NAVIGATION

TRENDING POSTS

1 Highlight | Hotel | Millenium Hotel Sirih Jakarta

Sambut Tahun Baru 2017 Bersama Millennium Hotel Sirih Jakarta

2 Gaya Hidup | Tekno

Parenting di Era Digital

3 Food &Beverage | Highlight | Products

Mulai 1 April 2017, Ichitan Bagikan Hadiah Rp300 Juta

Film Setan Jawa Awali World Premier di Melbourne

Film Setan Jawa Awali World Premier di Melbourne

Poster Film Satan Jawa {Dok: Setan Jawa}

Karya Sutradara Garin Nugroho.

Marketplus.co.id Sukses memukau penonton Indonesia pada pemutarannya September 2016 yang lalu, Setan Jawa, film hitam putih pertama Garin Nugroho yang didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation tersebut membuka world premiernya di Opening Night of Asia Pacific Triennial of Performing Arts di Melbourne, Australia pada 24 Februari 2017.

Pada pementasan itu, film hitam putih pertama Garin Nugroho ini akan diiringi komposisi asli orkestra gamelan Indonesia karya Rahayu Supanggah, seorang seniman musik yang telah dan masih memperkenalkan dan mempopulerkan musik gamelan Jawa ke masyarakat dunia selama lebih dari 40 tahun. Orkestra gamelan ini akan dibawakan secara langsung di depan layar dengan 20 pengrawit (pemusik gamelan) yang berkolaborasi dengan Melbourne Symphony Orchestra, orkestra simfoni tertua di Australia konduktor Iain Grandage yang telah meraih beragam penghargaan di Australia.

Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian, melalui siaran pers, Minggu, 26 Februri 2017, mengatakan Setan Jawa adalah proyek kolaborasi antara Garin Nugroho dan Rahayu Supanggah, seniman Indonesia yang konsisten mempopulerkan musik gamelan Jawa ke masyarakat dunia selama lebih dari 40 tahun.

Komposisi orkestra gamelan yang diciptakan oleh Rahayu Supanggah itu menurut Renitasari mampu memberikan sentuhan tradisional dan menghasilkan pertunjukan modern yang memiliki jiwa dan nilai-nilai estetika yang bersumber dari kekayaan budaya Indonesia. Renitasari mengatakan kesuksesan Setan Jawa karya Garin Nugroho yang dipentaskan di Jakarta pada September 2016 yang lalu ternyata juga menarik atensi dari luar negeri.

“Ini merupakan kesempatan yang baik untuk memperkenalkan musik tradisional Indonesia kepada masyarakat dunia,” katanya.

Poster Film Setan Jawa {Dok: Setan Jawa}

Setan Jawa dipentaskan di gedung Melbourne Art Centre, Australia dengan kapasitas 2.664 penonton. Film bisu hitam putih yang mengangkat mitologi Jawa ini juga menandai dedikasi Garin Nugroho yang telah berkarya selama 35 tahun di industri film. Film yang didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation ini adalah film tari kontemporer yang terinspirasi film bisu hitam putih Nosferatu (1922) dan Metropolis (1927). Film ini juga membawa kenangan masa kecil Garin Nugroho di Yogyakarta yang dipenuhi pesona pertunjukan wayang kulit yang diiringi oleh gamelan.

Garin yang menjadi produser sekaligus sutradara film Setan Jawa mengatakan sebagai film bisu hitam putih dengan iringan langsung gamelan serta dengan tema dunia mistik ini adalah hasil sebuah representasi dan kenangan masa kecil di rumahnya di Yogyakarta yang membawa masa lampau dan sekaligus masa kini.

Menurut Garin, Setan Jawa yang fokus pada mistik Jawa ini merupakan fenomena kontemporer dan eksperimentasi bahasa visual, menggabungkan visual arts, teater, tari, fashion, hingga musik.

“Dalam ruang bebas interpretasi,” ujarnya.

Setan Jawa bercerita tentang cinta dan tragedi kemanusiaan dengan latar waktu awal abad ke-20 yang ditandai lahirnya era industri yang menyisakan kemiskinan di tanah Jawa. Seiring dengan meluasnya kemiskinan, maka bertumbuh subur cara-cara mistik untuk meraih kekayaan, termasuk “Pesugihan Kandang Bubrah”. Pesugihan ini adalah cara mistik untuk mendapat kekayaan dari iblis, namun harus membayar dengan berubah menjadi tiang penyangga rumah saat ajalnya tiba.

Adalah Setio (diperankan Heru Purwanto), seorang pemuda dari desa miskin jatuh cinta dengan Asih (diperankan Asmara Abigail), seorang putri bangsawan Jawa. Lamaran yang ditolak membuat Setio mencari keberuntungan melalui kesepakatan dengan iblis (diperankan Luluk Ari) yang dikenal sebagai “Pesugihan Kandang Bubrah” untuk mencari kekayaan dan nantinya dapat melamar Asih.

Setio akhirnya menjadi kaya dan kawin dengan Asih, mereka hidup bahagia dalam rumah Jawa yang megah. Asih kemudian mengetahui bahwa suaminya menjalani laku pesugihan kandang bubrah akhirnya menemui setan pesugihan dan meminta pengampunan pada setan agar suaminya tidak menjadi tiang penyangga rumah pada saat kematiannya.

Selain di Melbourne, Australia, Setan Jawa juga akan dipentaskan di Amsterdam, Belanda pada Juni 2017; Singapura pada Juli 2017 dan London, Inggris pada November 2017.

Editor: Yudho Raharjo

Top