NAVIGATION

Singapore Biennale 2016 Hadirkan An Atlas of Mirrors

Singapore Biennale 2016 Hadirkan An Atlas of Mirrors

Juga diikuti tujuh seniman asal Indonesia.

Marketplus.co.id –  Singapore Biennale 2016, satu dari pameran seni visual kontemporer paling bergengsi di Asia, dibuka untuk umum mulai 27 Oktober 2016 hingga 26 Februari 2017. Dengan judul An Atlas of Mirrors, tahun kelima kali ini menampilkan karya dari 63 seniman dan komunitas dari 19 negara Asia Tenggara, Asia Timur, serta Asia Selatan.

An Atlas of Mirrors mengacu pada peta dan cermin yang selama ini menjadi instrumen penting bagi penjelajahan manusia dalam perjalanan menuju dunia baru,” ujar Dr. Susie Lingham, Creative Director dari Singapore Biennale 2016 melalui keterangan media tertulis.

Tahun ini, ada tujuh seniman Indonesia yang berpartisipasi memamerkan karya mereka dalam gelaran Singapore Biennale 2016. Yaitu Ade Darmawan, Eddi Susanto, Made Djirna, Made Wianta, Melati Suryodarmo, Titarubi, dan Agan Harahap.

Dari patung dan pahatan hingga film dan seni pertunjukan, karya seni dari berbagai jenis media dikurasi menjadi sembilan tema dan ditampilkan di tujuh lokasi berbeda, dengan Singapore Art Museum (SAM) sebagai lokasi utama. Pameran internasional yang berlangsung empat bulan ini diselenggarakan oleh SAM dan disponsori oleh National Arts Council of Singapore.

Karya seniman Indonesia Titarubi bertajuk History Repeats Itself, dipamerkan dalam Singapore Biennale 2016. (Dok. Singapore Biennale 2016 commission)

Lebih dari 80 persen karya yang ditampilkan adalah karya baru atau adaptasi dari karya-karya sebelumnya. Dengan menampilkan karya baru yang belum pernah muncul di seri Biennale sebelumnya, konsep An Atlas of Mirrors mengeksplorasi tema mengenai ruang, waktu, memori, alam, batasan-batasan, identitas, perpindahan, dan juga ketiadaan.

“Kami harap tema yang mendasari proses kurasi ini akan menggugah penikmat seni untuk mengeksplorasi dan merasakan begitu banyak sudut pandang dalam melihat dunia dan melihat ke dalam diri kita sendiri,” ujar Susie.

Lokasi pameran Singapore Biennale 2016 sendiri meliputi Singapore Art Museum di Bras Basah Road dan SAM at 8Q di Queen Street, serta Asian Civilisations Museum, de Suantio Gallery di SMU, National Museum of Singapore, Stamford Green, dan Peranakan Museum. Berbagai program akan diselenggarakan selama pameran, termasuk tur dan diskusi dengan para seniman dan kurator, pelatihan, acara temu komunitas, dan juga simposium di bulan Januari 2017.

Singapore Biennale 2016 juga menandai peluncuran perdana di Asia untuk Benesse Prize yang diselenggarakan oleh Benesse Holdings, Inc (Benesse) dan SAM. Setelah selama 10 tahun terakhir diberikan di Venice Biennale, pemenang Benesse Prize ke-11 kali ini akan mendapat kesempatan untuk menghasilkan karya yang akan dipamerkan di Benesse Art Site Naoshima. Pemenang juga akan menerima hadiah sebesar 3.000.000 Yen dari Benesse. Penyerahan penghargaan ini akan dilangsungkan di Januari 2017. Seniman-seniman yang masuk dalam nominasi adalah Martha Atienza (Filipina/Belanda), Bui Cong Khanh (Vietnam), Ade Darmawan (Indonesia), Qiu Zhijie (China), dan Pannaphan Yodmanee (Thailand).

 

Editor: Sica Harum

Top