NAVIGATION

TRENDING POSTS

1 Hotel | Hotel

Ekspansi Parkside Hotels & Resorts di Tanah Air

2 Highlight | Hotel | Millenium Hotel Sirih Jakarta

Sambut Tahun Baru 2017 Bersama Millennium Hotel Sirih Jakarta

3 Gaya Hidup | Tekno

Parenting di Era Digital

Tips Meraih Omset Tinggi di Marketplace

Tips Meraih Omset Tinggi di Marketplace

Timothius Martin, Head of Performance and Branding Matahari Mall (Kiri) bersama Sayed Muhammad, CEO dan Founder LocalBrand.co.id dalam acara EHUB Weekend, Sabtu, 21 Januari 2017.

Pilih marketplace yang relevan dengan produk.

Marketplus.co.id – Makin banyaknya marketplace yang menarget konsumen di Indonesia harus dioptimalkan menjadi kanal penjualan produk dan jasa UMKM.

“Produk Anda harus hadir di banyak tempat, enggak cukup cuma satu tempat,” ujar  Sayed Muhammad, CEO dan Founder LocalBrand.co.id dalam acara EHUB Weekend, di Jakarta, Sabtu, 21  Januari 2017.

Dalam acara  bertajuk Retail Strategy for E-commerce Platform itu, Sayed juga menyebutkan lima besar marketplace yang menyasar target pasar di Indonesia. Antara lain, Mataharimall, Lazada, Elevania, Bukalapak, dan Tokopedia.

“Brand tetap harus punya website. Tapi pastikan brand Anda bisa ditemukan di marketplace, karena itu ibarat mal besar-nya,” jelas Sayed.

Jika hanya mengandalkan pada website dan akun media sosial, pemilik bisnis akan kesulitan menggiring calon pembeli membeli produknya. “Butuh dana tidak sedikit.”

Namun, jika bergabung dengan marketplace, maka upaya pemasaran bisa lebih dioptimalkan demi omset tinggi.

“Website mereka sudah banyak dikunjungi orang. PR selanjutnya ialah bagaimana berkompetisi dengan penjual lain yang sama-sama berjualan di marketplace tersebut,” kata Sayed.

 

Menang di Marketplace

Jika sudah menjadi salah satu tenant di marketplace,  pebisnis tak bisa langsung duduk manis menunggu pesanan. Sebab, upaya pemasaran masih harus dilakukan. Apalagi jika banyak penjual serupa.

“Mungkin Anda masih harus bersaing dengan ratusan pedagang lain. Tapi itu jauh lebih baik ketimbang bersaing dengan marketplace di Google,” ujar Sayed.

Langkah awal sebelum memutuskan membuka toko di marketplace ialah melakukan riset karakter marketplace. Sangat penting untuk memilih marketplace yang relevan dan sesuai dengan produk.

“Jadi, pilih yang relevan. Tidak semua marketplace cocok untuk produk Anda,” ujarnya.

Jika sudah menemukan marketplace yang sesuai, lakukan strategi harga yang tepat. Menurunkan margin keuntungan di setiap marketplace, bukanlah langkah bijak. Sebab, tidak semua produk yang laku ialah produk yang murah. Sayed memberi contoh. Ada marketplace yang sukses di kategori harga Rp100 ribuan, tapi ada juga marketplace dengan produk-produk yang lebih laku apabila dijual di atas Rp200 ribu.

Selanjutnya, yang paling penting ialah  investasi pada foto produk. “Itu kesempatan terbesar membangun trust dari calon konsumen,” tambah Sayed.

Multichannel vs omnichannel 

Dalam dunia online marketing, dikenal istilah multichannel dan omnichannel. Keduanya menggunakan banyak kanal pemasaran, termasuk memadukan kegiatan offline dan online.  Yang membedakan ialah experience konsumen.

Strategi omnichannel lebih menitikberatkan pada kesamaan persepsi konsumen. Mulai dari harga, bentuk, bahkan kemasan. “Ibaratnya, mau beli dimanapun, konsumen mendapatkan pengalaman yang sama tentang produk kita,” ujar Sayed.

Namun, dalam multichannel marketing, produk bisa disampaikan dengan pendekatan berbeda. Misalnya, penjual baju. Bisa saja menjual corak dan warna berbeda di marketplace yang berbeda, meski brand-nya sama. Bisa juga dengan membedakan harga.

“Tidak ada patokan mana yang lebih baik. Sesuaikan saja dengan strategi bisnis masing-masing,” kata Sayed.

Timothius Martin, Head of Performance and Branding Matahari Mall mengingatkan, kegiatan offline juga dapat mendatangkan traffic gratis ke website  dan social media awareness.

“Media sosial memang bukan kanal penjualan. Tapi bisa meningkatkan awareness.”

Editor: Yudho Raharjo

Top