NAVIGATION

TRENDING POSTS

1 Hotel | Hotel

Ekspansi Parkside Hotels & Resorts di Tanah Air

2 Highlight | Hotel | Millenium Hotel Sirih Jakarta

Sambut Tahun Baru 2017 Bersama Millennium Hotel Sirih Jakarta

3 Gaya Hidup | Tekno

Parenting di Era Digital

Tiga Faktor Pendorong Tingkat Konsumsi Energi di Dunia

Tiga Faktor Pendorong Tingkat Konsumsi Energi di Dunia

Acara Innovation Summit 2017 di Jakarta {Dok: Schneider Electric }

Salah satunya adalah Urbanisasi.

Marketplus.co.id – Schneider Electric, perusahaan global spesialis di bidang manajemen energi dan automasi, menggelar Innovation Summit 2017 di Jakarta. Innovation Summit adalah sebuah acara yang mengumpulkan para pemangku kepentingan dan pengambil keputusan di dalam industri untuk membahas isu-isu terkini dalam bisnis energi dan mempelajari lebih lanjut tentang inovasi Schneider Electric di setiap level kehidupan. Salah satu sesi penting di dalam acara ini adalah diskusi panel bertema The New World of Energy in 3Ds” yang mengangkat pentingnya upaya bersama untuk menciptakan dunia baru bagi energi masa depan.

Country President Schneider Electric Indonesia, Xavier Denoly, melalui siaran pers yang diterima Marketplus.co.id, Jumat, 7 April 2017, mengemukakan sebagai perusahaan global di bidang pengelolaan energi dan automasi yang beroperasi di lebih dari 100 negara, Schneider Electric menawarkan solusi terpadu di beberapa segmen pasar, termasuk menjadi pemimpin di sektor energi dan infrastruktur, proses industri, sistem building automation, dan data center/jaringan, serta menempati posisi terdepan di sektor residensial. Xavier mengatakan acara Innovation Summit 2017 adalah salah satu perwujudan dari slogan Perusahaan, Life is On: komitmen untuk menyediakan solusi pengelolaan energi dan automasi yang aman dan terandalkan di mana pun.

Untuk siapa pun, dan kapan pun,” katanya.

Xavier mengungkapkan diskusi panel ‘The New World of Energy in 3Ds’ ingin mengedepankan tiga dorongan mega-trend yang secara signifikan mendorong tingkat pengonsumsian energi di seluruh belahan dunia, yaitu: Urbanisasi, digitalisasi, dan industrialisasi.

“Ketiga hal ini telah mengakibatkan perubahan yang siginifikan pada dunia energi,” ujarnya.

Dengan menghadirkan para pakar di bidang pengelolaan energi dari berbagai latar belakang, yaitu Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI, Maritje Hutapea; Anggota Dewan Energi Nasional Republik Indonesia, Tumiran; Kepala Pokja (Kelompok Kerja) PLN, Ignatius Rendroyoko; Guru Besar Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Ontoseno Penangsang dan Marketing Director For Energy Business Schneider Electric, Surya Fitri. Diskusi ini juga ingin menggali potensi kolaborasi antara pemerintah dan pihak swasta dalam menciptakan pengelolaan energi di Indonesia yang lebih aman, terandalkan, efisien, berkelanjutan, dan saling terkoneksi.

Diskusi ini menjadi penting karena perubahan di dalam pengelolaan energi memang mutlak dibutuhkan. Di masa lalu, energi selalu tersentralisasi dalam hal pembangkitan, yaitu bermuara dari sumber energi yang tradisional, dan didistribusikan melalui grid elektrikal yang bersifat satu arah. Saat ini semuanya telah berubah ke dunia energi yang baru dengan pembangkit yang lebih terdesentralisasi, penambahan sumber baru terbarukan seperti tenaga matahari dan angin, energi yang terdekarbonisasi dan bersifat dua arah, dan juga pengaruh yang kuat dari permintaan konsumen.

Tumiran di dalam diskusi mengemukakan jika Pemerintah baru saja mengeluarkan kebijakan baru melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2017 mengenai Rencana Umum Energi Nasional. Peraturan ini disusun sebagai panduan untuk bagaimana mengelola energi dalam negeri sehingga tetap aman hingga tahun 2050 nanti.

Salah satu poin penting dari Peraturan tersebut menurut Tumiran adalah mengenai pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT). Pemanfaatan EBT saat ini baru mencapai sekitar 2 persen dari total potensi EBT yang ada. Potensi tersebut menjadi dasar rencana pengembangan EBT paling sedikit 23 persen dari total bauran energi primer pada tahun 2025 dan paling sedikit 31 persen dari total bauran energi primer pada tahun 2050.

“Hal itu tentunya perlu didukung oleh infrastruktur industri domestik yang diperkuat,” katanya.

Hal senada disampaikan oleh Maritje. Menurutnya pemerintah bertanggungjawab dalam mengeluarkan regulasi yang kondusif, mengawasi dan membina implementasinya, serta mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berkontribusi dalam strategi pencapaian pengelolaan energi yang lebih hemat dan efisien.  Oleh karena itu, para pelaku industri menurutnya memegang peranan yang sangat penting.

“Dalam mengakselerasi tercapainya program-program yang kami canangkan,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Schneider Electric ingin turut serta berkontribusi dalam upaya bersama untuk menciptakan dunia baru bagi energi masa depan. Melalui rangkaian inovasinya, Schneider Electric akan mendorong pengelolaan energi yang lebih Digitized (memastikan semua teknologi harus dapat berkomunikasi satu sama lain untuk menjadikan mereka lebih terkontrol dan efisien), Decarbonized (mengedepankan teknologi terbarukan, mengingat di masa depan diyakini bahwa 50 persen dari teknologi energi akan berasal dari energi terbarukan), dan Decentralized (mewujudkan pembangkit dan pengelolaan energi di semua tempat; dalam infrastruktur, dalam jaringan dan dalam grid).

Inovasi Schneider Electric terangkum dalam EcoStruxure™, sebuah arsitektur dan platform teknologi yang menyatukan energi, automasi dan juga software yang menunjang pengelolaan energi secara lebih baik dan terukur, terutama dalam hal keamanan, keterandalan, efisiensi, keberlanjutan dan konektivitas. Platform ini memanfaatkan Internet of Things (IoT) sehingga semua unit ataupun perangkat dapat dikendalikan melalui internet protocol (IP). Pada akhirnya, tercipta Innovation at Every Level atau inovasi di setiap level pengelolaan energi, dengan produk yang saling terkoneksi, edge control, ragam aplikasi, fungsi analitik hingga di level pelayanan.

Sebagai jembatan antara teknologi informasi (IT) dan teknologi operasional (OT), EcoStruxure™ memungkinkan konsumen memaksimalkan fungsi dari data yang mereka miliki. Secara spesifik, platform ini membantu menerjemahkan data menjadi sebuah informasi yang langsung dapat ditindaklanjuti sehingga mampu menunjang keputusan bisnis yang lebih baik. Melalui EcoStruxure™, Schneider Electric siap mengawal Indonesia untuk menyongsong dunia baru pengelolaan energi.

Editor: Yudho Raharjo

Top