NAVIGATION

Properti Lesu, Apartemen dan Perkantoran di Jakarta Kelebihan Stok

Properti Lesu, Apartemen dan Perkantoran di Jakarta Kelebihan Stok

Investasi properti di Indonesia masih lesu pada 2017. (Dok.Pexels)

Harga apartemen cenderung masih tinggi, tapi minim permintaan.

Marketplus.co.id – Tahun 2017, investasi properti belum akan menunjukkan hasil menggembirakan. Senior Associated Director Colliers International Ferry Salanto mengungkapkan,  sektor properti belum bangkit sepenuhnya pada 2016 seperti yang diharapkan pemerintah.

“Pasokan unit properti, seperti perkantoran dan apartemen sudah berlebih. Akibatnya, pertumbuhan harga properti, seperti apartemen, cenderung melambat,” ujar Ferry saat memaparkan “Jakarta Property Market”, di Jakarta, Kamis, 5 Januari 2017.

Berdasarkan hasil riset dari Konsultan Properti Colliers International, investasi properti perkantoran dan apartemen belum dapat diandalkan pada 2017.  Meski masih ada permintaan, namun stok yang ada cenderung berlimpah. “Kebutuhan permintaan ruang perkantoran hanya sekitar 250 ribu hingga 300 ribu meter persegi setahun. Padahal, ruang untuk perkantoran sudah bertambah mencapai 731 ribu meter persegi tahun ini,” katanya.

Penambahan ruang tersebut otomatis memperbesar pasokan sebelumnya yang mencapai 5,5 juta meter persegi. Sementara, menurut Ferry,  perusahaan besar cenderung membangun properti mereka sendiri dibandingkan menyewa unit di gedung. Terkait lokasi, Sudirman Central Business District (SCBD) masih lebih diminati, dibandingkan dengan kawasan perkantoran lainnya.

Tak jauh beda dengan perkantoran, pertumbuhan apartemen yang mencapai 16.8% pada tahun 2016 menyebabkan kapasitas berlebih yang tak bisa diserap pasar. Berdasarkan perkiraan Colliers, pasokan apartemen pada 2017 akan mencapai 28 ribu unit dan pada 2018 bertambah lagi sebanyak 24,3 ribu unit. Sementara permintaan masyarakat masih rendah.  “Harga masih dipertahankan tinggi, sementara kemampuan pasar belum sepenuhnya pulih,” tambah Ferry.

Secara nilai, harga apartemen di lokasi premium masih naik sekitar 4%, meski minim peminat. Pertumbuhan ekonomi yang masih lambat berdampak pada turunnya permintaan ekspatriat. Sementara ekspatriat asal China, saat ini tercatat 21.000 pekerja, lebih suka menghindari kawasan Jakarta Selatan demi mendapatkan harga properti lebih terjangkau.

Meski investasi properti apartemen dan perkantoran masih belum akan memberikan hasil positif, Ferry menyebutkan adanya sinyal pemulihan pasar yang terlihat dari penjualan lahan. Penjualan lahan industri di Jakarta Raya sepanjang 2016 tercatat 174,9 hektare. Jumlah tersebut hanya 50,5% dari realisasi penjualan sepanjang 2015 yang mencapai 345,7 hektare. Penjualan lahan sepanjang tahun itu mengalami peningkatan dari kuartal ke kuartal. Penjualan lahan di kuartal IV/2016 mencapai 68,7 hektare, jumlah tertinggi dibandingkan tiga kuartal sebelumnya.

“Masih lemah, tapi peningkatan volume penjualan secara gradual merupakan sinyal pemulihan pasar,” sebutnya.

Ia juga menambahkan,  industri yang terkait dengan konsumsi seperti consumer goods, dan makanan bakal mendorong penjualan lahan.

Editor: Sica Harum

Top