NAVIGATION

TRENDING POSTS

1 Highlight | Hotel | Millenium Hotel Sirih Jakarta

Sambut Tahun Baru 2017 Bersama Millennium Hotel Sirih Jakarta

2 Gaya Hidup | Tekno

Parenting di Era Digital

3 Food &Beverage | Highlight | Products

Mulai 1 April 2017, Ichitan Bagikan Hadiah Rp300 Juta

Ungkapkan Cinta di Hari Valentine dengan Batik Truntum

Ungkapkan Cinta di Hari Valentine dengan Batik Truntum

Motif batik truntum {Dok:Sobat Budaya}

Sering digunakan untuk adat perkawinan tradisional Jawa. Bercerita tentang harapan akan kesetiaan yang harmonis.

Marketplus.co.id – Setiap negara memiliki cara unik dalam mengungkapkan kasih sayang pada perayaan Hari Valentine. Di Sydney, Australia sebagian masyarakatnya menjadikan patung sapi berwarna putih dan pink berpasangan sebagai penanda perayaan hari valentine. Di Filipina, hari valentine ditandai dengan acara nikah masal. Lalu bagaimana dengan tradisi Indonesia mengungkapkan cinta pada hari kasih sayang?

Berbagai cara dilakukan untuk memperingati acara yang setiap tahun jatuh pada 14 Februari. Biasanya sebagian orang mengisinya dengan makan malam, nonton, tukar kado memberikan cokelat atau memberikan benda-benda lainnya yang diyakini merepresentasikan sebagai ungkapan kasih sayang mereka.

Namun Sobat Budaya memilliki sudut pandang tersendiri mengenai simbol kasih sayang ini. Melalui siaran pers, Selasa, 14 Februari 2017 yang diterima dari Sobat Budaya, bagi sebagian orang yang berasal dari suku Jawa, mengungkapkan cinta dan kasih sayang secara tradisional adalah dengan mengenakan batik truntum.

Truntum diambil dari asal kata bahasa Jawa yaitu “taruntum” artinya “tumbuh kembali” atau “bersemi kembali” bisa juga berarti “semarak kembali”. Motif Batik Truntum Batik truntum merupakan gambaran serupa kuntum; kembang di langit yang bentuknya digambarkan serupa kembang tanjung.

Batik yang sering digunakan untuk adat perkawinan tradisional Jawa ini, bercerita tentang harapan akan kesetiaan yang harmonis. Filosofi ini sering dinarasikan pula dengan filosofi hubungan spiritual persona Jawa dengan Tuhannya. Hal ini berkaitan erat dengan sejarah diciptakan batik truntum, seperti yang dijelaskan di dalam buku Kode-Kode Nusantara.

Pada zaman Sunan Pakubuwono III Surakarta Hadiningrat sekitar abad ke-18, Ratu Kencana merasa diabaikan oleh sang suami karena kesibukannya dan adanya selir baru di keraton. Kala kecemburuannya merasuk, Sang Ratu semacam mendapat sebuah petunjuk dari Yang Maha Kuasa untuk mengungkapkan kasih sayangnya dengan membuat batik truntum.

Dalam proses pembuatannya kala itu, Sang Ratu terinspirasi dari tebaran bintang-bintang di langit. Perbintangan diyakini selalu erat kaitannya dengan kalender tradisional di berbagai belahan dunia. Karena kesetiaan bintang untuk berada pada posisi dan waktu tertentu yang menjaga akurasi penandaan manusia dan waktu.

Oleh karena itu, batik teruntum menjadi sebuah simbol kesetiaan, kasih sayang, dan juga keharmonisan bagi sebagian orang yang berasal dari suku Jawa.

Tentang Sobat Budaya

Sobat Budaya adalah sebuah komunitas pemuda yang berupaya melestarikan budaya tradisional Indonesia melalui gerakan sejuta data budaya (GSDB). GSDB adalah suatu upaya gotong royong untuk membangun perpustakaan digital budaya Indonesia (PDBI) dengan alamat situs www.budayaindonesia.org.

Gerakan yang berawal dari Kota Bandung, diluncurkan pertama kali di Istana Negara tanggal 13 Desember 2011 yang hingga saat kini telah berkembang dan merambah di beberapa daerah di Indonesia.

Saat ini telah tercatat 43 Sobat Budaya di daerah-daerah yang dibentuk secara partisipatif oleh para pemuda di daerah tersebut. Untuk memberikan payung hukum atas komunitas-komunitas tersebut, maka sejak 7 Juli 2014, telah berdiri Yayasan Sobat Budaya.

Editor: Yudho Raharjo

Top