NAVIGATION

Weekly Review Edisi 21 Maret 2016

Weekly Review Edisi 21 Maret 2016

Berikut adalah ulasan mingguan edisi 21 Maret 2016.

Marketplus.co.id – Zona Amerika: The Fed memutuskan untuk tidak menaikkan tingkat suku bunga pada pertemuan tanggal 16 Maret 2016. Faktor pelemahan ekonomi global serta pasar finansial yang masih rapuh menjadi alasan the Fed menunda kenaikan suku bunga karena dapat berdampak pada perekonomian AS. The FOMC memproyeksikan tingkat suku bunga akan berada di level 0.9% dan 1.9% masing-masing untuk tahun 2016 dan 2017, sehingga diprediksi kenaikan suku bunga akan terjadi sebanyak 2 kali di tahun 2016. The Fed juga mengubah outlook pertumbuhan ekonomi di tahun 2016 dan 2017 masing-masing sebesar 2.2% dan 2.1%.

Zona Eropa: Eropa masih mengalami deflasi di bulan Februari sebesar -0.2% (yoy) sesuai ekspektasi Amerika Serikat : US consumer sentiment index di Agustus hanya berada di level 92.0 di bawah ekspektasi 93.5. Penurunan harapan prospek ekonomi disebabkan oleh beberapa hal antara lain kemungkinan konsensus. Analis memprediksi bahwa dengan kenaikan harga minyak dapat membantu inflasi di zona kenaikan suku bunga, penurunan harga komoditas, devaluasi mata uang China, dan pelemahan ekonomi Eropa setidaknya berada global.

Zona Asia: Pada rapat dewan gubernur tanggal 15 Maret 2016, bank sentral Jepang memilih untuk Dengan adanya devaluasi mata uang Yuan, kenaikan Fed Fund Rate kemungkinan akan mundur ke bulan menahan program stimulus dan lebih fokus untuk melihat dampak atas strategi penerapan suku bunga Desember. Hal ini juga terlihat dari penurunan keyakinan investor akan kenaikan suku bunga US di bulan negatif bulan Januari. Analis memperkirakan bahwa bank sentral Jepang akan memberikan stimulus September walaupun indikator ekonomi US sudah mendukung kenaikan tersebut. tambahan pada bulan Juli karena target inflasi yang ditetapkan cukup tinggi yaitu sebesar 2%.

Zona Indonesia: BI memprediksikan bahwa perekonomian pada kuartal I-2016 akan tumbuh sebesar 5.1% dikontribusikan dari pengeluaran pemerintah dan investasi pemerintah. Belanja pemerintah akan memberikan kontribusi terhadap perekonomian sekitar 11% -12%. Konsumsi sektor rumah tangga masih cukup baik, terindikasi dari indeks keyakinan konsumen dan penjualan retail.

BI juga memprediksi inflasi di bulan Maret 2016 akan meningkat secara bulanan sebesar 0.28% (vs -0.09% di bulan Februari). Sehingga secara tahunan, inflasi di bulan Maret 2016 diprediksi tumbuh sebesar 4.5%. Gubernur BI mengatakan bahwa pada bulan April hingga Juni kewaspadaan terhadap inflasi perlu ditingkatkan karena menjelang bulan Ramadhan.

Kementerian ESDM akan melakukan penurunan harga BBM jenis premium dan solar subsidi pada bulan April 2016.

Screen Shot 2016-03-21 at 2.13.41 PM

Market View: Pasar modal pada pekan lalu mengalami penutupan yang baik di mana IHSG mencatatkan level tertinggi ytd ke level 4.886 dan yield benchmark SUN 10 tahun berada di level 7.62%. Penguatan ini didukung oleh stabilnya harga minyak dunia dan keputusan The Fed untuk menunda kenaikan suku bunga sebagai faktor eksternalnya, sedangkan berita dari dalam negeri terutama kebijakan suku bunga BI di mana BI kembali menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke level 6.75% dan juga data trade balance bulan Februari yang tercatat surplus USD1.1 miliar (di atas estimasi konsensus).

Untuk pasar saham, pencapaian tertinggi IHSG di minggu lalu terutama didukung oleh sektor-sektor yang sensitif terhadap perubahan suku bunga yaitu properti dan aneka industri, yang masing-masing naik sebesar 4.08% dan 4.04%. Asing sendiri kembali mencatatkan pembelian bersih sebesar USD67.4 juta.

Setali tiga uang, pasar obligasi juga mengalami minggu yang baik di mana yield benchmark 10 tahun (FR0056) turun ke level 7.62%. Untuk yield INDON 10 tahun (INDON 26) juga bergerak turun ke level 4.12% sejalan dengan penurunan yield US treasury 10 tahun ke level 1.87% (dibandingkan dengan posisi per 11 Maret 2016 yaitu 1.986%). CDS juga tercatat mengalami penurunan ke level 181.2, yang juga menjadi katalis positif bagi pasar INDON.

 

Kepemilikan asing pada pasar SUN per tanggal 17 Maret 2016 tercatat naik ke level Rp600.3 triliun atau sebesar 38.24% dari total outstanding-nya, turun dibandingkan posisi per tanggal 11 Maret 2016 yaitu sebesar Rp594.94 triliun (38.3% dari total outstanding-nya).

Sampai akhir bulan ini, katalis domestik terutama dari hasil kinerja kuartal IV emiten-emiten dan yang paling ditunggu yaitu penurunan harga BBM. Pemerintah telah mengindikasikan akan menurunkan BBM lebih dari terlihat dari penurunan keyakinan investor akan kenaikan suku bunga US di bulan September walaupun Rp200/liter. Jika penurunan yang terjadi signifikan, hal ini tentunya akan sangat positif untuk ekonomi secara keseluruhan, terutama terhadap daya beli masyarakat.

“Anyone who is not investing now, is missing a tremendous opportunity” ~ Carlos Slim
Screen Shot 2016-03-21 at 2.13.49 PM

 

Top