NAVIGATION

TRENDING POSTS

1 Highlight | Hotel | Millenium Hotel Sirih Jakarta

Sambut Tahun Baru 2017 Bersama Millennium Hotel Sirih Jakarta

2 Gaya Hidup | Tekno

Parenting di Era Digital

3 Food &Beverage | Highlight | Products

Mulai 1 April 2017, Ichitan Bagikan Hadiah Rp300 Juta

Studi: Delay Ketika Video Streaming Dapat Memicu Stres

Studi: Delay Ketika Video Streaming Dapat Memicu Stres

Muhammad Afrizal Abdul Rahim, Head of Ericsson ConsumerLab Southeast Asia and Oceania (kedua dari kiri) bersama tim business builder dari Ericsson pada demo neuroscience yang menunjukkan secara langsung hubungan antara delay saat streaming video dan tingkat stress pengguna smartphone. Demo ini merupakan bagian dari 5G Showcase yang diadakan di Four Seasons Hotel Jakarta, untuk memperingati 110 tahun keberadaan Ericsson di Indonesia {Dok:Erricson Indonesia}

Bahkan lebih tinggi dibanding ketika berkendara di tengah kemacetan Jakarta.

Marketplus.co.id – Menunggu video untuk loading di smartphone bisa mengakibatkan tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan dengan berkendara di kemacetan kota Jakarta. Hal itu adalah salah satu temuan dari Neuroscience Report yang baru dipublikasikan oleh Ericsson ConsumerLab.

Studi yang dilakukan oleh Ericsson ConsumerLab ini melibatkan 170 pengguna smartphone di Jakarta dengan rentang usia 18 hingga 50 tahun dan menganalisa hubungan antara waktu yang dibutuhkan untuk mengakses konten (time-to-content) pada telepon genggam terhadap tingkat stres para pengguna, selain keterkaitan emosional pengguna dengan merek operator selulernya.

Studi ini menemukan bahwa generasi milenial yang berumur 18 hingga 35 tahun, yang mewakili generasi muda pengguna telepon seluler dan data, adalah kelompok yang paling sensitif. Terutama dengan generasi milenial yang berusia lebih muda, yaitu antara 18-24 tahun, hanya 2 detik delay pada loading video di Youtube dapat menyebabkan kenaikan sebanyak 16 persen pada tingkat stres kognitif, sedangkan rentang usia 25 hingga 34 tahun kehilangan minat sepenuhnya apabila sebuah video delay berlangsung lebih dari empat detik.

Hasil dari sebuah studi komparatif menunjukkan bahwa menunggu sebuah video untuk diputar menyebabkan stres sebanding dengan kejadian tidak menyenangkan, seperti menonton film horror dan bertengkar dengan pasangan.

Head of Ericsson ConsumerLab South East Asia & Oceania, Afrizal Abdul Rahim, melalui siaran pers yang diterima Marketplus.co.id, Jumat, 7 April 2017 mengemukakan masyarakat Indonesia memiliki ketertarikan tinggi terhadap konten digital, dengan Youtube berada pada ranking pertama di antara aplikasi smartphone berdasarkan pengguna aktif bulanan.

Namun, masalah video streaming menurut Afrizal sering kali terjadi. Sebanyak 30 persen dari pengguna menghadapi masalah ini sehari-hari. Seiring dengan semakin canggihnya pengguna smartphone, mereka pun akan mengharapkan lebih banyak dari penyedia jaringan mereka termasuk konten yang bisa diakses secara cepat dan tanpa gangguan.

“Keinginan ini diperkirakan akan meningkat apabila Virtual Reality dan Augmented Reality menjadi lebih umum,” katanya.

Di samping mengukur level stres dikarenakan delay pada loading video, studi ini juga membahas stres yang disebabkan oleh delay saat mengunggah sesuatu pada media sosial. Studi ini juga menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia merasakan “selfie stress‟ apabila mereka mengalami delay saat mengunggah gambar di jaringan media sosial.

Sama halnya dengan loading video, titik puncak stres diantara pengguna Indonesia saat mengunggah gambar di media sosial lewat smartphone adalah empat detik, dimana 47 persen dari pengguna akhirnya kehilangan motivasi atau mengurungkan niat mempublikasi foto seperti selfie. Stres yang dialami oleh pengguna karena delay ketika loading memiliki efek langsung pada seluruh ekosistem mobile.

Studi ini mengungkapkan bahwa kepuasan pengguna turun secara signifikan ketika mereka mengalami delay selama dua detik dibandingkan jika mereka menikmati sebuah video tanpa gangguan. Baik produsen handset maupun penyedia konten melihat brand engagement mereka menurun jika waktu delay tinggi, menunjukkan bahwa pengguna menyalahkan semua pemain ekosistem saat layanan memburuk.

Net Promoter Score juga menunjukkan hal yang serupa; skor rata-rata turun sebanyak 14 poin apabila pengguna mengalami delay lebih dari 2 detik.

Head of Network Products Ericsson Indonesia and Timor Leste, Ronni Nurmal,  mengatakan penurunan loyalitas yang berhubungan dengan delay web atau video tidak hanya memengaruhi operator seluler, tetapi seluruh ekosistem. Penyedia layanan seluler di Indonesia dapat memanfaatkan laporan ini untuk menyesuaikan tolak ukur performa jaringan mereka sesuai dengan yang diharapkan pengguna. Selain itu, menurut Ronni mereka juga bisa mengoptimalkan jaringan untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang semakin tinggi dan merencanakan teknologi masa depan.

“Seperti 5G dan Internet of Things (IoT),” ujarnya.

Ericsson, dengan berkolaborasi bersama pemerintah, mitra dan pelanggan, telah berinovasi selama 110 tahun di Indonesia. Ericsson telah menjadi perintis 1G, 2G, 3G, dan 4G, dan akan terus mendorong Indonesia menjadi masyarakat terkoneksi yang sepenuhnya dengan dukungan 5G, IoT, dan Cloud.

Editor: Yudho Raharjo

Top