NAVIGATION

Kama Batik Juara Young Social Entrepreneurs 2016

Kama Batik Juara Young Social Entrepreneurs 2016

Kama Batik Mendaur Ulang Limbah Produksi Batik
Novi Anathasya Purba (Kama Batik) mempresentasikan bisnisnya untuk mendaur ulang limbah produksi batik. (Foto: Dok. www.sif.org)

Marketplus.co.id -Kama Batik dari Indonesia terpilih menjadi satu dari enam tim Young Social Entrepreneurs (YSE) Singapore International Foundation (SIF) yang menerima pendanaan untuk proyek kewirausahaan sosial. Besarnya, SGD 20.000 atau sekitar Rp186 juta.

Kama Batik dipimpin Ajeng Hilarysa Pramesti, Dyah Rasyid, dan Novi Anathasya Purba. Kama Batik bertujuan mengumpulkan sampah-sampah perusahaan batik untuk didaur ulang menjadi kalung, gelang, tas, dan hiasan rambut. Dalam prosesnya, mereka akan mengadakan sesi pelatihan berkala bagi para wanita pengangguran untuk dapat dipekerjakan. Kama Batik terpilih menjadi salah satu pemenang karena dinilai baik dalam hal dampak, skalabilitas, dan keberlanjutan perusahaan.

“Saya mendapatkan begitu banyak pengalaman selama mengikuti YSE. Keterampilan bisnis dan pengetahuan yang saya peroleh melalui program ini memiliki peranan penting dalam pertumbuhan bisnis Kama Batik,” kata Novi Anathasya Purba, 22, dari Kama Batik.

Sebelumnya, Kama Batik merupakan bagian dari 35 wirausahawan sosial muda yang terbagi ke dalam 15 tim, mewakili delapan negara. Mereka menjalani 8 bulan program, mulai dari menjalani bimbingan, kunjungan belajar ke luar negeri, hingga mengikuti Pitching for Change pada 21 Oktober 2016.

Peserta Program Young Social Entrepreneurship 2016. FOTO: Dok. www.sif.org
Peserta Program Young Social Entrepreneurship 2016. FOTO: Dok. www.sif.org

“Persahabatan antar-negara yang telah saya bangun selama delapan bulan terakhir membuat saya menyadari bahwa saya tidak sendirian dalam perjalanan menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan bagi masyarakat melalui kewirausahaan,” tambah Novi.

Dalam program ini, semua tim dibimbing sejumlah relawan pembimbing dari McKinsey & Company dan Temasek International. Para peserta juga mendapat kesempatan belajar dari para wirausahawan sosial sukses, pemimpin opini, akademisi, serta pemimpin industri dari beberapa perusahaan untuk mengulik beragam keahlian dalam bidang hukum, keuangan, investasi, dan sumber daya manusia.

Untuk mengembangkan sudut pandang mereka, SIF juga membawa mereka melakukan kunjungan belajar internasional untuk memahami lanskap bisnis sosial di Malaysia. Puncak dari program ini adalah saat peserta mendapat kesempatan mempresentasikan gagasan bisnis mereka kepada para dewan juri dan enam tim yang terpilih menerima pendanaan masing- masing.  

Menurut Karen Ngui, Juri Utama dan Gubernur SIF, generasi muda masa kini adalah katalis perubahan global. Banyak dari mereka sangat inovatif dan digerakkan oleh tujuan sosial yang kuat. Saat mereka bersatu, mereka dapat menjadi agen kunci bagi dampak sosial yang positif. “ Saya percaya program YSE memperkuat hubungan internasional ini dan menjembatani perbedaan budaya untuk mendorong pertukaran gagasan untuk dunia yang lebih baik,” ujarnya.

Program YSE 2016 dari SIF didukung oleh beberapa organisasi termasuk Ashoka dan Asia Philanthropic Ventures, Harvard Club of Singapore, INSEAD, Kellogg HKUST Chapter, SAP, McKinsey & Company, National University of Singapore (NUS) Business School, dan Temasek International.  

Kini, pendaftaran baru untuk program YSE 2017 telah dibuka. Siap jadi juara berikutnya? **(RO)

Top