NAVIGATION

Impor Dihentikan Pemerintah, Petani Jagung Diuntungkan

Impor Dihentikan Pemerintah, Petani Jagung Diuntungkan

Tanaman jagung {Dok: PT CPI}

Edukasi harus terus-menerus dilakukan agar kualitas produk meningkat.

Marketplus.co.id – Salah satu program kerja PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI) pada awal tahun 2017 adalah mengedukasi  petani jagung terkait pengelolaan pasca panen. Edukasi dilakukan agar harga jagung lebih maksimal sekaligus memberikan penjelasan terkait skema jika ingin menjadi supplier langsung ke CPI.

Edukasi kepada petani jagung tersebut diharapkan CPI dapat turut berkontribusi terhadap peningkatan taraf kesejahteraan petani jagung di Indonesia serta mengoptimalkan prognosa perseroan atas komoditas tersebut. CPI mengedukasi para petani, jagung-jagung seperti apa yang bisa diterima dengan harga tinggi, kadar airnya berapa persen dan kualitas jagung yang diinginkan.

Pada Februari 2017, CPI melakukan edukasi kepada kelompok tani komoditas jagung di wilayah Medan dan Makasar, namun tidak terlepas kemungkinan akan dilakukan pula di kota-kota besar lainnya di seluruh Indonesia. Edukasi dilakukan agar lebih menggairahkan petani dalam berproduksi sehingga pola penanaman jagung bisa bersifat berkelanjutan dan produktif.

Acuannya nilai tukar petani bisa lebih meningkat dan yang tidak kalah penting untuk diketahui petani, adalah, tidak ada pungutan jika ingin memasok secara langsung ke CPI, karena yang diprioritaskan adalah kualitas. Produsen pakan ternak CPI, berkomitmen menyerap hasil panen secara langsung dari petani sesuai dengan patokan harga referensi pemerintah.

Public Relations & Marketing Event CPI, Santo Kadarusman, melalui siaran pers yang diterima marketplus.co.id, Jumat, 17 Februari 2017, mengatakan penyerapan jagung lokal diharapkan dapat lebih memudahkan petani menjual hasil produksi.

“Serta mendapatkan harga beli yang lebih tinggi,” katanya.

CPI menurut Santo juga mendorong kesejahteraan petani lokal dengan memberikan harga beli yang baik, mengedukasi petani untuk menghasilkan jagung berkualitas yang berstandar nasional dan memudahkan segala proses jual beli yang transparan dan bebas pungutan liar (pungli)

Sebagai contoh untuk wilayah Sumatera Bagian Utara Sumbagut, Santo memberi contoh pada saat ini tingkat kebutuhan jagung untuk konsumsi pakan ternak mencapai 1,2 juta ton per tahun. CPI menurut Santo mampu menyerap jagung mencapai 800 hingga 1.000 ton per hari.

“Stok akan aman andai sedang panen raya, CPI tidak khawatir akan ketersediaan jagung,” ujarnya.

Santo menambahkan kebijakan pemerintah yang menghentikan 40 persen impor jagung memiliki keuntungan bagi petani jagung. Menurutnya dengan dihentikannya impor jagung, petani jagung diharapkan bisa lebih bergairah menanam jagung karena harga jual yang tinggi. Namun, disisi lain, apabila pemerintah tidak segera merealisasikan penambahan lahan baru untuk penanaman jagung, ketersediaan jagung secara nasional menurutnya akan terganggu.

CPI menurut Santo melihat hal itu sebagai sesuatu yang baik dan CPI mencoba mendorong program pemerintah dengan memberikan pasar yang luas bagi petani jagung.

“Untuk menjual hasil panennya,” katanya.

Editor: Yudho Raharjo

Top