dapur.  Karena terbiasa, mereka bisa cepat mencari solusi saat insiden-insiden terjadi di dapur. Misalnya, ketika harus menentukan sayur pengganti ketika kehabisan stok jenis sayuran sesuai standar menu.

“Kami memang sudah pernah mengerjakannya sendiri. Yang begitu-begitu, enggak kaget lagi. Dulu waktu ngerjain 3 Skinny Minnies, kami mulai dari nol. Dulu kita bangun pagi buat nyuci sayur. Jadi biasa dengan masalah-masalah di dapur,” kata Reina diiringi anggukan Jessica (Jeje).  

Kini menu-menu yang tadinya digarap di rumah untuk layanan katering bertransformasi menjadi menu resto. Misalnya, The Disastr Burger, burger dengan isian wagyu, keju dan karamel bawang bombay. Selain burger, MAM juga menyediakan varian menu sandwich. Misalnya, K-pop Sandwhich yang terasa lezat dengan daging bulgogi khas Korea. Ada juga menu rice bowl yaitu K-pop Bowl dan J-pop Bowl, dan appetizer yaitu snapper poppers.

Tana kebagian tugas untuk meracik dan memoles menu-menu katering menjadi menu restoran. Yang jelas, sama halnya dengan 3 Skinny Minnies, semua makanan di MAM tidak menggunakan aditif, pewarna makanan, dan pengawet. Burger dan sandwich dibuat dari gandum dengan memakai saus homemade. Pada menu nasi, digunakan nasi coklat atau nasi merah yang kaya serat, antioksidan, dan zat gizi.

“Prosesnya panjang sampai kemudian jadi SOP-nya,” sebut Tana.

Ia berkali-kali menjajal racikan menu, mulai dari pasangan saus hingga teknik memasak. Dalam tiga bulan persiapan buka resto, bukan cuma Tana dan pendiri MAM yang mencicipi. Tapi juga para investor dan keluarga besar. Hingga kemudian terpilih menu dan lima saus andalan yang merepresentasikan lima pendiri MAM.

Restoran MAM dan Dukungan Keluarga

Keputusan terjun di dunia retail sebetulnya bukan keputusan yang direncanakan, meski bukan sesuatu yang impulsif. “Kalau kepengin, ya ada lah. Tapi dulu memang nggak kebayang punya retail seperti ini,” kata Jeje.

Penyebabnya, empat dari lima pendiri MAM merupakan ibu dan istri yang sudah sibuk dengan urusan keluarga. Kelimanya percaya, bisnis tidak boleh membuat mereka alpa dengan kewajiban rumah tangga. Karena itu, merambah dunia retail belum termasuk dalam rencana bisnis meski sudah jadi keinginan.

“Kami bisnis dengan tetap mengutamakan keluarga. Kalau misalnya ada yang harus urus anak, ya lainnya bantu kerjakan apa yang sedang terhambat. Pokoknya bisnis nggak boleh ganggu urusan kami dengan keluarga,” jelas Reina.  

Namun, saat melihat tempat kosong di Senayan City akhir tahun 2016, secara intuitif mereka memutuskan untuk mengambil kesempatan terjun ke retail. Dalam prosesnya, banyak hal baru yang kemudian mereka hadapi. 

Jeje yang biasa mengurus keuangan, jadi punya pengalaman berurusan langsung dengan konsumen yang tak puas. Putri yang selama ini mengurus administrasi bisnis, juga punya pengalaman serupa. Namun hal-hal baru tak membuat mereka gentar. Pengalaman bisnis sebelumnya membuat hubungan kelima pendiri semakin solid. Ditambah lagi, dukungan datang dari segala arah, terutama dari keluarga.

“Keluarga, utamanya para suami kami, sangat full support,” kata Tana.

Bukan hanya dukungan dan investasi, para suami itu pun tak ragu turun tangan membantu istri-istri mereka berjibaku melayani pelanggan di akhir pekan. Apalagi pada minggu-minggu pertama Restoran MAM beroperasi.

Seperti siang itu, dukungan keluarga pun terlihat. Sejumlah anak-anak muda berdiri mengenakan celemek MAM. “Itu para keponakan lagi pulang ke Jakarta. Dikaryakan saja,” kata Tana lalu terbahak.

 

Editor: Yudho Raharjo

Top