NAVIGATION

Kebijakan Trump Tak Terlalu Berpengaruh untuk Indonesia

Kebijakan Trump Tak Terlalu Berpengaruh untuk Indonesia

Waspadai pasar finansial.

Marketplus.co.id – Proteksi perdagangan yang diduga banyak pihak akan dilakukan Amerika Serikat setelah Donald Trump dilantik menjadi Presiden Amerika Serikat Tahun depan, dinilai tidak akan banyak berpengaruh bagi Indonesia.  “Kalau Trump ingin melakukan proteksi perdagangan, tentu AS akan menyasar negara-negara yang surplus perdagangannya dengan AS,” ujar Ekonom Mandiri Sekuritas Leo Putra Rinaldy di di Plaza Mandiri, Jakarta, Kamis, 22 Desember 2016.

Dibandingkan dengan perdagangan Tiongkok- AS yang mencatatkan surplus 260 miliar dolar AS, surplus Indonesia- AS hanya mencatatkan 8 miliar dolar AS. Justru menurutnya, Indonesia justru harus mewaspadai gejolak ekonomi di Tiongkok, sebab memberi dampak lebih besar terhadap perekonomian Indonesia. “Setiap satu persen pertumbuhan GDP Tiongkok bakal berpengaruh pada 0,1 persen pertumbuhan Indonesia,” katanya.

Meski begitu, Leo menilai kebijakan Trump akan berdampak sampai ke Indonesia di pasar finansial. “Bond rate di AS sangat berpengaruh ke pasar finansial kita,” kata Leo.

Tumbuh 5,1%

Meski kondisi perekonomian global masih dalam ketidakpastian, tim ekonom Bank Mandiri memprediksi pertumbuhan Indonesia mencapai 5,1% tahun depan. “Sedikit lebih baik dibanding tahun ini,” ujar
Kepala Ekonom Bank Mandiri Anton Gunawan.

Ia menyebutkan, beberapa negara maju belum sepenuhnya pulih dari pelambatan ekonomi sehingga memengaruhi kondisi ekonomi global yang berdampak pada perekonomian domestik.  “Ada fenomena politik maupun ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat (AS) maupun Eropa. Jepang juga belum keluar masalah deflasi,” katanya.

Dari sisi inflasi, tim Anton memperkirakan angka iflasi Indonesia akan berada di kisaran 4,2%. Rencana pemerintah untuk melakukan penyesuaian tarif listrik, disebut Anton, bakal mendorong inflasi.

Sebelumnya, pemerintah menargetkan perekonomian nasional tumbuh sebesar 5,1 persen dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017.

Editor: Yudho Raharjo

Top