NAVIGATION

TRENDING POSTS

1 Highlight | Hotel | Millenium Hotel Sirih Jakarta

Sambut Tahun Baru 2017 Bersama Millennium Hotel Sirih Jakarta

2 Gaya Hidup | Tekno

Parenting di Era Digital

3 Food &Beverage | Highlight | Products

Mulai 1 April 2017, Ichitan Bagikan Hadiah Rp300 Juta

Sumpah Pemuda 2.0

Kita ingat 87 tahun lalu, para pemuda merintis kesadaran kebangsaan lewat Sumpah Pemuda yang mengikrarkan satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa Indonesia.

Kini para pemuda dan pemudi Indonesia sebenarnya berada di masa yang terbaik yang pernah ada.  Semangat kebangsaan dijalankan dengan cara berbeda sesuai dengan kapasitas mereka masing-masing.

Irfan Amalee, sahabat saya dari Bandung yang mendirikan Peace Generation.  “Kalau kelompok radikal bisa merekrut anak-anak muda dijadikan radikal, kenapa peacemaker (penggerak perdamaian) enggak bisa?” demikian tutur pemuda yang membuat modul pendidikan perdamaian yang terbit dengan judul “12 Nilai Dasar Perdamaian” bersama Erick Lincoln, konselor remaja asal Amerika Serikat.

Yup, sekarang kita berada di era dimana selama kita punya ide kreatif dan kita mau bersungguh-sungguh menjalankannya, kemungkinan untuk berhasil lebih besar.  Tidak perlu modal besar, yang diperlukan modal kreativitas, network dan usaha yang gigih.

Alanda Kariza, menggagas Indonesia Youth Conference saat masih duduk di bangku kuliah dan berhasil mengumpulkan para aktivis muda dari 33 propinsi di Indonesia sejak tahun 2010.  Atau Wahyu Aditya yang menyelenggarakan Hellofest sebagai wadah untuk para animator nasional. Lalu apa hubungannya dengan tulisan saya kali ini? Yaitu “Nikmati Proses untuk Dapatkan Hasil”.

Ya, Irfan, Alanda dan Wahyu Aditya serta masih banyak pemuda-pemudi yang berhasil memaknai Sumpah Pemuda dengan cara mereka masing-masing dan kalau diambil benang merahnya, mereka bukan pemuda-pemudi instan.  Mereka benar-benar menikmati proses sebelum mendapatkan hasil.

Banyak pemuda dan pemudi kita saat ini, punya mimpi besar dan kerap mencari cara instan untuk berhasil.  Banyak yang dengan mudahnya bertanya, “Bisnis apa yang kira-kira akan sukses tahun depan dan gampang dijalankannya?”  Padahal kalau mau belajar dari teman-teman mereka yang sukses, kebanyakan berhasil karena melalui sebuah proses yang tidak pendek, namun tetap dijalankan dengan suka cita.

Saya menjadi GM Hard Rock Cafe di usia 26 tahun memang terbilang sangat muda, tapi tidak banyak media yang menuliskan bahwa saya meniti karier dari 7 tahun sebelumnya.  Belum lagi bila ditambah pengalaman kerja hampir 4 tahun kerja paruh waktu di majalah HAI sejak saya SMA hingga awal kuliah.  Jadi yang benar adalah inspirasi bahwa usia muda tidak menjadi rintangan untuk kita sukses di usia, namun bukan berarti bahwa kita bisa instan untuk meraihnya.

Saya sangat yakin, 100 juta orang muda Indonesia yang berusia 15-39 tahun cukup kreatif, tinggal bagaimana mereka memanfaatkan saat terbaik ini, bukan hanya untuk meraih kesuksesan pribadi, namun sekaligus bermakna untuk orang banyak.  Bagaimana Sumpah Pemuda menjadi semangat yang positif, karena bukan sekadar bersumpah namun juga bisa berproses dan menikmati hasil yang memang benar-benar hasil proses mereka.

Sejumlah 100 juta adalah 42% dari jumlah penduduk Indonesia saat ini, berbagai data statistik telah menunjukkan bahwa Indonesia kemungkinan akan memasuki masa emas dimana jumlah usia kerja produktif lebih besar dibanding usia tidak produktif.  Tinggal bagaimana pemuda dan pemudi Indonesia memanfaatkan situasi yang (bahkan) jauh lebih baik dari beberapa negara maju saat ini.  Salah satu caranya adalah punya semangat “Nikmati Proses untuk Dapatkan Hasil” niscaya kita benar-benar akan memasuki masa Indonesia Emas.

 

Top