NAVIGATION

TRENDING POSTS

1 Highlight | Hotel | Millenium Hotel Sirih Jakarta

Sambut Tahun Baru 2017 Bersama Millennium Hotel Sirih Jakarta

2 Gaya Hidup | Tekno

Parenting di Era Digital

3 Articles | Event | Flash News | Uncategorized

Personal Branding and Leadership Workshop di #RoadToEFest2014

Broken Heart Galery, Barisan Patah Hati di Hari Penuh Cinta

Broken Heart Galery, Barisan Patah Hati di Hari Penuh Cinta

Your Lead Paragrpah goes here

Marketplus.co.id –  Momen seputar cinta tidak selalu tentang coklat, bunga, perhiasan, atau hal-hal manis lainnya. Menjelang Hari Valentine 14 Februari 2017, Plaza Indonesia menjadi tempat penyelenggaraan Broken Heart Galery.

“Dalam rangka Hari Valentine, kami mengambil sudut pandang yang berbeda dari umumnya, yang banyak mengangkat kisah cinta manis dan indah,” ujar Zamri Mamat, General Manager Marketing & Communications Plaza Indonesia pada malam pembukaan, Kamis, 9 Februari 2017.

Pandora’s Box karya Wickana Laksmi Dewi. {market+/Agus Siswanto}

Menurut Zamri, cinta juga penuh dengan kekecewaan. Broken Heart Galery tak lantas menekankan sisi menyakitkan saja, tapi lebih sebagai upaya menghargai proses manusia menemukan cinta. “Justru dengan mengingat momen patah hati, kita bisa menghargai cinta yang kita punya saat ini.”

Broken Heart Galery merupakan pameran seni instalasi yang menampilkan tafsir patah hati dari 14 seniman muda Indonesia. Yaitu Ika Vantiani, Wickana Laksmi Dewi, Ayu Dila Martina, Muhammad Taufiq (EMTE), Evelyn Pritt, Abimantra Pradhana, Sekar Puti, Varsam Kurnia, Monica Hapsari, Resatio Adi Putra, Rebellionik, Diela Maharanie, Muchlis Fachri, dan Adi Sundoro.

“Barisan patah hati,” komentar sebut Muhammad Taufiq di akun instagramnya, @emteemte.

Meladori Magpie, karya Muhammad Taufiq. {market+/Agus Siswanto}

Ilustrator yang akrab disapa Emte itu menampilkan tafsir patah hati dalam wujud kotak keramik, diberi judul “Meladori Magpie”. Baginya, akar dari patah hati ialah harapan. Dan kotak keramik menggambarkan hati manusia yang sebetulnya sangat rapuh.

“Kita pura-pura menganggap semua baik-baik saja. Kita tutupi seolah menyembunyikankan sesuatu di dalam boks,” sebut Emte yang baru kali pertama menggarap karya di atas medium keramik ini.

Dikuratori oleh Aisha Habir dan Rega Ayundya, karya 14 seniman dalam Broken Heart Galery itu cukup memberi warna dari aspek yang beragam. Patah hati tak selalu dimaknai sesuatu yang muram. Diela Maharani misalnya, menawarkan sisi “Habis Gelap Terbit Terang” dalam karyanya. Ia yang biasa bermain ekpresif dengan warna-warna terang dan sosok perempuan, menafsirkan momen patah hati sebagai momen untuk tumbuh.

Tumbuh, karya Diela Maharani. {market+/Agus Siswanto}

Karya Diela, diberi judul “Tumbuh” merupakan karya sulam benang yang detil pada area kerja kain 30×30 cm, menampilkan wajah perempuan dengan banyak bunga tumbuh dan bermekaran di sekelilingnya. Bagi Diela, patah hati mungkin mengakhiri sebuah cerita. Tapi sekaligus juga jadi penanda untuk bangkit lagi, menyambut cinta berikutnya.

Dalam pameran ini, seni instalasi terasa dekat dan relevan dengan cerita percintaan pada umumnya. Sejumlah pengunjung yang hadir Senin, 13 Februari 2017, sehari sebelum Valentine mengaku cukup terwakili dengan materi pameran. “Menarik sih.  Patah hati yang umum dialami, bisa menjadi sebuah karya seperti ini,” ujar Rahmadia Putri, karyawan swasta yang mengaku tak sengaja mampir ke pameran di Lantai 4 Plaza Indonesia itu.

Hole in My Heart, Hole in My Wallet, karya Ika Vantiani. {market+/Agus Siswanto}

Putri sendiri berdiri di depan instalasi karya Ika Vantiani, berwujud sebuah mesin kasir model engkol. Ika mengaitkan tingkat konsumsi dengan patah hati. Saat patah hati, banyak orang meyakini bahwa retail therapy alias belanja sana sini, dapat membantu mengatasi luka lebih cepat. Padahal, lubangnya bisa-bisa justru makin dalam.

“Patah hatinya sembuh, tapi bangkrut,” kata Putri,  lalu terbahak.

Adapun Rony Rahardian alias @Rebellionik, menampilkan instalasi dari panel berlampu, bergambar mulut yang terbuka, siap menelan sebuah pil. Rony memberi judul “M.KTBUA”, singkatan dari “Maaf, Kamu Terlalu Baik untuk Aku”. Alasan klise saat putus itu ditafsirkan Rony seperti menelan pil pahit.

Lewat instalasi itu, ia ingin membangunkan kenangan orang tentang kata-kata tersebut. Tersedia tumpukan kartu pos, tempat pengunjung dapat menulis apa yang menjadi isi hati mereka, lalu ikut memamerkan di instalasi tersebut.

Unicef Indonesia juga berpartisipasi di eksibisi ini lewat panel dan gembok. Bagi pengunjung yang berdonasi Rp50.000, mereka akan mendapatkan gembok, yang dapat dipasangi pesan dan digantungkan di panel. Pesannya: patah hati bisa teratasi dengan banyak memberi.

Unicef Indonesia. {market+/Agus Siswanto}

Sisi muram sebuah patah hati, tak hanya bisa diekspresikan dalam kegalauan tak berujung. Tapi juga menjadi sebuah karya seni. Broken Heart Galery masih berlangsung hingga 28 Februari 2017 di Lantai 4 Plaza Indonesia, Jakarta.

Editor: Yudho Raharjo

Top