NAVIGATION

Yasha Chatab: Brand Love / Hate

Yasha Chatab: Brand Love / Hate

Yasha Chatab ungkap hubungan antara merk, pengguna, dan image yang terbangun.

Marketplus.co.id – “I like the music, but I hate the fans.” Ini sebuah ungkapan yang cukup umum dalam kalangan pecinta musik.

Ini terjadi saat sebuah band atau seorang penyanyi menghasilkan karya yang kualitasnya baik, namun para penggemarnya dikenal agak menyebalkan atau kelakuannya mengganggu. Misalnya seorang yang dewasa menyukai musik One Direction, tapi kesal bila bersinggungan dengan para fans nya yang masih ABG.

Hal yang mirip terjadi juga dengan brand Harley Davidson. Perusahaan motor yang didirikan tahun 1903 itu mempunyai brand yang ekuitasnya sangat tinggi di dunia. Brand nya sangat kuat, bahkan suara mesinnya pun sangat khas (dan tidak boleh ditiru). Pop culture Barat pun sangat mengagungkan brand ini dalam berbagai bentuk.

Paling efektif dalam bentuk multimedia, di mana kita telah berpuluh-puluh tahun telah melihat di berbagai layar tentang “cool” nya seseorang saat mengendarai brand motor tersebut. Brand itu dapat memberikan perasaan yang antara lain free, rebellious, powerful.

┬áBrand ini pun mendapatkan penggemar yang tinggi di Indonesia sejak puluhan tahun yang lalu. Karena harga motor-motor Harley Davidson termasuk tinggi untuk pasar Indonesia, kepemilikannya menjadi bagian dari status symbol. Masyarakat di berbagai kota besar Indonesia, seperti Jakarta, cukup sering melihat motor-motor “MoGe” ini di jalan-jalan besar, dengan suara mesin yang besar, rombongan yang besar, pengawalan yang besar, dan mungkin juga ego yang besar.

Belum lama ini netizen dihebohkan dengan aksi seorang pengendara sepeda yang berusaha menghentikan rombongan MoGe yang melewati Yogyakarta. Ia menyerukan bahwa pengawalan polisi untuk rombongan MoGe merupakan penyalahgunaan Undang-undang, walaupun pihak konvoi merasa bahwa yang mereka lalukan adalah sah.

Kenapa kejadian itu bisa begitu heboh? Apabila kita search di internet, sudah ada berapa banyak kasus seperti ini atau yang mendiskreditkan pengendara MoGe, khususnya brand Harley Davidson?

Pelanggaran aturan lalu lintas dilakukan oleh manusia yang mengendarai mobil dan motor berbagai brand. Namun bila manusianya mengendarai brand Harley Davidson, hampir selalu jadi heboh.

Apakah ini salah Harley Davidson yang membuat brandnya terlalu keren sehingga pengendaranya jadi merasa terlalu cool? Apabila iya, then the brand is too good, it makes the riders “bad”.

Yasha Chatab

Group Business Development Director

WIR Group Indonesia

@MrYasha

Top