NAVIGATION

TRENDING POSTS

1 Hotel | Hotel

Ekspansi Parkside Hotels & Resorts di Tanah Air

2 Highlight | Hotel | Millenium Hotel Sirih Jakarta

Sambut Tahun Baru 2017 Bersama Millennium Hotel Sirih Jakarta

3 Gaya Hidup | Tekno

Parenting di Era Digital

Ramai-Ramai Jadi Socioprenuer, Jawab Tantangan Permasalahan Sosial

Ramai-Ramai Jadi Socioprenuer, Jawab Tantangan Permasalahan Sosial

Bisnis dijalankan demi keberlangsungan misi sosial.

Marketplus.co.id – Terminologi wirausaha sosial atau yang lebih terkenal dengan istilah socioprenuer semakin sering terpapar di media. Setelah pekan lalu DBS Foundation bekerja sama dengan UKM Center FEB Universitas Indonesia meluncurkan e-book Panduan Wirausaha Sosial, kini empat perusahaan sosial Indonesia berkolaborasi membentuk Platform Usaha Sosial, atau PLUS. Keempat perusahaan itu ialah Boston Consulting Group, Indika, Yayasan Cinta Anak Bangsa, dan Vasham.

“Ini menjadi wadah bagi para wirausahawan sosial untuk berkolaborasi mengembangkan bisnis. Kami harap PLUS dapat membangun ekosistem social entrepreneurship,” ujar Veronica Colondam, Co-Founder PLUS yang juga Founder Yayasan Cinta Anak Bangsa, di @america Jakarta, Selasa, 31 Januari 2017.

Wirausaha sosial sendiri didefinisikan bermacam-macam menurut mahzab pemikiran usaha yang lebih dulu berkembang di suatu negara. Namun, pada e-book Panduan Wirausaha Sosial disebutkan, kriteria terpenting dari sebuah sociopreneurship ialah adanya misi untuk menuntaskan masalah sosial.

“Bisa dibilang, misi sosial itu lah yang menjadi reason to live-nya sebuah wirausaha sosial,” jelas Dewi Maesari, peneliti dari UKM Center FEB Universitas Indonesia yang menulis e-book tersebut.

Pendapat tersebut disepakati Fajar Anugerah, senior partner Kinara Indonesia. Menurutnya, kewirausahaan sosial tak akan mengenal tren. “Selama masih ada masalah sosial yang harus dibereskan, maka bisnisnya pun akan menggarap area-area tersebut,” ujarnya.

Bukan sekadar menggalang dana

Selama ini, masyarakat mengenal Kitabisa.com, sebuah platform penggalangan dana bagi kampanye dan gerakan sosial, sebagai salah satu bentuk socioprenuership. Platform lain yang serupa, ialah GandengTangan. Platform ini memungkinkan publik memberi pinjaman bagi pemilik usaha yang membutuhkan modal

Namun sesungguhnya, model wirausaha sosial tidak sebatas itu. Di Indonesia, rata-rata kewirausahaan sosial tak jauh-jauh dari isu sosial, pangan, dan lingkungan.

Limakilo.id misalnya, menghubungkan petani di Indonesia dengan pasar. Diharapkan, masyarakat bisa membeli komoditas pangan langsung dari petani dengan harga lebih murah. Sementara, petani juga bisa mendapatkan keuntungan lebih banyak. Limakilo.id berniat memotong rantai distribusi agar bisa menekan harga jual tanpa harus membuat petani menderita.

“Sifatnya bisa B2B atau B2C. Pembeli sayur di limakilo.id bisa saja perorangan atau restoran dan katering,” ujar Lisa Wulandari, co-founder dan CMO Limakilo.id.

Menurut Lisa, tim-nya juga sudah mulai melakukan pengaturan agar petani bisa menanam sayur, seperti bawang merah, secara bergiliran. Tujuannya, agar pasokan tidak menumpuk sehingga mengakibatkan harga jatuh.

Slipper anyaman daun lontar karya para ibu-ibu di Flores yang dikelola oleh Du’Anyam. (Dok. Gandengtangan)

Wirausaha sosial lainnya, Du’Anyam, juga mengusung misi sosial serupa. Berangkat dari niat membantu para ibu agar memiliki akses kesehatan yang lebih baik, bentuk wirausaha sosial Du’Anyam berkembang lewat kerajinan daun lontar. “Agar budaya itu tidak punah, sekaligus memberikan ibu-ibu disana penghasilan tambahan untuk menjalankan gaya hidup yang lebih sehat,” kata Azalea Ayuningtyas, Co-Founder dan CEO Du’Anyam di Jakarta.

Demi mendapatkan penjualan yang rutin, Du’Anyam menawarkan produk-produk anyaman daun lontar ke sejumlah hotel di Bali yang umumnya memesan slipper atau sandal kamar.  Tim Du’Anyam juga memberikan referensi desain sehingga anyaman karyapara ibu-ibu di Flores itu bisa bernilai tinggi.

Melalui bisnis tersebut, ada tiga hal yang disasar Du’Anyam. Yang pertama, tentu saja agar misi sosial itu berjalan berkelanjutan. Yang kedua, melestarikan kerjajinan lokal. “Mereka juga lebih berdaya,  yang akhirnya dapat meningkatkan taraf hidup,” kata Ayu.

Editor: Yudho Raharjo

 

Top